Internasional

15 Oktober dalam Sejarah: Napoleon Tiba di Pengasingannya di Pulau Tandus di Tengah Atlantik

Longwood House in Saint Helena, where Emperor Napoleon Bonaparte spent the last years of his life. (AFP)

Longwood House in Saint Helena, where Emperor Napoleon Bonaparte spent the last years of his life. (AFP via Hindustan Times)

Pada tanggal ini tahun 1990, Pemimpin Uni Soviet, Mikhail Gorbachev, dianugrahi Nobel Perdamaian karena reformasi yang dia lakukan yang memicu bubarnya rezim komunis Uni Soviet dan mengakhiri perang dingin. Pada 1917, penari erotis sekaligus pelacur kelas atas, dieksekusi dengan tuduhan menjadi mata-mata Jerman yang mengakibatkan 40.000 pasukan Prancis gugur. Pada 1815, Napoleon tiba di pengasingannya yang menyiksanya, pulau batu tandus St Helena.

Setelah kekalahannya pada Pertempuran Leipzig pada Oktober 1813, Napoleon Bonaparte mundur ke Paris di mana (karena kurangnya dukungan dari marsekal militernya) ia dipaksa meninggalkan tahtanya pada April 1814. Kekuatan Eropa mengasingkannya ke pulau Elba di Mediterania.

Namun, dalam waktu sebelas bulan, seperti dikisahkan laman Eye Witness to HistoryNapoleon berusaha “kembali” ke benua Eropa dengan kepala pasukan yang tergesa-gesa ingin mengembalikan Napoleon ke tahta Prancis. Kekalahan Napoleon terjadi pada bulan Juni 1815 di Pertempuran Waterloo.

Kali ini, kekuatan Eropa tidak akan mengambil risiko pada kemungkinan pemberotakan kembali Napoleon. Pada 15 Oktober tahun itu juga, mereka mengasingkannya ke pulau St Helena; suatu pulau batu tandus yang terletak di Samudera Atlantik Selatan.

Postcomended   Negara Maju Kian Akrab dengan Startup Sewa Sepeda dan e-Skuter

Di antara rombongan kecil yang menemani Kaisar terguling itu ke pengasingan adalah Emmanuel comte de Las Cases –selain juga pelayan setianya Louise-Joseph Marchand– yang menyimpan buku harian pengalamannya. Cases menggambarkan kegalauan hatinya beberapa minggu sebelum mereka akan dibawa ke pulau tandus di tengah lautan luas itu.

Beberapa hari setelah tiba di St Helena, 23-24 Oktober 1815, Cases menulis bahwa sang kaisar yang pernah memiliki kekuatan tak terbatas, kini menempati gubuk berukuran hanya beberapa meter persegi, yang bertengger di atas batu, tidak dilengkapi perabotan, dan tanpa daun jendela bahkan sekadar gorden pun.

Gubuk itu menurut Cases harus menjadi kamar tidurnya, ruang ganti, ruang makan, ruang belajar, ruang duduk, dll. Napoleon harus keluar dulu jika gubuk ini akan dibersihkan. Makanannya terdiri dari sejumlah hidangan buruk; kopi, air, mentega, minyak, roti, anggur, yang begitu buruknya sehingga mereka benci untuk menyentuhnya.

Cases menceritakan bagaimana sang kaisar mengeluh sembari mengingatkan tentang siapa dia. “Ini adalah penderitaan kematian. Untuk ketidakadilan dan kekerasan, mereka sekarang menambahkan penghinaan dan siksaan yang berlarut-larut. Jika saya begitu membenci mereka, mengapa mereka tidak menyingkirkan saya?”

“Bagaimana mungkin raja-raja Eropa mengizinkan karakter sakral kedaulatan dilanggar dalam diri saya? Apakah mereka tidak melihat bahwa mereka, dengan tangan mereka sendiri, mengerjakan kehancuran mereka sendiri di St. Helena?” seru sang Kaisar, seperti dikisahkan Cases.

Postcomended   1 Desember dalam Sejarah: Terowongan Bawah Laut Inggris-Prancis Akhirnya Tembus

Dikutip dari laman History, Napoleon Bonaparte (1769-1821), juga dikenal sebagai Napoleon I, adalah seorang pemimpin dan kaisar militer Prancis yang menaklukkan sebagian besar Eropa pada awal abad ke-19. Lahir di pulau Corsica, Napoleon dengan cepat naik melalui jajaran militer selama Revolusi Perancis (1789-1799).

Setelah merebut kekuasaan politik di Perancis dalam kudeta tahun 1799, ia menobatkan dirinya sebagai kaisar pada 1804. Ahli strategi militer yang cerdik, ambisius, dan terampil ini, berhasil mengobarkan perang melawan berbagai koalisi negara-negara Eropa dan memperluas kekaisarannya.

Napolenon meninggal pada usia 51 tahun. Kematiannya cukup kontroversial. Meskipun disebutkan dia mengalami sakit tukak lambung serta kanker perut, namun surat wasiatnya menunjukkan bahwa dia dibunuh.

Dokter François Carlo Antommarchi, yang memimpin otopsi atas jasad Napoleon menyimpulkan, penyebab kematiannya adalah kanker perut; sama seperti yang terjadi pada mendiang ayahnya. Hasil ini dianggap sesuai dengan yang diinginkan penguasa Inggris yang tidak mau dihujani kritik karena kurang peduli pada kehidupan Napoleon di pengasingannya

Namun begitu, wasiat yang diucapkan Napoleon pada awal April 1821, seperti dilansir laman Biography.com, mengungkapkan bahwa Napoleon dibunuh. Isi surat itu: “Aku berharap, abu jenazahku disebar di tepian Sungai Seine, di tengah-tengah orang Prancis yang sangat aku cintai. Aku mati sebelum waktunya, dibunuh oleh oligarki Inggris dan para pembunuh bayarannya.”

Postcomended   Jantung Orang yang Setiap Hari Terpapar Polusi, Lebih Besar

Keinginan Napoleon tidak dipenuhi. Inggris tetap menguburkannya di pulau St Helena, tepatnya di Valley of the Willows. Baru pada 1840, Raja Prancis Louis Philippe I mendapat izin dari Inggris untuk mengembalikan jasad Napoleon ke Prancis.

Satu makalah yang dimuat di jurnal Nature yang ditulis oleh ilmuwan asal Swedia, Sten Forshufvud pada 1961 berdasarkan catatan harian pembantu Napoleon, Louis- Joseph Marchand, menyebutkan, Napoleon diduga meninggal karena keracunan arsenik yang disengaja.***

Share the knowledge
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

To Top