14 Desember dalam Sejarah: Israel Caplok Dataran Tinggi Golan yang Subur dari Suriah

Internasional
Share the knowledge

Salah satu bagian dari sejarah zionisme Israel paling menentukan, terjadi hari ini tahun 1981 ketika Israel secara sepihak mencaplok Dataran Tinggi Golan (DTG), suatu wilayah yang pernah direbut Israel dari Suriah dalam Perang Enam Hari, Juni 1967. Perang dengan negara-negara Arab bagi Israel bagai jalan untuk semakin memperluas daerah penguasaan ketika negara-negara Arab itu kalah.

Langkah pencaplokan DTG itu tidak diakui secara internasional, dan menghapus semua prospek kompromi teritorial dalam negosiasi damai di masa depan. Saat pencaplokan, DTG telah dipenuhi lebih dari 30 pemukiman Yahudi dengan sekitar 20.000 pemukim. Ada sekitar 20.000 warga Suriah di daerah itu, kebanyakan dari anggota sekte Druze.

BBC melaporkan, sebagian besar penduduk Arab Suriah waktu itu melarikan diri dari daerah itu selama konflik. Sejak itu, garis gencatan senjata didirikan dengan wilayah itu tetap berada di bawah kendali militer Israel.

Dalam laporannya keseokan hari setelah pencaplokan, surat kabar Inggris The Guardian menyebutkan, semua pencaplokan Israel kecuali nama DTG adalah strategi Perdana Menteri Israel kala itu, Menachem Begin, untuk menusuk mata Presiden Suriah, Hafez al-Assad, ketika mata lainnya sedang ditusuk oleh Ikhwanul Muslimin.

Langkah ini disebut akan mendapat dukungan luas di Israel karena DTG dianggap penting untuk keamanan permukiman di lembah di bawahnya. Selain itu, ini menjadi pertaruhan geopolitik Israel terhadap Assad.

Postcomended   Disebut Rezim Begundal, Iran Tembakkan Rudal Balistik

Dataran Tinggi Golan, tulis BBC, merupakan dataran tinggi berbatu di selatan-barat Suriah, yang memiliki signifikansi politik dan strategis yang memungkiri ukurannya.

Ketika Suriah mencoba merebut kembali DTG selama perang Timur Tengah 1973, kerugian besar dialami pasukan Israel, namun serangan mendadak itu berhasil digagalkan. Kedua negara menandatangani gencatan senjata pada 1974 dan pasukan pengamat PBB telah berada di jalur gencatan senjata sejak 1974.

Ironis ketika Suriah, saat masih menguasai DTG, artilerinya secara teratur menembaki seluruh Israel utara dari tahun 1948 hingga 1967. Namun toh wilayah ini kini tak sepenuhnya bisa diakui mereka ketika Israel berhasil merebutnya dan kini berada di bawah kendali negara zionis ini.

Postcomended   Paperless dan Penghijauan, Relevankah?

Penguasaan Israel atas DTG sangat fatal bagi Suriah. Pasalnya, dari ketinggian DTG, ibukota Suriah, Damaskus, sangat jelas terlihat dengan jarak sekitar 60 km. Dari DTG, Israel mendapatkan titik pandang yang sangat baik untuk memantau gerakan Suriah. Topografinya menyediakan penyangga alami terhadap dorongan militer apa pun dari Suriah.

Terlebih lagi daerah ini juga merupakan sumber utama air untuk daerah kering ini. Air hujan dari tangkapan Golan mengalir ke Sungai Yordan. Daerah ini menyediakan sepertiga dari pasokan air Israel. Tanah vulkanik suburnya digunakan untuk membudidayakan kebun-kebun serta untuk memelihara ternak. Golan juga menjadi resor ski di kawasan itu.

Suriah berhasrat mengamankan kembali DTG sebagai bagian dari kesepakatan damai. Pada akhir 2003, Presiden Suriah Bashar al-Assad mengatakan dia siap menghidupkan kembali pembicaraan damai dengan Israel. Namun Israel tidak begitu saja bersedia menyerahkan seluruh DTG.

Selama pembicaraan damai yang ditengahi AS pada 1999-2000, Perdana Menteri Israel Ehud Barak menawarkan untuk mengembalikan sebagian besar Golan ke Suriah. Namun Suriah menginginkan kembali seluruh DTG seperti pada pra-1967, yang akan memberi Damaskus penguasaan pantai timur Laut Galilea, sumber utama air segar Israel. Alhasil, hingga saat ini Israel dengan berbagai cara tetap berupaya mempertahankan DTG, kendatipun dikutuk sebagian besar dunia.***


Share the knowledge

Leave a Reply