Hoegeng, satu dari tiga polisi jujur di Indonesia selain polisi tidur dan patung polisi ~Gus Dur

Pada tanggal ini tahun 2004, Kapolri era 1968-1971, Jenderal (purn) Hoegeng Iman Santoso, meninggal dunia. Hingga akhir hayatnya, polisi jujur ini dikenal menjadi salah satu pendukung Petisi 50; kelompok penentang Suharto.
Almarhum berpulang saat sedang dirawat di RSCM, dini hari (14/7/2004). Jenazah disemayamkan di kediamannya, perumahan Pesona Kayangan Depok.

Saat hidup, Hoegeng menolak dimakamkan di taman makam pahlawan Kalibata, karena di sana dimakamkan jMuhammad Thahir, mantan asisten Direktur Utama Pertamina, Ibnu Sutowo.

Thahir (bersama Ibnu) adalah terduga koruptor besar-besaran di Pertamina pada 1970-an namun hukumannya kenudian tak jelas dan malah dimakamkan di TMP Kalibata saat meninggal 1976.

Postcomended   25 Juli dalam Sejarah: Bayi Tabung Pertama Dilahirkan ke Dunia, Kontroversi pun Meletup

Sebelumnya, Bung Hatta juga menolak dimakamkan di pemakaman ini dengan alasan sama. Bung Hatta diketahui ikut mengaudit kekayaan Thahir.

Ibnu juga hanya dipecat oleh rezim Suharto. Saat meninggal 2001, Ibnu juga dimakamkan di TMP Kalibata.

Hoegeng akhirnya dimakamkan di TP Giritama, Tonjong, Parung, Bogor.

Kesehatan Hoegeng diberitakan memburuk setelah jatuh saat hendak ke kamar kecil, dan langsung dirawat di rumah sakit sejak minggu 13 Mei 2004.

Saat itu, dokter di rumah sakit mengatakan bahwa almarhum mengalami pendarahan di bagian lambung. Selain itu, juga ditemukan sedikit penyumbatan di saluran pembuluh jantung.

Sebagai aktivis Petisi 50, Hoegeng yang pernah menjabat Kapolri oleh Soeharto pernah dilarang menghadiri peringatan Hari Bhayangkara atau ulang tahun kepolisian yang jatuh setiap tanggal 1 Juli.

Postcomended   19, 20, 21 Agustus dalam Sejarah: Perbudakan di AS Dimulai

Petisi 50 adalah kelompok oposisi terhadap rezim Orde Baru yang dipimpin Soeharto. Anggotanya terdiri dari para purnawirawan perwira tinggi tentara, purnawirawan perwira tinggi polisi, politisi sipil, hingga aktivis mahasiswa.

Selain Hoegeng, penandatangan Petisi 50 adalah Jenderal A.H. Nasution, Ali Sadikin, Mohammad Natsir, HR Dharsono, dan Syafruddin Prawiranegara. Petisi ini diterbitkan pada 5 Mei 1980.

Petisi 50, mengkritik sikap politik Soeharto. Kala itu Soeharto mencap semua orang yang menentangnya berarti menentang Pancasila. Anti-Soeharto berarti anti-Pancasila.

Soeharto juga memanfaatkan Pancasila untuk menekan lawan-lawan politiknya. Dia juga meyakinkan ABRI untuk memihak satu golongan, bukan memihak kepentingan rakyat.(***/detikcom/merdeka/republika)

Share the knowledge