Internasional

12 Juni dalam Sejarah: Sang Godfather Didakwa oleh 5000 Tuduhan

Pada tanggal ini tahun 1931, Alphonse Gabriel “Al” Capone, didakwa atas 5.000 tuduhan pelanggaran larangan alcohol dan sumpah palsu. Sang Godfather adalah pendiri dan boss “Chicago Outfit”; sindikat kejahatan terorganisasi Italia-Amerika yang berbasis di Chicago, selama tahun 1920-an dan 1930-an.

Capone dibesarkan di Brooklyn sebagai satu dari sembilan anak. Dua saudara laki-lakinya, Raffaele (dikenal sebagai “Bottles” atau “Ralph”) dan Salvatore “Frank”, mengikutinya ke dalam kejahatan terorganisasi dan penjualan sepatu.

Saudara laki-laki lain, Vincenzo, mengubah namanya menjadi Richard Hart dan menjadi agen Larangan di Oklahoma, tetapi tidak pernah diketahui mengganggu bisnis Capone.

Meskipun hanya memerintah tujuh tahun di Chicago, Capone menjadi pribadi yang menonjol bahkan lebih besar daripada kehidupannya yang ia terus disebutkan dalam budaya populer sebagai pola dasar gangster utama.

Dia mengawali karir mafianya di Brooklyn, naik untuk memasuki Five Points Gang, di mana dia dibimbing oleh Johnny Torrio. Pada usia 20, ia menikah dengan Mae Josephine Coughlin setelah ia melahirkan putra tunggalnya, Albert Francis “Sonny” Capone, pada 1918. Capone pindah ke Chicago untuk menjadi pengawal bagi Johnny dan mempelajari bisnis tersebut.

Sebagai seorang pemuda yang bekerja sebagai tukang pukul di klub malam, dia berisiko terlibat perkelahian. Ketika dia menghina seorang wanita muda, kakak si wanita muda menghajar wajah Capone, sehingga meninggalkan bekas luka permanen di sisi kirinya. Inilah awal dia dijuluki “Scarface”.

Capone adalah orang yang menikmati perhatian dan kemewahan. Dia membeli perhiasan dan pakaian khusus yang mencolok. Dia menyukai cerutu, makanan enak, alkohol, kokain, dan wanita.
Dia secara cerdik mengolah reputasi kejamnya menjadi semacam “Robin Hood” modern yang memberi kepada lingkungan. Ketika ditanya tentang bisnisnya, dia cenderung berkata, “Saya hanya seorang pengusaha, memberi orang apa yang mereka inginkan.”

Diwarisi Bisnis Mafioso
Setelah Johhny Torrio selamat dari beberapa upaya (pembunuhan) dalam hidupnya, ia pensiun dan meninggalkan bisnis Chicago-nya kepada Capone yang kala itu masih berusia 26.

Di bawah Capone, ada ekspansi besar-besaran dalam hal minuman keras dan rumah bordil, bidang keahlian yang dia kuasai selama menjadi bagian dari kejahatan terorganisasi. Dia kemungkinan mengidap sifilis selama waktunya bekerja di rumah bordil dan tidak pernah mencari pengobatan.

Tidak seperti Torrio yang smooth, Capone menangani bisnis dengan cepat dan kasar dengan perlawanan. Jika pemilik bar menolak membeli alkohol dari perusahaan pembotolan Ralph, bar itu membuka peluang diledakkan. Satu kasus pemboman bar menewaskan setidaknya 100 orang.

Capone sangat mencemaskan keselamatannya sendiri karena geng-geng yang bersaing akan membalas tindakannya yang brutal dan atau mencoba mendongkel posisinya sebagai bos. Dia mengembangkan kebiasaan tiba larut malam di depot kereta Chicago dan membuking seluruh gerbong tidur Pullman untuk melakukan perjalanan malam ke berbagai kota.

Dia dan rekan-rekannya akan bepergian dan menghabiskan seminggu di hotel mewah dengan nama samaran. Pada 1928, ia membeli sebuah rumah besar dari August Busch, pengusaha bir Anheiser-Busch, seharga 40.000 dolar AS.

Rumah empat belas kamar di Palm Island ini tidak pernah dikaitkan dengan namanya. Dia sering mengunjungi Palm Island untuk menyelamatkan diri dari Chicago. Dia juga diketahui menghabiskan hari-hari terakhirnya di sini setelah penjara dan sifilis menghancurkannya.

Capone juga dengan bijak berinvestasi dalam perlindungan hukum dengan menyuap polisi bahkan walikota Chicago. Dia disukai walikota Republik William Hale Thompson dan menyumbang 250.000 dolar AS yang dilaporkan untuk kampanyenya pada 1927.

