Internasional

14 November dalam Sejarah: Kritikus Terkemuka Presiden Ferdinand Marcos Dibunuh

Cesar Climaco (Youtube)

Cesar Climaco (YouTube)

Pada tanggal ini tahun 1851, novel “Moby Dick” karya Herman Melville, pertama kali dipublikasikan di Amerika Serikat oleh Harper & Brothers, New York. Awalnya, novel ini kurang mendapat sabutan, namun setelah Melville meninggal, novel ini diakui sebagai salah satu masterpiece dalam kesusasteraan Amerika. Di tanggal sama tahun 1984, seorang Wali Kota yang kritis terhadap rezim diktatorial Filipina, Ferdinand Marcos, dibunuh.

Wali Kota Zamboanga City, Cesar Climaco, 68, ditembak seorang pria bersenjata hingga tewas, di kota kelahirannya itu. Climaco dikenal sebagai seorang kritikus terkemuka, musuh politik diktator Filipina, Ferdinand Marcos.

Laman UPI melaporkan, Climaco ditembak saat sedang berbicara dengan seorang korban kebakaran yang menghancurkan lingkungan pusat kota. Seorang polisi, Ben Arquiza, lalu membawanya ke rumah sakit, namun dia akhirnya meninggal akibat luka tembakan di belakang kepalanya, yang berasal dari senjata kaliber .45.

Mayor Jenderal Delfin Castro, pemimpin militer di daerah selatan yang dilanda pemberontakan, memerintahkan pencarian terhadap penyerang tak dikenal itu di kota yang berjarak 550 mil di selatan Manila ini. Beberapa jam setelah pembunuhan itu, Marcos memerintahkan penjabat kepala pasukan bersenjata, Letnan Jenderal Fidel Ramos, terbang ke Zamboanga, dan secara pribadi mengecek kasus pembunuhan itu.

Postcomended   Wacana "Peluru Darah Babi" Donald Trump, dan Kengerian Muslim pada Babi

Dalam sebuah pernyataan, Marcos menyebut pembunuhan itu sebagai “kejahatan keji” pada saat bangsa itu belum pulih sepenuhnya dari pembunuhan musuh bebuyutan dia lainnya, Benigno Aquino pada Agustus 1983. Majelis Nasional dengan suara bulat mengeluarkan resolusi mengutuk pembunuhan keji ini dan menuntut penyelidikan dan mendesak pemerintah menemukan cara dan sarana untuk menyelidiki pembunuhan berbau politik ini.

Para saksi seperti dilansir UPI mengatakan, penembak kidal berbaju cokelat dan memakai sandal, melarikan diri dengan berjalan kaki setelah penembakan. “Dia (Climaco) mengerang dan darah memancar dari kepalanya,” kata Arquiza.

Hasil otopsi menyebutkan, peluru masuk di bawah telinga kanan dan keluar melalui telinga kiri. Selongsong peluru  diambil dari tempat kejadian, di mana Climaco sebelumnya sempat membantu memadamkan kobaran api akibat  kebakaran pada diniharinya.

Postcomended   KPK Lelang Mobil Sitaan dari Para Koruptor

Pihak berwenang lalu menutup pusat kota Zamboanga dengan mengerahkan pasukan, tank, dan personel pengangkut lapis baja. Mereka mengatakan empat tersangka telah ditangkap tetapi menolak memberikan rincian.

Climaco terpilih menjadi anggota parlemen zfilipina pada Mei 1984 tetapi dia menolak melepaskan pekerjaannya sebagai walikota dan kehilangan kursinya di majelis nasional. Climaco yang adalah seorang kepala tim anti-korupsi selama masa mudanya, kalah tiga kali sebagai calon senator sebelum darurat militer diproklamasikan pada 1972.

Sebagai wali kota, dia suka sekali berkendara melalui pusat kota Zamboanga dengan sepeda motornya –hanya mengenakan T-shirt dan celana pendek– untuk menghemat bensin katanya. Beth Panlilio, sekretaris walikota, mengatakan kepada wartawan bahwa Climaco hari itu meninggalkan kantornya lebih awal dengan mengatakan dia tidak enak badan.

Postcomended   Singapura Pilih Presiden Wanita Melayu-Muslim Pertama

Climaco yang pergi dengan sepeda motornya, berhenti untuk berbicara dengan para korban kebakaran. “Ada sejumlah orang di sana dan mereka melihat orang bersenjata pistol ini menembak wali kota,” kata Arquiza.***

 

Share the knowledge
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

To Top