Mustafa Kemal Ataturk (kedua dari kiri depan) di tengah pasukannya (https://s3-ap-southeast-2.amazonaws.com/awm-media/collection/P01141.001/screen/4084526.JPG)

Hari ini, pada 1922, Mustafa Kemal Ataturk mengambil alih Konstantinopel (kini Istanbul) dari Sultan Mehmet VI. Dia lalu memroklamasikan Republik Turki dan mengakhiri Kekaisaran Ottoman. Runtuhnya kekaisaran Ottoman menjadi klimaks perang 1918-1923 yang melibatkan Inggris, Prancis, dan Yunani.

Gencatan senjata pada 31 Oktober 1918, mengakhiri pertempuran antara Kekaisaran Ottoman dan Sekutu namun tidak membawa stabilitas atau perdamaian ke wilayah tersebut. Inggris menguasai Suriah, Palestina, dan Mesopotamia (Irak). Pasukan Inggris, Prancis dan Yunani bersiap untuk berbaris menyeberangi perbatasan Bulgaria dan menduduki Ottoman Thrace dan Konstantinopel.

Sultan Mehmed VI, takut bakal digulingkan. Sekutu bagaimanapun tahu bahwa dia adalah seorang boneka dan berharap agar retensinya akan membantu memastikan stabilitas pasca perang. Stabilitas sangat dibutuhkan.
Pemerintah Turki Muda yang dipimpin oleh Enver Pasha telah runtuh pada hari-hari menjelang gencatan senjata. Enver, Kemal, dan Talat Pasha lari dari Turki untuk mencari perlindungan di Jerman.
Hukum dan ketertiban benar-benar diberlakukan di banyak tempat: memadamkan ketegangan etnis dan agama yang meletus menjadi kekerasan, sementara banyak desertir beralih menjadi bandit yang menjarah perdesaan.
Sekutu berbaris menuju Konstantinopel dengan tujuan menguasai wilayah Anatolia yang luas. Dalih mereka adalah restorasi ketertiban, namun rencana ini juga mencerminkan syarat penyelesaian damai yang mereka susun.
Jelas bahwa negara Ottoman pasca perang tidak akan mengambil seluruh Anatolia. Kemungkinan ini mencemaskan mayoritas orang Turki, karena bagi mereka Anatolia adalah jantung mereka
Pada November 1919, tampaknya tinggal sedikit yang bisa dilakukan pemerintahan Ottoman untuk menghentikan Sekutu. Sisa-sisa dari dua pasukan tentara Ottoman yang hancur akibat serangan Inggris terakhir di Palestina dan Suriah, perlahan-lahan berkumpul kembali di bawah komando Mustafa Kemal di Cilicia, sebelah utara Aleppo.
Di Mesopotamia, Angkatan Darat Keenam Ottoman yang sudah usang namun masih utuh, berkumpul kembali di utara Mosul dan menantikan perintah. Jauh ke selatan di Arabia, Jenderal Fakhri Pasha dan garnisunnya yang terkepung dan bertahan di Madinah, telah dengan kejam menentang serangan Arab selama lebih dari dua tahun. Fakhri tidak menyerah sampai Februari 1919.
Satu-satunya pasukan tentara Ottoman yang layak disebut namanya adalah orang-orang yang dikirim Enver untuk menyerang Kaukasus dan Persia bagian utara. Mereka akan membutuhkan setidaknya enam bulan untuk kembali ke Anatolia dan bubar.
Pada titik inilah Mustafa Kemal –lebih dikenal sebagai Kemal Ataturk– muncul sebagai tokoh terkemuka. Merek nasionalisme Turki-nya sangat berbeda dengan cita-cita pan-Turki Enver Pasha. Kemal percaya, Kekaisaran Ottoman yang dulu hebat kini telah menjadi beban bagi orang Turki yang sekarang membutuhkan tanah air mereka sendiri.
Dia dan para pendukungnya berusaha mendirikan negara Turki baru yang berbasis di Anatolia, tempat sebagian besar penduduk Turki kekaisaran secara tradisional tinggal. Untuk mempersiapkan perjuangan di depan, Kemal dan nasionalis lainnya mulai menyembunyikan senjata dari tim pelucutan senjata Sekutu dan mendorong terbentuknya milisi sipil Turki setempat dan aliansi politik antar kelompok nasionalis.
Mereka juga mencoba membagi-bagi Sekutu melalui intrik politik. Ancaman militer terbesar terhadap nasionalis Turki berasal dari orang-orang Yunani, yang klaimnya terhadap Anatolia barat, Thrace, dan Constantinople timur, diperkuat oleh populasi etnis Yunani yang besar di wilayah tersebut.
Pada 15 Mei 1919, pasukan Yunani menduduki kota pelabuhan kuno Smyrna (Izmir). Pada bulan berikutnya, lebih banyak pasukan Yunani yang tiba secara bertahap memperluas kendali mereka jauh ke pedesaan Anatolia barat.
Bentrokan pasukan ini dengan warga sipil Turki, meningkatkan sentimen nasionalis warga Turki. Sementara itu, tentara Italia mendarat di Anatolia barat daya untuk memperkuat klaim mereka terhadap wilayah tersebut.
Ketika sikap Turki mulai mengeras, pemerintah Ottoman-sementara mendapat tekanan dari Sekutunya untuk menekan kelompok nasionalis tersebut. Namun mereka enggan dipaksa untuk bertindak.
Dalam menghadapi tindakan keras ini, pada tanggal 23 April 1920 kaum nasionalis mengadakan Majelis Nasional Agung di Ankara, jauh di pusat Anatolia. Mereka memilih Mustafa Kemal sebagai presiden pertamanya, yang secara efektif membentuk pemerintahan alternatif.
Aksi sepihak ini memicu perang sipil pendek tapi brutal, yang baru berakhir hanya jika rincian Perjanjian Sèvres dipublikasikan pada Agustus.
Orang-orang Turki dari semua pengaruh politik mulai bersatu di belakang Majelis Nasional Agung, yang sama sekali menolak perjanjian tersebut.
Pertengkaran dengan Sekutu pun tampak tak terhindarkan. Hingga pada 1 November 1922, Kemal berhasil mengambil alih Turki dan mengakhiri rezim Ottoman.(***/nzhistory)