http://kompol.info/wp-content/uploads/2015/05/hoegeng-ok.jpg

Hari ini, 96 tahun silam, Hoegeng Iman Santoso dilahirkan di Pekalongan, Jawa Tengah. Dia seorang polisi panutan yang sayangnya kejujurannya justru menjadi batu sandungan bagi orang-orang yang berkuasa. Saking langkanya polisi seperti Hoegeng, Gus Dur pernah beranekdot: ada tiga polisi jujur di Indonesia yakni patung polisi, polisi tidur, dan Hoegeng. Kisah sepatu yang berukuran besar dan tak bermerek, cukup menunjukkan orang macam apa dia.

Mantan sekretaris Hoegeng, Soedharto Martopoespito, dalam buku “Hoegeng Polisi dan Menteri Teladan” yang ditulis Suhartono tahun 2013, mengisahkan, saat itu dia melihat Aco, sopir mobil dinas Hoegeng, tampak sedih.

Aco bingung karena belum berhasil memenuhi permintaan Hoegeng menjualkan sepasang sepatu miliknya di pasar loak. Ukuran sepatu Hoegeng yang besar, dan mereknya pun tak dikenal, membuatnya tak banyak diminati.

Soedharto lalu mengontak seorang perwira polisi kenalannya, AKBP Totok Soesilo. Totok adalah polisi yang diperbantukan sebagai sekretaris menteri. Dia juga lumayan berpunya karena memiliki usaha penggilingan ulang karet di Medan. Totok pernah menawarkan bantuan jika Soedharto memiliki masalah.

Totok pun membeli sepatu Hoegeng seharga sepatu baru merek terkenal, Rp 1.200. “Itu hampir sama dengan gaji saya selama sebulan,” kenang Soedharto. Totok mewanti-wanti Soedharto agar tak bilang pada Hoegeng bahwa dia yang membeli sepatu itu.

Soedharto lalu memberikan uang itu pada Aco, seraya mewanti-wanti bahwa jika Hoegeng bertanya, bilang saja ada yang beli sepatu itu,Keesokan harinya, setibanya di kantor, Hoegeng langsung memeluk Dharto. “Terima kasih ya Mas Dharto, terima kasih,” kata Hoegeng.

Sampai akhir hayatnya Hoegeng tak pernah tahu siapa yang membeli sepatu itu. Soehartono baru menceritakan kisah ini kepada keluarga Hoegeng pada 2013, jauh setelah Hoegeng meninggal pada 2004.

Karakter sederhana dan jujur Hoegeng membuatnya tak pernah menjadi kaya. Hoegeng tidak pernah mau memanfaatkan fasitas negara untuk keluarganya.

Tatkala dia diangkat sebagai Kepala Jawatan Imigrasi, dia meminta istrinya menutup bisnis toko bunganya yang lumayan berkembang. Alasannya, “Bapak tak ingin orang-orang beli bunga di toko itu karena jabatan bapak,” kata istri Hoegeng, Merry.

Kisah lainnya, ketika pejabat di kepolisian dan kejaksaan meminta Hoegeng melepaskan seorang penyelundup cantik yang ditangkap, Hoegeng menjadi heran. Hoegeng tahu bagaimana penyelundup keturunan Makassar-Cina ini melancarkan rayuan maut dengan mengirimi Hoegeng berbagai barang mewah yang kemudian dikembalikan.

Belakangan Hoegeng memperoleh informasi bahwa wanita ini tak segan-segan tidur dengan pejabat demi memuluskan aksi penyelundupannya.

Kisah kejujuran Hoegeng yang paling fenomenal adalah kisah Sum Kuning, pada 1970, yakni tentang pemerkosaan terhadap seorang penjual telur bernama Sumarijem (18), oleh sejumlah pemuda yang kemudian diketahui anak-anak pejabat.

Alih-alih memproses laporan Sum ke kepolisian Yogyakarta, Sum malah dituding melakukan laporan bohong bahkan kemudian dituduh anggota gerwani oleh kepolisian setempat. Polisi juga malah mencari korban yang dituduhkan sebagai pemerkosa Sum, seorang tukang bakso, Trimo.

Sum pun ditahan dengan perlakuan buruk. Dia dipaksa mengaku diperkosa oleh Trimo. Namun pengadilan berpihak kepada Sum. Hakim Ketua Lamijah Moeljarto memutuskam Sum tak terbukti memberikan keterangan palsu, karenanya Sum harus dibebaskan.

Hoegeng yang terus memantau perkembangan kasus ini, akhirnya membentuk tim khusus. “Kita tak gentar menghadapi orang-orang gede siapa pun. Kita hanya takut kepada Tuhan Yang Maha Esa. Jadi kalau salah tetap kita tindak,” kata Hoegeng waktu itu.

Namun ketika kemudian Presiden Soeharto turun tangan, hancurlah karir Hoegeng. Pada 2 Oktober 1971, Hoegeng dipensiunkan sebagai Kapolri. Beberapa pihak menilai Hoegeng sengaja dipensiunkan untuk menutup kasus ini.(***/merdeka.com/dari berbagai sumber)