Nasional

1.000 Warga Vietnam Bakal Dicuci Otaknya di Indonesia

http://www.drenglund.com.au/medical-services/diagnostics/digital-subtraction-angiography/

Prosedur Digital Substraction Angiography (sumber foto: Drenglund.com.au)

Sebanyak 1.000 warga Vietnam dijadwalkan akan dicuci otaknya di Indonesia. Rupanya, informasi mengenai metode cuci otak dr Terawan Agus Putranto telah sampai ke negeri jiran tersebut. April silam, metode ini menimbulkan kontroversi di dunia kedokteran Indonesia. Ikatan Dokter Indonesia (IDI) sempat memecat Terawan dari keanggotaannya, namun menundanya setelah dikritik banyak pihak termasuk sejumlah tokoh seperti Aburizal Bakrie hingga Prabowo

Melalui keterangan tertulis seperti dilaporkan Antara, disebutkan bahwa sebanyak 1.000 warga Vietnam akan melakukan terapi cuci otak melalui Digital Substraction Angiography (DSA). Nota kesepahamannya ditandatangani langsung oleh Terawan dan Duta Besar Vietnam untuk Indonesia, Pham Vinh Quan. Ini juga merupakan bagian dari program “medical tourism” yang dikembangkan RSPAD bekerjasama dengan Kementerian Pariwisata dan Clinique Suisse.

Meski metode cuci otak melalui DSA sempat dipertanyakan IDI, namun Terawan memastikan metode ini kini sudah mendapatkan izin dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes), begitu juga dengan peralatan dan obat-obatan yang digunakan, yang menurutnya juga telah melalui uji klinis. Saat IDI menyatakan menunda pemecatan Terawan April lalu, IDI menyerahkan keputusan selanjutnya kepada Kemenkes.

Kepala RSPAD Gatot Subroto ini menyebutkan bahwa warga Vietnam yang akan dilayani menggunakan terapi DSA maksimal sebanyak lima orang per hari. RSPAD Gatot Subroto menurutnya memiliki tiga ruangan untuk terapi DSA. Dengan kapasitas tersebut, setiap hari pihak rumah sakit bisa melakukan 30 kali prosedur terapi.

Postcomended   Penggemar Cemaskan Penampakan Terbaru Johnny Depp

Menurut Terawan, tarif prosedur DSA adalah sekitar Rp 20-25 juta (di luar pemeriksaan penunjang). Tarif ini tidak dibedakan bagi siapapun termasuk bagi “turis” Vietnam tersebut. Terawan menyebutkan, metode DSA sudah dilakukan di banyak negara.

“Pasien dari mancanegara banyak datang ke sini. Namun manajemennya masih crowded. Padahal pasien butuh terlayani dengan baik, sehingga kita gandeng pihak lain,” kata  Terawan. Untuk itulah Terawan mengaku telah  bekerja sama dengan Kementerian Pariwisata dan Clinique Suisse tersebut. Dia berharap ilmu DSA akan makin berkembang di masa depan, dan menjadi kebanggaan Indonesia.

Deputi Pemasaran Pariwisata II, Nia Niscaya, dari Kementerian Pariwisata, mengapresiasi program ini. Menurutnya “medical tourism” adalah salah satu cara mendatangkan wisatawan. “Program Dokter Terawan salah satu bagian dari atraksi wisata. Orang dari luar negeri datang ke Jakarta tak hanya berobat, tapi bisa mendapat fasilitas akomodasi yang baik. Model promosi ini bagus,” ujar Nia, pada kesempatan sama. Terawan menambahkan, program ini diharapkan akan menimbulkan efek berganda ketika turis juga selain berobat juga berlibur dan berwisata mengeksplorasi Jakarta.

Postcomended   17 Mei dalam Sejarah: Pembakaran Memoar Lord Byron, Kejahatan Terbesar dalam Sejarah Sastra

Kontroversi DSA

Mengenai metode DSA ini, saat kontroversi mencuat pada April lalu, pihak IDI menganggap apa yang dilakukan Terawan sebenarnya bukan metode penyembuhan, melainkan sekadar suatu “alat diagnosis”. Namun banyak pihak mengaku telah merasakan manfaat dari metode DSA yang dilakukan Terawan, sebut saja Dahlan Iskan, Aburizal Bakrie, hingga jendral-jendral purnawirawan seperti Tri Sutrisno, Susilo Bambang Yudoyono, AM Hendropriono, dan Prabowo Subianto.

Ketika muncul isu IDI berniat memecat Terawan dari keanggotaan IDI, mereka membelanya. Aburizal melalui akun Instagram-nya misalnya mengatakan, metode “cuci otak” oleh dokter Terawan telah mencegah maupun mengobati puluhan ribu orang dari penyakit stroke.

Namun reaksi keras dating antara laon dari Moh. Hasan Machfoed, Ketua Umum Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia. Dia mengatakan, metode “cuci otak” Terawan sebenarnya hanya alat diagnosis suatu gejala penyakit. “DSA itu alat diagnosis, namun oleh Dokter Terawan dijual sebagai pengobatan stroke. Bahkan lebih celakanya lagi, orang menganggap (melalui metode DSA-nya itu) bisa terhindar dari stroke,” ujar Machfoed.

Profesor neurologi Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga ini menjelaskan, DSA adalah tindakan lazim di dunia kedokteran, yakni alih-alih menyembuhkan stroke, DSA sekadar untuk memeriksa gejala gangguan pembuluh darah di otak (stroke iskemik). Pada waktu itu Terawan membela diri dengan menyebut bahwa metodenya ini menggunakan DSA yang dimodifikasi, sehingga dapat membersihkan penyumbatan pada pebuluh darah menuju otak yang berpotensi menyebabkan stroke. Untuk menyimak beritanya lebih lanjut dapat dilihat di sini.(***/dariberbagaisumber)

Postcomended   Tantrum Trump Ancam Meletusnya Konflik Baru di Timur Tengah

 

 

Share the knowledge
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

To Top