Oktober 1740, Pembantaian Warga Cina di Batavia National Geographic Indonesia640 × 421Search by image 9 Oktober 1740, Pembantaian Warga Cina di Batavia

Oktober 1740, Pembantaian Warga Cina di Batavia National Geographic Indonesia640 × 421Search by image 9 Oktober 1740, Pembantaian Warga Cina di Batavia

Hari ini, tahun 1740, Batavia bersimbah berdarah. Kongsi Dagang Belanda alias VOC yang didukung pemerintah penjajahan Hindia Belanda, menekan pemberontakan warga etnis Cina dengan pertumpahan darah. Sekitar 5-10 ribu warga Cina di Batavia, dibantai. Pemicunya, perekonomian dunia yang lesu membuat VOC menerapkan peraturan sepihak. Warga Cina dipajak gila-gilaan. Demi menekan jumlah mereka di Batavia, VOC juga mengirim mereka ke Srilanka, hingga terdengar kabar bahwa sebelum sampai Srilanka, orang-orang Cina ini dibuang ke laut. Warga Cina Batavia pun cemas. Mereka akhirnya memutuskan memberontak.

Pada awal abad ke-18, perekonomian dunia lesu. Pengangguran meningkat, namun di sisi lain imigran asal Cina menyerbu Batavia. Jika pada 1719 hanya ada 7.550 jiwa imigran Cina menetap di Batavia, pada 1739 jumlahnya meningkat hingga 10.574 jiwa.

Kala itu, Batavia dibagi oleh satu tembok/benteng (kelak muncul istilah Cina Benteng). Sebanyak 4.000-an orang Cina bermukim di dalam tembok, 10.000-an lainnya mukim di luar tembok.

Membludaknya imigran asal Cina, membuat Gubernur Jenderal VOC, Adriaan Valckenier, menerapkan kebijakan untuk mengirimkan sebagian orang Cina ini ke kota persinggahan di Srilanka yang dibangun Belanda. VOC adalah persekutuan dagang Belanda yang memiliki monopoli untuk aktivitas perdagangan di Asia.

Postcomended   10 November dalam Sejarah: Pertempuran Terhebat Setelah Perang Dunia II Berakhir, Terjadi di Surabaya

Aturan lainnya untuk menekan mereka adalah dengan menerapkan Surat Izin Tinggal. Bagi yang tak punya, Belanda akan memberi sanksi penjara, denda, hingga pengusiran mereka dari seluruh Hindia Belanda.

Dalam tulisan yang dimuat beritabatavia.com, Hembing Wijayakusuma (alm), menulis, pajak juga dijadikan alat kontrol terhadap semua aktivitas bisnis warga Cina. Aturan ini membuat mereka bangkrut hingga banyak dari mereka beralih profesi menjadi buruh kasar.

Dilansir National Geographic Indonesia, kala itu juga muncul desas-desus imigran yang dikirim ke Srilanka dibunuh dengan dilempar ke laut sebelum sampai ke negeri itu. Mendengar itu, komunitas Cina di pinggiran Batavia resah. Mereka mulai berjaga-jaga dengan melengkapi diri dengan berbagai senjata.

Kerusuhan-kerusuhan kecil di luar benteng mulai terjadi sejak September 1740. Aksi perlawanan memuncak pada 7-8 Oktober 1740. Pos-pos penjagaan VOC di wilayah Jatinegara, Tangerang dan Tanah Abang digempur bersamaan. Jatinegara sempat mereka kuasai. Pemberontak yang berusaha masuk tembok (benteng) dihadang pasukan yang dipimpin Gubjen Baron van Imhoff.

Pada 9-10 Oktober, dibantu altileri berat, pasukan VOC berhasil menguasai keadaan. Mereka mulai mengejar para pelaku kerusuhan. Seluruh rumah dan pusat perdagangan warga Cina di Batavia dijarah dan dibakar. Ribuan warga Cina yang tersisa, diburu dan dibunuh tak perduli terlibat atau tidak dalam aksi pemberontakan.

Postcomended   9 November dalan Sejarah: Amrozi, Imam Samudra, dan Ali Ghufron, Dieksekusi Mati

Semua warga Cina dalam tembok kota, termasuk anak-anak yang lari berhamburan ke jalanan kota, dibunuh dengan keji. Banyak juga yang dibiarkan lari ke arah kali untuk kemudian dibantai prajurit yang telah menunggu mereka.

Pada 10 Oktober 1740, setelah peristiwa pemberontakan berhasil dikendalikan, Gubernur Jendral Valckeneir memerintahkan prajuritnya mengumpulkan seluruh warga Cina yang tersisa termasuk yang terbaring di rumah sakit maupun di penjara, di depan Stadhuis, Gedung Balaikota (sekarang Museum Fatahillah). Mereka kemudian dieksekusi dengan digantung.

Dikutip dari National Geographic Indonesia, G.Bernhard Schwarzen, seorang pelaku pembantaian dan perampokan, dalam bukunya Reise in Ost-Indien yang terbit pada 1751, menulis, dia membunuh orang Cina yang dia kenal baik dan kerap mengundang makan malam.

Menurutnya, pembantaian berhenti hingga tak tersisa lagi orang Cina di dalam tembok. Seluruh jalanan, gang-gang, dan kanal-kanal, tulis dia, dipenuhi mayat. “Kaki kita tak akan basah ketika menyeberangi kanal jika melewati tumpukan mayat-mayat itu,” ujarnya menggambarkan batapa padatnya kanal oleh mayat.

Postcomended   25 Oktober dalam Sejarah: Film Jagal Legendaris ini Pertamakali Dirilis

Dua tahun kemudian, Gubernur Jendral VOC, Valckenier, yang dianggap bertanggung jawab atas tragedi di Batavia, dijatuhi hukuman penjara di Kastil Batavia selama 9,5 tahun hingga meninggal.

Tercatat warga Cina yang selamat sebanyak 3.441 jiwa. Dan ketika luka mulai kering, VOC memberi izin tinggal lagi bagi orang-orang Cina di sebelah selatan tembok kota; di satu ladang tebu dan berawa milik Arya Glitok, seorang pria asal Bali. Kawasan ini kemudian berkembang menjadi wilayah pecinan baru yang kemudian dikenal dengan nama Glodok.***)