Internasional

1 November dalam Sejarah: Bintang Pertama dari Peristiwa “Big Bang” Mulai Berkedip #SURUHGOOGLEAJA

Share the knowledge

Kredit: Kolaborasi LAT NASA/DOE/Fermi, via Phys.org

Plot ini menunjukkan lokasi dari 150 blazars (titik hijau) yang digunakan dalam studi EBL. Peta latar belakang menunjukkan seluruh langit dan dibangun dari empat tahun sinar gamma dengan energi di atas 10 miliar elektron volt yang dideteksi oleh Fermi. Pesawat galaksi Bimasakti kami berjalan di sepanjang bagian tengah plot. Instrumen Fermi LAT adalah yang pertama mendeteksi lebih dari 500 sumber dalam rentang energi ini. Kredit: Kolaborasi LAT NASA / DOE / Fermi

Pada tanggal ini, 1894, temuan vaksin difteri diumumkan dari Paris. Di tahun 1922, Mustafa Kemal Ataturk memproklamasikan Republik Turki dan mengakhiri Kekaisaran Ottoman: Konstantinopel (Istanbul) diambil alih dari Sultan Mehmed VI. Di abad ke-21, tepatnya 2012, ada dua momen menarik. Pertama: Google Mail alias Gmail menjadi layanan email paling populer di dunia, mengalahkan pendahulunya, Yahoo Mail. Kedua: para astronomer mendeteksi cahaya dari bintang-bintang pertama yang lahir 500 juta tahun setelah “Big Bang”.

Pada tanggal ini tahun 2012, para peneliti dari NASA Fermi Gamma-ray Space Telescope, mengumumkan temuan ketika bintang-bintang pertama dari 500 juta tahun setelah peristiwa “big bang”, sampai ke Bumi. Diansir laman National Geographic, selama ratusan juta tahun setelah peristiwa “Big Bang” itu, alam semesta benar-benar gelap.

Temuan ini dipublikasikan di jurnal Science pada tanggal tersebut. Para ilmuwan Fermi mengatakan, berdasarkan data yang diperoleh dari pancaran radiasi energi tinggi yang dipancarkan sejak lama, mereka sekarang tahu bahwa bintang-bintang hadir setidaknya sejak 500 juta tahun setelah “Big Bang”, yang melahirkan alam semesta sekitar 13,75 miliar tahun yang lalu.

Postcomended   23 Januari dalam Sejarah: Westerling dan Sultan Pontianak Perancang Garuda, Pimpin Kudeta APRA

“Kami belum bisa memastikan kapan bintang-bintang pertama mulai bersinar, tetapi kami telah mengintip ke masa ketika alam semesta kita mulai terjadi,” kata rekan penulis studi tersebut, Marco Ajello, astrofisikawan Universitas Stanford.

Dilansir laman Space.com, Ajello menjelaskan, tak lama setelah  Big Bang 13,7 miliar tahun yang lalu itu, alam semesta cukup dingin untuk membiarkan atom terbentuk, yang akhirnya mengelompok bersama untuk menciptakan bintang-bintang pertama. Sejak bintang-bintang ini menyala, cahayanya telah mengisi alam semesta, menciptakan cahaya yang menyebar ke seluruh ruang yang kemudian ditambahkan oleh setiap generasi bintang yang lahir berikutnya.

Para astronom telah mendeteksi cahaya ini, yang disebut “extragalactic background light” (cahaya latar belakang ekstragalaktik), disingkat EBL, dan telah memisahkan cahaya itu dari cahaya bintang-bintang (yang lahir) berikutnya; mengisolasi kontribusi dari bintang-bintang pertama yang pernah ada.

Postcomended   8 Juli dalam Sejarah: Erector Set Dipatenkan dan Menjadi Mainan Terpopuler Sepanjang Masa

“EBL adalah ensemble foton yang dihasilkan oleh semua bintang dan juga semua lubang hitam di alam semesta,” kata Ajello yang juga peneliti di SLAC National Accelerator Laboratory di California, AS.  “EBL juga mencakup cahaya bintang-bintang besar pertama yang pernah bersinar. Kami memiliki pengetahuan yang cukup baik tentang cahaya yang dipancarkan oleh bintang ‘normal’. Dengan demikian, dengan mengukur EBL kita dapat membatasi cahaya bintang-bintang pertama,” kata Ajello.

Ajello dan timnya tidak mengukur EBL secara langsung, tetapi mereka mendeteksinya dengan menganalisis pengukuran lubang hitam jauh yang dibuat oleh Fermi. Fermi mempelajari cahaya dari objek yang disebut blazars, yang merupakan lubang hitam raksasa yang melepaskan banyak cahaya sementara melahap sejumlah besar zat.  “Kami menggunakan blazars sebagai mercusuar kosmik,” kata Ajello.

Postcomended   Inilah Calon Penumpang Berbayar Pertama SpaceX untuk Keliling Bulan

Penelitian ini mampu menyelidiki cahaya yang dipancarkan oleh bintang-bintang yang ada ketika alam semesta berusia hanya 0,6 miliar tahun atau lebih; relatif masih bayi. Bintang-bintang pertama ini dianggap sangat berbeda dari bintang-bintang yang terbentuk saat ini. Secara umum, mereka jauh lebih masif, berisi ratusan kali massa matahari kita, dan terbakar lebih panas, lebih cerah, dan untuk masa hidup lebih pendek daripada bintang saat ini.***


Share the knowledge
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

To Top