Rekan-rekan Capone pernah meledakkan bilik suara di distrik-distrik yang kemungkinan tidak akan memilih kandidat yang didukung oleh Capone. Setidaknya 15 orang tewas akibat pemboman tersebut.

Seorang pengacara Afrika-Amerika, Octavius Granady, mencoba menantang Walikota Thompson. Alhasil, dia dikejar-kejar melalui jalan-jalan di Chicago pada hari pemilihan oleh mobil-mobil bersenjata, sampai dia ditembak mati di jalanan. Empat polisi, dan beberapa rekan Capone, terlibat tetapi tidak pernah dituntut.

Pembantaian Hari Santo Valentine
Capone tumbuh lebih berani dan lebih keras dalam intervensinya sampai ia memerintahkan Pembantaian Hari Santo Valentine tahun 1929. Para pria Capone menyewa sebuah apartemen di dekatnya untuk membunuh anggota geng saingan di bawah Bugs Moran dari Geng Sisi Utara.

Polisi palsu menjajarkan tujuh anggota geng ke dinding untuk kemudian pasukan Capone menembak mati mereka. Akibat tindakan brutal yang mencolok ini, Capone kehilangan kepercayaan publik berikut cengkeramannya di Chicago. Thompson kalah dalam kampanye walikota berikutnya.

Capone diperintahkan untuk tampil sebelum “grand jury” pengadilan Chicago untuk menghadapi tuduhan “Larangan Alkohol” di bawah UU Volstead. Pengacaranya mengirim kabar bahwa dia terlalu sakit untuk bersaksi.

Ketika Capone akhirnya muncul pada Maret 1929 untuk bersaksi, dia ditangkap segera setelah itu oleh agen-agen FBI karena penghinaan atas tuduhan pengadilan. Serangkaian penangkapan membuat Capone mulai kehilangan kekuatan.

Ketika saudaranya, Ralph, dipenjara pada 1930 karena penggelapan pajak, Capone mencoba menghindari nasib sama dengan meminta pengacara membuat kesepakatan dengan pemerintah untuk membayar kembali pajak. Pengacara menyusun surat berisi penerimaan pendapatan dan sumber pendapatan Capone, kepada pemerintah.

Pemerintah menolak berurusan dan kemudian menggunakan surat itu sebagai bukti untuk mendukung 5.000 tuduhan penggelapan pajak, sumpah palsu, dan pelanggaran UU Volstead (Larangan Alkohol). Setelah divonis bersalah, Capone kehilangan kendali atas massa Chicago, semengara kejahatan terorganisasi di Chicago terus berlanjut.

Ketika Capone tiba di Lembaga Pemasyarakatan AS di Atlanta pada Mei 1932, ia dengan cepat didiagnosis menderita gonorhea dan sifilis tahap lanjut. Dia juga memiliki septum berlubang dari penggunaan kokain yang berlebihan.

Dipindahkan ke Alcatraz
Teman satu selnya harus campur tangan karena dia sering menjadi sasaran kekerasan penghuni sel lainnya. Dugaan bahwa dia menerima hak istimewa di Atlanta menyebabkan dia dipindahkan ke Alcatraz.

Di sana, kondisinya makin memburuk secara mental dan tetap menjadi target kekerasan narapidana lain bahkan tanpa perlindungan. Dia pernah ditikam oleh satu narapidana pada Juni 1936.

Tahun terakhirnya di Alcatraz dihabiskan di rumah sakit penjara, karena mengalami disorientasi dan tidak koheren sebagai dampak penyakit neurosifilis-nya. Capone dipindahkan ke Lembaga Pemasyarakatan Federal di Pulau Terminal di California untuk menjalani hukuman atas tuduhan pengadilan dari tahun 1929.

Ia dibebaskan pada Januari 1939, setelah menjalani 8 tahun dari 11 tahun hukumannya. Kesehatan mental dan fisiknya yang memburuk memainkan bagian penting dalam pembebasannya lebih awal.

Pada Maret 1940, setelah menghabiskan waktu di rumah sakit Baltimore untuk mencoba mendapatkan kembali kesehatannya, ia kembali ke rumahnya di Palm Island di Florida. Pada 1946, seorang dokter yang memeriksanya melaporkan bahwa fungsinya secara mental berada di level usia 12 tahun.

1947, Capone menderita stroke, radang paru-paru, dan akhirnya menyerah oleh serangan jantung di rumahnya pada 25 Januari 1947, di usianya yang baru 48 tahun.(***/saintjuderetreats)

Share the knowledge
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

To Top