Internasional

10 Juni dalam Sejarah: Paten “Ballpoint” Pertama Diberikan ke Perusahaan Bic

Pada tanggal ini tahun 1968, rezim Orde Baru melantik Kabinet pertamanya, yakni Kabinet Pembangunan I. Di tanggal ini pula, jembatan terpanjang di Indoesia, Suramadu, diresmikan. Pada 1943 di tanggal sama, teknologi pena “ballpoint” dipatenkan dua bersaudara asal Hongaria kepada perusahaan Bic.

Dua bersaudara, Laszlo Jozsef Biro dan Georg Biro, pengungsi Hongaria yang “terdampar” di Argentina, pada tanggal ini tahun 1943 berhasil mematenkan pulpen alias ballpoint.

Sebelumnya, penemuan pulpen yang lebih praktis oleh Lewis Waterman yang dipatenkan pada 1884, bagaimanapun telah memecahkan masalah portabilitas. Waktu itu, pengguna tidak lagi harus membawa tinta untuk menulis, kapan dan di mana saja. Akan tetapi, butuh waktu lama untuk tinta pada pena karya Waterman ini mengering, sehingga kadang tulisan menjadi buram dan luntur.

Bankir Amerika, John L. Loud, sudah mulai mengadopsi teknologi “ball” pada pena karyanya. Dia mematenkannya pada 1888. Ia menggunakan teknologi ball-and-socket untuk menghasilkan tinta cepat kering. Namun tintanya yang bersifat lengket dan sangat kasar, membuatnya tidak benar-benar berfungsi dengan baik di atas kertas.

Laszlo Biro, yang awalnya juga berprofesi sebagai wartawan di Hongaria, melihat bahwa tinta yang digunakan untuk mencetak koran cepat kering. Saudaranya Georg yang ahli kimia, membantunya dari aspek teknis.

Mereka menggunakan bantalan bola kecil di ujung pena (sehingga kemudian muncul istilah ballpoint) yang berfungsi mendistribusikan tinta secara merata dari tube ke kertas untuk menulis sekaligus menahan sisa tinta di dalam tube.

Duo Biro ini membuat kemajuan dalam meningkatkan fungsi pulpen. Tetapi situasi di tanah air mereka kala itu memburuk. Perang Dunia II memaksa keduanya yang berdarah Yahudi, berusaha menyelamatkan diri dari Budapest ke Paris, kemudian ke Madrid dan akhirnya ke Buenos Aires, Argentina. Di kota terakhir inilah mereka mengajukan permohonan paten dan mencari dukungan keuangan untuk komersialisasinya.

Salah satu kontak mereka, seorang akuntan Inggris bernama Harry Martin, menyadari bahwa pulpen memecahkan masalah yang dihadapi oleh Angkatan Udara Kerajaan Inggris: pena konvensional tidak cocok untuk menulis log pesawat, karena mereka bocor, terlalu sensitif terhadap perubahan tekanan atmosfer, dan posisi menulis yang tidak tentu kadang pada permukaan vertikal hingga di atas kepala.

Martin akhirnya terbang ke Washington, Amerika Serikat (AS), dan London, Inggris, meyakinkan Angkatan Udara AS dan RAF untuk mengadopsi teknologi baru. Pada saat Sekutu memenangkan perang, pulpen pun ikut berjaya.

Ketika mulai masuk tahap produksi komersial pada 1945, pulpen temuan duo Biro ini adalah sensasi. Mereka menjual patennya ke Bic. Di AS, teknologi baru ini dijual seharga 12,50 dolar AS (sekarang sekitar 150 dolar AS) per buah.

Bagai mengantre iPhone keluaran terbaru, orang-orang menyerbu sebuah department store di New York. Sebanyak 8.000 pulpen ludes pada hari pertama penjualan.

Kini, di sebagian besar dunia, nama generik untuk bolpoin adalah biro. Di Argentina, namanya dikenal sebagai birome, sementara di belahan dunia lainnya disebut pena atau ballpoint, alias pulpen di Indonesia.(***/wired/hollydayinsights)

Sumber foto: Google image

Caption: Laszlo Jozsef Biro

Share the knowledge
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

To Top