Mengerikan! Begini Hasil Otopsi Lengkap 7 Perwira TNI yang Jadi ... SuratKabar.ID771 × 563Search by image Begini Hasil Otopsi Lengkap 7 Perwira TNI yang Jadi Korban G30S/PKI

Mengerikan! Begini Hasil Otopsi Lengkap 7 Perwira TNI yang Jadi … SuratKabar.ID771 × 563Search by image Begini Hasil Otopsi Lengkap 7 Perwira TNI yang Jadi Korban G30S/PKI

Bersamaan dengan peristiwa yang oleh rezim Orde Baru (Orba) disebut sebagai upaya kudeta oleh Partai Komunis Indonesia (PKI) yang gagal melalui peristiwa “Gerakan 30 September” (G30S), Karl Marx pada 1867 memublikasikan bukunya yang berjudul “Das Kapital”. Di Cina, pada tanggal ini pula 76 tahun lalu, Mao Zedong memproklamasikan Cina sebagai Republik Rakyat Cina (RRC). Terkait peristiwa di Tanah Air, situs Onthisday.com menyebut hari ini merupakan tanggal kegagalan upaya kudeta oleh Kolonel Untung.

Upaya kudeta PKI dianggap gagal, namun Presiden Sukarno secara de facto berhasil dilengserkan; hal yang oleh sejumlah pihak diduga sebagai tujuan utama peristiwa G30S. Salah seorang yang memercayai ini, atau setidaknya membukukannya, adalah Greg Poulgrain.

Indonesianis asal Australia ini pada 2016 meluncurkan buku berjudul “The Incubus of Intervention Conflicting Indonesia Strategies of John F. Kennedy and Allen Dulles” yang diterjemahkan menjadi “Bayang-bayang Intervensi”. Namun ada analisis Poulgrain di buku ini yang disangsikan sejarahwan Asvi Warman Adam.

Dilansir Tempo, buku setebal 264 halaman ini menyebutkan Presiden Amerika Serikat (AS), John F Kennedy (JFK) ternyata memiliki keinginan besar menjalin persahabatan dengan Presiden Soekarno. Padahal Sukarno kala itu dicap komunis.

Namun hasrat JFK dihentikan Allen Dulles, Direktur CIA yang kemudian dipecat JFK pada 1961. Persahabatan dengan JFK dinilai Dulles akan menghalangi niatnya menyingkirkan Sukarno. Dulles menurut buku itu, terlibat dalam beberapa momen sejarah penting Indonesia dalam kurun 1950-1960: pemberontakan PRRI/Permesta, konfrontasi dengan Malaysia, peristiwa G30S, dan masuknya Freeport ke Papua.

Postcomended   Pangeran Saudi Gondrong Ini pun Diborgol

Poulgrain dalam buku ini bahkan menuding Dulles memanfaatkan CIA untuk kepentingan dirinya, bahkan di saat dia sudah tidak di CIA. Pemberontakan PRRI di Sumatera dan Permesta di Sulawesi tulis Poulgrain, adalah bagian dari taktik CIA memperkuat militer pusat di Indonesia untuk menghancurkan PKI dan Sukarno.

Dalam buku “The Legacy of Ashes: The History of CIA”, Tim Weiner menulis, niat menyingkirkan Sukarno itu muncul setelah CIA memberikan satu laporan pada 9 September 1953 yang membeberkan bahwa situasi Indonesia sudah sangat menakutkan bagi AS, terkait Sukarno yang dianggap dekat dengan PKI.

Ketakutan CIA sebenarnya terbantahkan dengan kunjungan Sukarno ke AS dan bertemu dengan Presiden Eisenhower (Ike). Dikutip dari buku “Gerakan 30 September: Pelaku, Pahlawan & petualang'”, karya Julius Pour, Wakil Presiden AS, Richard Nixon, mendampingi pertemuan itu.

Nixon mengatakan bahwa Sukarno meyakinkan Ike bahwa dia bukan komunis. “Percayalah, akan segera aku ringkus mereka kalau berani berbuat macam-macam,” kata Nixon.

JFK, seperti ditulis situs Historia, pun lebih percaya Sukarno adalah nasionalis. Begitu terkesannya pada Sukarno, JFK sebenarnya berniat melakukan kunjungan balasan ke Indonesia pada 1964. Tujuannya antara lain juga ingin menjadi penengah dalam peristiwa konfrontasi Indonesia- Malaysia. Sebelumnya, JFK pernah “menghadiahi” Sukarno 10 pesawat Hercules karena telah membebaskan Allen Pope.

