14 Juli dalam Sejarah: Raja Irak yang Baru Berusia 23 Digulingkan Kudeta Berdarah

14 Juli dalam Sejarah: Raja Irak yang Baru Berusia 23 Digulingkan Kudeta Berdarah

Internasional
Share the knowledge

Pada tanggal ini tahun 1958, sekelompok perwira militer Irak melakukan kudeta berdarah yang berhasil menggulingkan monarki. Dalam kudeta yang dipimpin Mayor Jenderal Abdul Karim el Qasim, Raja Irak, Raja Faisal II yang baru berusia 23, dibunuh. 

Radio Baghdad pada hari itu mengumumkan, Angkatan Darat telah membebaskan rakyat Irak dari dominasi kelompok korup yang dikuasai “imperialisme”. Mulai sekarang, seru radio tersebut seperti dikutip BBC, Irak akan menjadi republik yang akan “menjaga hubungan dengan negara-negara Arab lainnya.

Radio itu juga mengumumkan bahwa Mayor Jenderal Abdul Karim el Qasim adalah perdana menteri baru, menteri pertahanan, dan panglima tertinggi Irak. Radio Baghdad juga mengumumkan bahwa Putra Mahkota Abdallah dan Nuri es Said, perdana menteri Federasi Irak-Yordania, telah dibunuh.

Dikatakan bahwa tubuh Putra Mahkota, yang merupakan paman kuat dari Raja Faisal, tergantung di luar Kementerian Pertahanan untuk dilihat semua orang.

Laporan dari Kedutaan Besar Amerika Serikat (AS) di Baghdad mengatakan, Kedutaan Besar Inggris telah digeledah dan dibakar. Duta Besarnya, Sir Michael Wright, dan istrinya, ditahan di kedutaan hingga baru dibebaskan pada sorenya.

Waktu itu sempat muncul laporan yang belum dikonfirmasi bahwa Raja Faisal sendiri juga telah terbunuh. Sepupunya, Raja Hussein dari Yordania, telah menyatakan dirinya sebagai ketua Federasi Arab –aliansi lima bulan antara Irak dan Yordania– atas “ketidakhadiran” Raja Faisal. Dalam sebuah siaran kepada rakyatnya, Raja Hussein mengutuk kudeta itu sebagai karya orang luar.

Postcomended   Putri Pendiri Huawei DItangkap, Gencatan Perang Dagang Cina-AS Terancam Bubar

Sementara rakyat Irak bersorak-sorai di jalan-jalan Baghdad, kabar ini menjadi alasan keprihatinan bagi kekuatan-kekuatan Barat yang mengkhawatirkan kepentingan minyak mereka, dan ketidakstabilan di wilayah tersebut.

Pemberontakan itu diduga terinspirasi oleh pemberontakan serupa yang dilakukan di Mesir oleh Kolonel Gamal Abdel Nasser enam tahun sebelumnya. Pada Februari 1958, dia membentuk persatuan politik antara Mesir dan Suriah yang dikenal sebagai United Arab Republic (UAR).

Stasiun radio di UAR secara alami senang dengan berita kudeta Irak. Tetapi para pemimpin Yordania dan Libanon khawatir hal itu akan menginspirasi pemberontakan nasionalis Arab di negara mereka sendiri dan telah meminta Inggris dan AS untuk mengirim pasukan ke negara mereka.

Presiden AS, Dwight D Eisenhower, dikatakan “sangat terganggu” oleh pemberontakan Irak dan telah menyerukan sidang darurat Dewan Keamanan PBB. Para pejabat di Washington khawatir kudeta Irak akan berarti berakhirnya Pakta Baghdad yang anggotanya termasuk Turki, Persia (Iran), dan Pakistan, yang dimaksudkan untuk membendung pengaruh Uni Soviet di wilayah tersebut.

Ada kekhawatiran kudeta Irak akan memiliki efek domino dan bahwa rezim minyak pro-Barat di Kuwait, Bahrain, dan Negara-negara Trucial, mungkin jatuh ke tangan kaum nasionalis Arab. Negara Trucial adalah protektorat Inggris yang ada sejak 1820-1971 sebelum menjadi negara Uni Emirat Arab.

Kini, lebih dari enam dekade kemudian, banyak rakyat Irak yang beranggapan bahwa kudeta tersebut adalah awal dari kekacauan yang terjadi hari ini, terutama sejak Irak dikuasai rezim brutal Saddam Hussein.

Postcomended   NASA dan NOAA: Jaringan 5G Bisa Kacaukan Ramalan Cuaca yang Berimplikasi pada Nyawa Manusia

Pada peringatan revolusi 14 Juli yang ke-60 tahun lalu (2018), dilansir laman Arab News, warga Irak mulai berandai-andai tentang apa yang mungkin terjadi jika Raja Faisal II berhasil selamat dari kekuatan politik yang berputar dan meledak di Timur Tengah pada saat itu.

Bagaimanapun, dengan melihat kondisi saat ini, banyak yang percaya bahwa monarki konstitusional dipandang sebagai periode emas dalam sejarah negara itu. Bahwa eksekusi raja memberi jalan ke republik yang kacau, Arab News melaporkan.

Sadaih Khalid, 45, seorang pengusaha Baghdad, misalnya beranggapan, bahwa mereka tidak akan melewati semua tragedi yang terjadi hingga hari ini jika keluarga kerajaan masih eksis. Dia menggambarkan Mayor Jenderal Abdul Karim el Qasim sebagai “orang gila” yang membunuh raja dan anggota keluarga kerajaan lainnya dengan “darah dingin.”

Sejarah berulang. Pemerintahan Qassim yang bikin cemas Barat, dikudeta pada 1963, tepat pada bulan Ramadan, oleh partai Baath pimpinan Saddam Hussein. Kala itu Hussein diketahui sebagai boneka AS; boneka yang kemudian membangkang pada tuannya.

Kerajaan Irak Didirikan

Kerajaan Irak didirikan pada 932 di bawah Faisal I setelah jatuhnya kekaisaran Ottoman. Faisal, yang lahir di Arab Saudi, adalah anggota dinasti Hashemite dan bertempur bersama T.E. Lawrence –atau juga dikenal sebagai Lawrence of Arabia– selama Perang Dunia I.

Faisal I memerintah selama 12 tahun di bawah monarki konstitusional yang dipaksakan oleh Inggris hingga kematiannya karena serangan jantung pada usia 48 tahun. Putra Faisal, Raja Ghazi, naik takhta, tetapi meninggal enam tahun kemudian dalam kecelakaan mobil di Baghdad.

Postcomended   Setelah Florence, Amerika Diramalkan Bakal Menuai Lagi Empat Badai

Gelar Raja pun jatuh ke tangan Faisal II. Karena saat itu Faisal II baru berusia 3 tahun, pemerintahan dipegang sang paman, Putra Mahkota Abdallah.

Faisal II dididik di Inggris di Harrow, bersama dengan sepupunya, Raja Hussein dari Yordania. Dia dikenal sangat cerdas. Faisal tampaknya ditakdirkan untuk membangun fondasi ayah dan kakeknya ketika ia naik takhta pada usia 18, tepatnya pada 1953.***


Share the knowledge

Leave a Reply