https://images2.tempo.co/data/2014/01/13/id_254302/254302_620.jpg

Hari ini, 1974, terjadi peristiwa kerusuhan massal yang dikenal dengan nama Malari, kependekan dari Malapetaka Lima Belas Januari. Kejadian ini dipicu mulai kecewanya rakyat yang diwakili mahasiswa terhadap kondisi perekonomian dan demokrasi Indonesia di bawah rezim Orde Baru (Orba). Apalagi, praktik kolusi, korupsi dan nepotisme (KKN) mulai terendus. Sejak saat itu, Suharto berhasil melanggengkan kekuasaannya hingga 1998 dengan gaya represif.

Kedatangan Perdana Menteri (PM) Jepang kala itu, Tanaka Kakuei, digunakan mahasiswa untuk mengungkapkan kekecewaannya dengan melakukan demonstrasi besar-besaran. Secara umum mahasiswa merasa tidak puas terhadap kebijakan pemerintah terkait kerja sama dengan pihak asing untuk pembangunan nasional.

Salah satu yang diproteskan adalah membanjirnya modal dan produk asal Jepang yang dianggap mahasiswa mengancam ekonomi nasional. Demonstrasi terhadap PM Jepang ini menyusul demonstrasi mahasiswa dua bulan sebelumnya untuk menolak kedatangan JP Pronk, Ketua Inter-Governmental Group on Indonesia (IGGI), lembaga “pemberi utang” kepada pemerintah Indonesia bentukan Belanda.

 

Postcomended   10 Agustus dalam Sejarah: Jalur Kereta Api Pertama di Indonesia Diresmikan

Dilansir Merdeka.com, Saat Tanaka dijadwalkan tiba di Indonesia, mahasiswa berencana menyambut kedatangannya di Bandara Halim Perdanakusuma. Namun aparat yang mengendus aksi ini sudah memblokade bandara.

Mahasiswa yang berkumpul di satu kampus universitas untuk merancang strategi aksi lanjutan akibat gagal di Halim, tiba-tiba mendengar informasi bahwa terjadi kerusuhan di kawasan Jakarta pusat.

Pertokoan di kawasan Senen, Jakarta Pusat, dan Roxy, Jakarta Barat dibakar dan dijarah massa. Suasana mencekam. Selama dua hari Jakarta diselimuti asap.

Pada 21 Januari 1974, Menteri Pertahanan dan Keamanan kala itu, Maraden Panggabean, melaporkan dalam rapat pleno, kerusuhan telah menyebabkan 11 meninggal, ratusan lainnya terluka, 775 orang ditangkap. Selain itu 807 mobil dan 187 sepeda motor rusak/dibakar, 144 gedung rusak atau terbakar (termasuk pabrik Coca-cola), dan 160 kg emas hilang dari sejumlah toko.

Namun kalkulasi pihak Gubernur Jakarta saat itu, Ali Sadikin, berbeda. Ali mebyebutkan, 522 mobil dirusak/dibakar, 137 motor dirusak, 5 bangunan ludes dibakar termasuk proyek pasar Senen bertingkat 4, gedung PT Astra di Jalan Sudirman, dan 113 buah bangunan lainnya dirusak.

Atas peristiwa itu, kepolisian menuding aktivis mahasiswa kala itu, Hariman Siregar, serta beberapa rekannya, sebagai otak pelaku kerusuhan. Mahasiswa yang kala itu menjabat Ketua Dewan Mahasiswa Universitas Indonesia (UI), menolak tuduhan tersebut.

Insiden kerusuhan itu kata Hariman seperti dikutip Merdeka.com, di luar kendali mahasiswa. Hariman menduga ada pihak yang menunggangi aksi mahasiswa.

Postcomended   15 Desember dalam Sejarah: Blockbuster Terbesar dalam Sejarah Amerika, Dirilis

Kenyataannya, hingga kini dalang peristiwa Malari masih misterius. Setelah sempat ditahan dan dilakukan persidangan, Hariman dan rekan-rekannya tidak terbukti bersalah.

Peristiwa Malari alih-alih membebaskan rakyat dari kesengsaraan, justru bagai menjadi peringatan penguasa rezim Orba kepada masyarakat dan mahasiswa bahwa setiap pemberontakan akan dibungkam.

Kenyataannya, Suharto dengan segala kontroversi kasus KKN sepanjang pemerintahannya bisa bertahan di kursi kekuasaan hampir dua dekade kemudian, hingga baru mahasiswa generasi 1990-an yang berhasil melengserkannya pada 1998. ***

Share the knowledge