Namun sebelum niat itu terlaksana, JFK dibunuh pada 1963. Lyndon Johnson, Wapres JFK yang naik menjadi presiden, memasukkan Dulles sebagai anggota komisi penyelidik kematian JFK yang mengambinghitamkan Lee Harvey Oswald sebagai pelaku pembunuh JFK. Sampai kematiannya, Oswald tak pernah mengakui tuduhan ini.

Poulgrain menduga, dalang pembunuhan JFK adalah Dulles sendiri. Analisis Poulgrain: jika JFK jadi ke Jakarta dan menjalin kerjasama dengan Sukarno, rencana Dulles menjatuhkan Sukarno bisa gagal dan posisi Sukarno dan JFK akan lebih kuat.

Postcomended   Potensi Zakat Indonesia Rp 213 Triliun per Tahun

Poulgrain mengatakan, ketika haluan politik Indonesia menjadi pro-Barat di masa Soeharto, Freeport akan lebih mudah untuk masuk. Asvi pun melihat kejanggalan ini. JFK kata Asvi, dibunuh pada 1963 sehingga tidak jadi datang ke Jakarta pada 1964.

Seperti kita ketahui, Sukarno begitu kukuh pada keyakinannya bahwa kekayaan tambang di Papua harus dipertahankan hingga bangsa kita sendiri yang bisa mengelolanya. Tentu saja sikap ini tidak kompatibel dengan niat Dulles menguasai emas Papua. Maka pernyataan Sukarno bahwa dia bukan komunis, bukan target Dulles. Rezim Sukarno adalah gangguan.

Dulles kata Poulgrain, telah lama mengetahui kekayaan alam di Papua. Pada 1928 ketika dia bekerja sebagai pengacara muda yang memenangkan kasus hukum melawan Henri Deterding dari Royal Dutch Petroleum Company yang berniat membangun industri minyak di Indonesia, Dulles tercengang pada tumpukan emas di Papua.

Weiner dalam buku “Legacy of Ashes”, menulis, CIA serius mempertimbangkan pembunuhan terhadap Sukarno di musim semi tahun 1955.

CIA melancarkan berbagai operasi fitnah pada Sukarno mulai menggoda Sukarno dengan agen cantik hingga beredarnya film porno dengan pemeran mirip Sukarno. Fitnah-fitnah tersebut bagai amunisi psikis bagi rakyat Indonesia untuk mengamini penjatuhan Sukarno di kemudian hari, tepatnya melalui peristiwa G30S.

Dalam acara bedah buku Poulgrain, sejarahwan LIPI, Asvi Warman Adam, meragukan temuan Poulgrain. Dulles kata Asvi sudah tak jadi Direktur CIA saat Kennedy tewas dan kekuasaan Presiden Sukarno tumbang. Poulgrain sendiri menyatakan bahwa Dulles masih memiliki pengaruh kuat di CIA kendati sudah tidak lagi menjadi bosnya.

Dulles diberhentikan JFK sebagai Direktur CIA pada 1961 gara-gara terungkapnya operasi CIA di Indonesia yang diduga mendesain pemberobtakan PRRI/Permesta. Dalam peristiwa i ni, TNI menembak jatuh pesawat yang diterbangkan agen CIA Allen Pope.

Postcomended   Para Guru Besar dan Tokoh Lintas Agama Nyatakan Dukung KPK

Adanya keterlibatan CIA terhadap penggulingan Sukarno telah diungkap dokumen CIA maupun pengakuan agen-agen CIA sendiri. Namun jarang ada pengakuan keluar dari mulut pihak TNI AD selaku pihak terdepan yang menumpas habis PKI, hingga seorang jenderal TNI-AD mengaku telah diperintah Mayjen TNI Soeharto.

Isi perintah tersebut adalah: menghubungi CIA, mengubungi para duta besar asing, dan menghubungi perusahaan-perusahaan besar. Sang jenderal adalah Mayjen TNI Achmad Tirtosudiro (bersama Brigjen TNI Alamsyah Ratu Perwiranegara).

Tirtosudiro menyebut, perintah itu dikeluarkan Soeharto setelah menerima Supersemar (Surat perintah 11 Maret) pada 1966; surat perintah misterius yang disebut dibuat Sukarno untuk Suharto.

Dalam memoarnya, “Jenderal dari Pesantren Legok”, Tirtosudiro mengungkapkan, selain menghubungi perusahaan-perusahaan besar, dia juga diperintahkan pergi ke Bangkok, Thailand, untuk menghubungi CIA sekitar tahun 1966-1967. Semua langkah ini pada masa itu, sebut Tirto, serba rahasia mengingat Sukarno masih resmi presiden, meskipun Suharto sudah mulai berkuasa.(***/Tempo/Detikcom/Historia)

Share the knowledge