Review Film – Iki Aku_Tulisan Yuyun Iki Aku_Tulisan Yuyun - WordPress.com Review Film

Review Film – Iki Aku_Tulisan Yuyun Iki Aku_Tulisan Yuyun – WordPress.com Review Film

Ketika musim pertama dari “13 Reason Why” dirilis di Netflix, Maret tahun lalu, pujian dan kritik bermunculan. Beberapa percaya bahwa penyertaan grafis, seperti penggambaran bunuh diri dari karakter utama Hannah di tayangan itu, adalah masalah serius namun diglamorkan. Namun peneliti mengatakan, mayoritas orang tua melaporkan bahwa acara itu mendorong mereka berbicara tentang depresi, bunuh diri, penindasan dan kekerasan seksual dengan anak mereka.

“13 Reason Why” adalah serial drama misteri yang tayang di jaringan TV Amerika Serikat (AS) yang berdasarkan pada novel tahun 2007 “Thirteen Reasons Why” oleh Jay Asher dan diadaptasi oleh Brian Yorkey untuk Netflix. Netflix sendiri adalah  layanan yang memungkinkan pengguna menonton tayangan kesukaan di mana pun, kapan pun, dan hampir lewat medium apa pun (smartphone, smartTV, tablet, PC, dan laptop). Netflix ibarat toko penyewaan DVD, tetapi menawarkan film digital di dunia maya.

Menurut penelitian baru-baru ini yang ditugaskan Netflix dan disetujui Institutional Review Board of Northwestern University, mayoritas remaja dan orang tua yang menonton acara itu merasa materinya bermanfaat.

Lebih dari 5.000 orang dari AS, Inggris, Brasil dan Australia yang telah menyaksikan pertunjukan itu disurvei, dengan 1.200 peserta yang berasal dari Inggris.

“Kami benar-benar tertarik untuk mencoba memahami sikap responden terhadap 13 Alasan Mengapa, pemahaman mereka tentang beberapa topik utama yang dibahas dan bagaimana mereka mengubah perilaku mereka,” Drew Cingel, kolaborator penelitian dan asisten profesor di Universitas California, mengatakan kepada The Independent.

“Kami juga tertarik pada sejauh mana mereka merasa mereka didukung oleh sebuah pertunjukan, bahwa mereka memiliki sumber daya yang tersedia untuk berbicara tentang topik-topik tersebut, tetapi juga sumber daya apa pun yang mereka harapkan di masa depan.”

 Mayoritas remaja dan dewasa muda di Inggris yang berpartisipasi dalam penelitian merasa bahwa topik yang dibahas dalam acara itu bergaung di antara mereka dan rekan-rekan mereka.

Sebanyak 75 persen menyatakan orang-orang dalam kelompok usia mereka telah mengalami masalah serupa, dengan 69 persen mengatakan mereka percaya pertunjukan itu bermanfaat bagi orang-orang seusia mereka.

Salah satu aspek paling penting dari penelitian ini adalah mengeksplorasi apakah remaja dan orang tua mereka merasa bahwa pertunjukan itu membantu mereka berbicara lebih terbuka satu sama lain tentang berbagai subjek yang mungkin sulit mereka atasi.

Menurut hasil penelitian, 56 persen orang tua melaporkan bahwa menonton “13 Reason Why” dengan anak-anak mereka memungkinkan mereka untuk memulai percakapan tentang tema-tema yang dibahas dalam pertunjukan.

“Mayoritas orang tua melaporkan bahwa paparan terhadap acara itu mendorong mereka berbicara tentang depresi, bunuh diri, penindasan dan kekerasan seksual dengan anak mereka,” kata Cingel.

Namun, 68 persen menyatakan bahwa mereka ingin lebih banyak pembahasan tentang kesehatan mental dimasukkan dalam pertunjukan tersebut di masa depan.

Matthew Thunell, direktur serial Netflix, kepada The Independent mengatakan, pihaknya berharap materi tayangan ini akan menjadi percakapan global. “Tetapi tidak mungkin kita bisa memperkirakan bahwa itu akan mencapai sejauh itu.”

Musim kedua pertunjukan, yang dilaporkan akan dirilis akhir 2018, sesuai permintaan responden, akan lebih menekankan pada kesehatan mental. “Lebih dari 60 persen orang tua meminta lebih banyak pembahasan tentang kesehatan mental di seluruh episode,” jelas Cingel. 

Meskipun penelitian ini sangat informatif, penting untuk dicatat bahwa sponsor utama penelitian ini adalah Netflix sehingga hasilnya mungkin berpotensi bias.

Thunell mengatakan, “13 Reason Why” di musim tayang kedua akan terus membahas topik-topik sulit, termasuk penggunaan narkoba pada remaja.

Musim pertama tayangan ini memuncak dengan film pendek 29 menit berjudul “Beyond the Reasons” di mana para pemain, produser, dan profesional kesehatan mental, berbicara tentang hal-hal yang dibahas oleh pertunjukan.(***/independent/wikipedia)