Keluarga Cendana (dan kroni) bergabung di partai besutan Tommy Soeharto. Apakah ini tanda kebangkitan Orde Baru di pemerintahan?

Ketika Hutomo Mandala Putra (Tommy Soeharto) mendirikan Partai Berkarya (PB), media sudah mengendus kemungkinan Siti Hediati Hariyadi bakal hengkang dari Golkar dan bergabung dengan partai adiknya itu. Awalnya dia enggan menanggapi isu itu. Namun kini terbuka sudah. Bahkan ada desas-desus Siti Hardiyanti Rukmana alias Mbak Tutut, akan turut bergabung. Apakah ini tanda kebangkitan keluarga Cendana di pemerintahan?

Ketika pada November 2017 wartawan menanyakan ihwal Partai Berkarya yang didirikan adiknya itu, Titik Soeharto –nama tenarnya– enggan berkomentar banyak. “Hahaha nggak tau itu, no comment,” kata anggota DPR RI dari fraksi Golkar ini kala itu sperti dilaporkan Detikcom pada 5 November 2017. Titiek juga menegaskan bahwa dia kala itu masih di Golkar.

Namun 11 Juni 2018 lalu, Titik akhirnya “mendeklarasikan” kepindahannya ke partai adiknya itu. Kabar tersebut dibenarkan oleh Ketua DPP Partai Berkarya, Badaruddin Andi Picunang. Dilansir laman Kompas pada tanggal tersebut, Andi mengatakan, sang adik selaku Ketum Partai Berkarya, sudah berbicara kepada sang kakak ihwal visi partai.

Titiek pun buka suara mengenai kepindahannya itu. Menurutnya, dilansir laman Republika, dia merasa prihatin dengan segala persoalan bangsa yang terjadi akhir-akhir ini. Kondisi yang terjadi sekarang ini, kata dia, kerap membuat Titiek ingin menjerit untuk protes dan menyuarakan hati nurani rakyat.

Postcomended   Coldplay Rilis Lagu Dukung Imigran

Akan tetapi, dia mengaku tidak bisa melakukannya karena berstatus sebagai kader Partai Golkar, yang notabene mendukung pemerintah. “Karena itu, saya memutuskan untuk keluar dari Partai Golkar dan memilih untuk memperjuangkan kepentingan rakyat melalui Partai Berkarya,” kata Titiek pada hari yang sama.

Mengutip dari Kumparan, PB didirikan dengan mengusung kerinduan kepada Soeharto dan stabilitas Orde Baru sebagai dagangan utama, Demi menyempurnakan citra tersebut, Berkarya merekrut segenap trah Cendana, dari putra-putri Soeharto sampai mantu dan cucu-cucunya.

Dengan berkumpulnya keluarga Soeharto, kata Andi, Berkarya akan semakin kuat dalam menyongsong Pemilu 2019. “Ini kan internal keluarga Pak Tommy ini sudah bicara panjang, karena partai ini identik dengan partai Pak Harto. Sewajarnya keluarga berkumpul di Berkarya, lebih fokus, lebih terarah memenangkan pemilu 2019,” tutur Andi, dikutip dari laman Kompas.

Meskipun identik dengan Soeharto, Partai Berkarya kata Andi tak hanya diisi keluarga Soeharto, melainkan juga pecinta-pecinta Soeharto dan Orde Baru-nya, yang akan melanjutkan visi-misi dan cita-cita Soeharto.

Partai Berkarya didirikan pada 15 Juli 2016 dan sukses meloloskannya ikut Pemilu 2019. Ini bukan yang pertama Tommy berusaha membentuk parpol, pada 2014 dia sempat mendirikan Partai Nasional Republik, namun gagal.

Postcomended   Para Guru Besar dan Tokoh Lintas Agama Nyatakan Dukung KPK

Ada Jendral Bermasalah

Dilaporkan laman Detikcom, sejumlah purnawirawan TNI masuk dalam jajaran kepengurusan Berkarya. Mereka antara lain adalah Laksamana TNI (Purnawirawan) Tedjo Edhy, Mayjen TNI (Purnawirawan) Muchdi Purwoprandjono, Mayjen TNI (Purnawirawan) Syamsu Djalal, dan Letjen (Purn) Yayat Sudrajat. Siapa mereka?

Laksamana TNI (Purnawirawan) Tedjo Edhy, menjabat Ketua Dewan Pertimbangan Partai Berkarya (PB). Tedjo adalah Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan yang terkena reshuffle Kabinet Kerja setahun setelah pemerintahan Presiden Joko Widodo berjalan, persisnya pada 12 Agustus 2015.

Sementara itu, mantan Komandan Jenderal Korps Pasukan Khusus TNI AD Mayjen TNI (Purnawirawan) Muchdi Purwoprandjono atau yang juga dikenal dengan nama Muchdi PR, menjabat Ketua Dewan Kehormatan PB. Seperti diketahui, Muchdi adalah sosok sangat kontroversial.

Ketika masih menjabat Danjen Kopassus, Muchdi sempat membebaskan sejumlah aktivis yang diculik pada 1997-1998, tapi dia juga dituduh sejumlah aktivis terlibat dalam penculikan itu. Muchdi juga sempat dikaitkan dengan kasus pembunuhan aktivis HAM, Munir, pada akhir 2004, saat dia menjabat Deputi V Badan Intelijen Negara. Namun pada 31 Desember 2008, dia divonis bebas oleh majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.

Jendral lainnya adalah Mayjen TNI (Purnawirawan) Syamsu Djalal yang mendapat posisi penting di Berkarya, yakni sebagai Ketua Dewan Penasihat. Saat menjabat Komandan Pusat Polisi Militer TNI, ia sempat menangani kasus penculikan aktivis 1997-1998.

Postcomended   Arab Saudi Diduga Keras Tahan Ulama hingga Presenter TV

Setelah pensiun, Syamsu lebih aktif sebagai pengacara, dengan merangkap sejumlah jabatan di organisasi massa dan LSM, antara lain sebagai Ketua Umum Forum Bersama Laskar Merah Putih, dan Ketua Dewan Pembina National Corruption Watch.

Sementara itu di posisi Wakil Ketua Umum PB, ada nama Letjen (Purn) Yayat Sudrajat. Yayat adalah purnawirawan perwira tinggi TNI Angkatan Darat. Terahkir berdinas di militer adalah menjabat sebagau Sesmenko Polhukam. Yayat merupakan alumnus Akademi Militer tahun 1982, ia berpengalaman dalam bidang infanteri (Kopassus). Jabatan sebelumnya jenderal bintang dua ini adalah Kepala Bais TNI.***

Share the knowledge