Remembering September 11th, 16 years later. #NeverForget | September 11, 2017 | #GettyImagesNews

A post shared by Getty Images (@gettyimages) on

September 2001 hari ke-11, empat pesawat jet berbadan besar terekam banyak kamera amatir menabrakan diri ke menara kembar ikon kota New York, World Trade Centre (WTC). Tak memakan waktu lama, kedua menara pun kompak rubuh; bagai gedung-gedung yang sengaja diratakan dengan tanah menggunakan berton-ton dinamit. Dunia terpana. Peristiwa yang terlalu bagus untuk menjadi nyata, namun nyata terjadi.

Pada waktu yang hampir bersamaan, satu pesawat juga jatuh menimpa Pentagon di Arlington, Virginia. Pesawat lainnya diduga gagal mencapai sasaran di Washington DC dan jatuh di lapangan dekat Shanksville, Pennsylvania.

Postcomended   9 November dalan Sejarah: Amrozi, Imam Samudra, dan Ali Ghufron, Dieksekusi Mati

Belakangan, otoritas Amerika Serikat (AS) menetapkan bahwa pelaku tragedi 911 adalah kelompok Al Qaeda pimpinan Osama bin Laden. Menurut laporan tim investigasi 911, sekitar 3.000 jiwa tewas dalam serangan ini.

Enambelas tahun berlalu, banyak pihak mempertanyakan kebenaran peristiwa 911. Peristiwa ini dijadikan alasan AS menggempur Irak dan menangkap Presiden Irak kala itu, Saddam Husein. Namun kemudian Husein justru dihukum mati untuk dakwaan lain.

Video-video yang skeptis atas informasi versi pemerintah AS mengenai tragedi ini bermunculan, antara lain yang menyebut bahwa sebelum pesawat menabrak menara kembar, terdapat kilatan-kilatan cahaya dari gedung WTC. Teori ini yakin bahwa kilatan cahaya itu merupakan ledakan bom yang meruntuhkan menara WTC.

Postcomended   9 November dalan Sejarah: Amrozi, Imam Samudra, dan Ali Ghufron, Dieksekusi Mati

Video lainnya mengatakan bahwa pesawat yang menabrak WTC bukan pesawat komersil, melainkan pesawat militer. Atau ada pula yang beranggapan bahwa sebenarnya tidak benar-benar ada pesawat yang menabrak WTC.

Teori konspirasi yang paling banyak dipercaya terkait tragedi ini adalah bahwa peristiwa ini merupakan rekaan AS sendiri, antara lain untuk membuat pembenaran bagi AS menggempur Irak, demi minyak.***