Warga Surabaya bertempur dengan bambu runcing, yang dicetuskan ulama setempat bernama Kiai Siradj (httsps://cdns.klimg.com/merdeka.com/i/w/news/2012/07/25/71378/670×335/kiai-sirajd-ulama-pencetus-bambu-runcing.jpg)

Hari ini, 1945, terjadi pertempuran hebat di Surabaya antara tentara pejuang kemerdekaan Indonesia dengan pasukan Inggris yang tergabung dalam pasukan atas nama sekutu bernama Allied Forces Netherlands East Indies (AFNEI). Pertempuran Surabaya pecah karena pejuang Indonesia, yang diwakili Bung Tomo, menolak menyerahkan senjata mereka kepada tentara Inggris/sekutu. Pertempuran Surabaya disebut sejarahwan dunia sebagai pertempuran terhebat setelah Perang Dunia (PD) II berakhir.

Kedatangan tentara Inggris/sekutu ini terkait menyerahnya Jepang kepada sekutu yang ditandai dengan pemboman Hiroshima dan Nagasaki. Maka terjadilah kekosongan kekuasaan di Indonesia.

Sekutu datang ke Indonesia dengan alasan akan melucuti tentara Jepang dan membebaskan para tawanan perang yang ditahan Jepang. Namun secara memalukan, pasukan tentara sekutu ini datang dengan membonceng NICA (Netherlands Indies Civil Administration) yang ingin kembali menjajah Indonesia.

Hal ini juga yang memicu kemarahan rakyat Indonesia dan memunculkan pergerakan perlawanan rakyat Indonesia di mana-mana melawan tentara AFNEI dan NICA.

Sebenarnya, awalnya telah dicapai kesepakatan antara tentara Inggris yang sudah mendarat di Surabaya yang dipimpin Brigadir AWS Mallaby dengan pihak Indonesia yang diwakili Gubernur Jawa Timur, Mr. Surya. Kesepakatan tersebut adalah Inggris tidak akan meminta tentara dan milisi Indonesia menyerahkan senjata.

Postcomended   19, 20, 21 Agustus dalam Sejarah: Perbudakan di AS Dimulai

Namun entah bagaimana ada kesalahpahaman antara tentara Inggris di Jakarta dan di Surabaya pimpinan Mallaby, ketika satu pesawat Inggris dari Jakarta menjatuhkan selebaran di Surabaya yang meminta orang Indonesia menyerahkan senjatanya pada 27 Oktober 1945.

Tentara Indonesia dan pemimpin milisi Surabaya merasa dikhianati. Buntutnya, pada 30 Oktober 1945, Mallaby terbunuh saat sedang menuju pos pasukan Inggris di dekat Jembatan Merah. Mallaby diduga ditembak milisi Indonesia.

Postcomended   28 Oktober dalam Sejarah: Pejabat Kolonial Belanda Sempat Meremehkan Sumpah Pemuda

Kondisi ini membuat Letnan Jenderal Sir Philip Christison marah. Dia lalu mempersiapkan pengepungan ke Surabaya. Pagi 10 November 1945, pasukan Inggris mulai maju ke Surabaya dengan dilindungi militer mereka yang bersiap di laut dan udara.

Dengan antara lain bermodalkan bambu runcing, tentara dan milisi Surabaya melakukan perlawanan heroik. Namun separuh kota akhirnya ditaklukkan dalam waktu 3 hari.

Pertempuran yang berlangsung tiga minggu ini menewaskan ribuan orang Indonesia; ada yang menyebut mencapai 15 ribu orang. Sedangkan korban jiwa di pihak Inggris mencapai 600 orang.***

Postcomended   10 Oktober dalam Sejarah: Batavia Banjir Darah, VOC Membantai Warga Etnis Cina