10 April dalam Sejarah: Tambora Meletus, Semburan Abunya Menyebabkan “Tahun Tanpa Musim Panas”

10 April dalam Sejarah: Tambora Meletus, Semburan Abunya Menyebabkan “Tahun Tanpa Musim Panas”

#PesonaIndonesia
Share the knowledge

Pada tanggal ini tahun 1815, Tambora meletus dengan raungan dahsyat. Material yang tersembur ke atmosfer, cukup untuk membuat Bumi mengalami tahun tanpa musim panas. Musim dingin yang lebih panjang ini menyebabkan Napoleon Bonaparte dan pasukannnya mengalami kekalahan.

Gunung Tambora berada di Pulau Sumbawa, sebelah timur Jawa, Indonesia. Bukti geologis menunjukkan bahwa sebelum letusan hari ini, Tambora tidur selama 5.000 tahun. Aktivitas mulai terpantau sekitar 2-3 tahun sebelumnya, hingga kemudian mulai meletus pada 5 April.

Laporan yang terekam, gemuruh letusannya terdengar oleh warga di Pulau Jawa yang jaraknya sekitar 1.000 km. Namun pertunjukan besarnya baru dimulai lima hari kemudian. Dikutip dari laman Wired, tiga kolom api terlihat menjulang ke langit. Pada hari berikutnya, dua mil kubik magma dimuntahkan ke udara.

Postcomended   Inidia 5 Lokasi Bulan Madu Paling Romantis Di Indonesia!

Puncak gunung yang kokoh dan menjulang tinggi, hilang. Letusan itu meninggalkan kawah puncak yang lebar dan dalam. Warga Surabaya, sekitar 400 km jauhnya di Jawa, merasakan bumi bergerak.

Dikutip dari BBC, selama letusan utama yang berlangsung sekitar dua hari itu, material vulkanik yang dimuntahkan Gunung Tambora mencapai 150 milliar meter kubik. Sebagai pembanding, letusan Gunung Merapi yang terakhir menyemburkan 150 juta meter kubik.

Awan abu yang halus itu cukup ringan untuk tetap berada di atmosfer mengelilingi dunia selama setahun ke depan. Suhu rata-rata turun sebanyak minus 15 derajat Celcius. Banyak orang Eropa dan Amerika Utara menyebut tahun 1816 sebagai “tahun tanpa musim panas”.

Salju turun di New England dan Kanada Timur pada bulan Juni 2016. Kejadian embun beku (frost) tercatat di  bulan-bulan musim panas. Pertanian terhambat bahkan gagal seluruhnya. Eropa sangat dingin. Abu Tambora jatuh Bersama salju.

Postcomended   Panjat Pinang di Laut dan Tarian Kolosal Hebohkan Festival Wakatobi Wave 2017

Inggris, Prancis, Swiss, dan Jerman kehilangan panen dan menderita kelaparan. Dalam upaya menaklukan Rusia, Pasukan Napoleon Bonaparte –kaisar sekaligus panglima perang Prancis– menjadi lemah karena kedinginan dan kelaparan akibat pasokan makanan berkurang.

Situasi ini menyebabkan epidemi di Eropa. Sekitar 200 ribu orang meninggal di Eropa Timur dan Selatan karena kombinasi tipus dan kelaparan. Asia dan India mengalami musim hujan yang lebat, suhu dingin dan bersalju. Kolera mawabah. Produksi beras turun dan kelaparan terjadi dimana-mana termasuk di Cina.

Namun ada hikmah di balik semua peristiwa. Kegagalan panen gandum di Jerman membuat pemeliharaan kuda menjadi mahal, dan ini memicu ditemukannya sepeda.***


Share the knowledge

Leave a Reply

Specify Instagram App ID and Instagram App Secret in Super Socializer > Social Login section in admin panel for Instagram Login to work