Margaretha Zelle alias Mata Hari (http://www.emersonkent.com/images/matahari.jpg)

Dia menolak menggunakan penutup mata, bahkan tersenyum kepada algojonya. Margaretha Zelle (atau Zeel), alias “Mata Hari,” seorang penari eksotis yang dituduh mata-mata, menghadapi kematiannya di usia 41 di tangan regu tembak di luar Paris, hari ini, 100 tahun yang lalu.

Lahir pada tahun 1876 di Belanda, dia adalah putri seorang pedagang topi yang pernah makmur namun kemudian bangkrut. Pada usia 18, dia menikahi seorang perwira di tentara kolonial Belanda.

Bersama-sama mereka tinggal di pos militer sang suami di Indonesia (Hindia Belanda), di mana mereka memiliki dua anak, satu di antaranya meninggal segera setelah kelahiran. Selama di negara yang dulu bernama Hindia Belanda ini, mereka tidak bahagia, saling tidak setia, dan kadang-kadang si suami kasar secara fisik.

https://i.pinimg.com/736x/5b/dc/82/5bdc8262dac72d4cc7a455c343705d4c–matahari-vintage-photographs.jpg

Setelah kembali ke Eropa pada 1902, pasangan itu akhirnya bercerai. Margaretha lalu bermigrasi ke Paris, dan menemukan dirinya menjadi penari striptis yang mengaku keturunan Timur Jauh. Dia lalu menyebut dirinya Mata Hari, kata yang berasal dari bahasa Melayu intuk “sun”.

Dimulai pada 1905, dia memukau banyak orang di ibu kota budaya Eropa. Karirnya berlangsung sekitar satu dekade sampai dia menyerah pada kehadiran peniru yang lebih muda dan lebih atletis.

Postcomended   25 September dalam Sejarah: Daendels Meminta Ibukota Kabupaten Bandung Pindah Mendekati Jalan Raya Pos

Tapi pesonanya masih melimpah, apalagi dia fasih dalam beberapa bahasa, hingga kemudian dia menemukan kesuksesan sebagai pelacur: merayu orang kaya dan berkuasa dari berbagai negara, termasuk pejabat tinggi pemerintah daerah. Karena negara asalnya tetap netral selama Perang Dunia I, dia diizinkan melintasi perbatasan tanpa banyak masalah.

Perjalanan dan gaya hidupnya banyak menarik perhatian: era sebelum perang, perilakunya mungkin sekadar berurusan dengan masalah moral. Tapi selama perang, kelakuannya dicurigai terkait aksi apa spionase.

Satu dari beberapa kekasihnya adalah Mayor Arnold Kalle, seorang atase militer Jerman. Entah dia mulai menganggap Mata Hari sebagai gangguan atau beban, Kalle berusaha membuangnya. Dengan menggunakan kode berbahasa Prancis yang dia tahu sudah bocor, dia mengirim pesan dengan gampangnya untuk mengidentifikasi Mata Hari sebagai mata-mata.

Mata Hari ditangkap di sebuah hotel mewah di Paris pada Februari 1917. Sidang tertutupnya berlangsung lima bulan kemudian. Meskipun isi tuntutan menyalahkannya atas kematian 50.000 tentara Prancis, namun tidak ada bukti atau penjelasan khusus mengenai bagaimana dia bisa menyebabkan kematian mereka.

Postcomended   Bintang Kejora Hiasi Langit Subuh Juni 2017

“Tidak ada yang pernah mengidentifikasi bahwa kekalahan (tentara Prancis) atau kebocoran informasi tertentu, dapat disalahkan kepadanya,” tulis Pat Shipman di Femme Fatale: Love, Lies, dan Unknown Life Mata Hari, yang menggambarkan warisannya sebagai “Perpaduan yang kaya mengenai mitos dan legenda yang berlangsung lama”.

Meskipun kehidupan asmaranya diwarnai ketidaksetiaan di satu sisi, namun tidak ada bukti bahwa dia memberikan informasi bagi siapapun.

Tetapi pada 1917, militer Prancis dalam keadaan sudah sangat lelah; semangat melorot, dan beberapa divisi militer bahkan mulai memberontak. Shipman berpendapat, pihak Sekutu, dan Prancis khususnya, “membutuhkan seseorang untuk disalahkan, dihukum, dan dikalahkan.”

Jadi mereka menemukan kambing hitam yang sempurna dalam diri seorang asing yang tidak bermoral ini yang secara sensual telah dengan tanpa malu menggoda semua tentara.

Pada 25 Juli 1917, pemerintah militer Prancis memvonisnya bersalah melakukan spionase. Pemerintah Belanda antas nama rakyatnya tidak melakukan intervensi pada putusan ini. Mata Hari dieksekusi setelah menghabiskan waktu berbulan-bulan dalam keadaan kekurangan gizi dan penjara yang penuh serangga.

 

Postcomended   10 Oktober dalam Sejarah: Batavia Banjir Darah, VOC Membantai Warga Etnis Cina

Mitos beredar segera setelah Mata Hari bertemu regu tembak. Desas-desus mengatakan bahwa algojo Prancis telah memelesetkan tembakan, sehingga dia bisa melarikan diri.

Kenyataannya jauh dari romantis: setelah dia ditembak mati, jenazahnya disumbangkan ke sekolah kedokteran Universitas Paris untuk dibedah. Untuk semua permintaan yang terinspirasi tubuhnya sebelumnya, namun begitu dia mati, tak seorang pun menginginkannya.(***/time)

Share the knowledge