Internasional

Cina Buktikan Musisi Uighur Ini Masih Hidup

Share the knowledge

 

Abdurehim Heyit, musisi Uighur terkenal dengan gitar tradisional dua senarnya, Dutar. Pemerintah Turki menduga Heyit telah dibunuh oleh pemerintah Cina, namun disangkal Cina dengan memublikasikan vido yang menunjukkan dia baik-baik saja (gambar dari: https://www.youtube.com/watch?v=GVCMmRH9uwM)

Abdurehim Heyit, musisi Uighur terkenal dengan gitar tradisional dua senarnya, Dutar. Pemerintah Turki menduga Heyit telah dibunuh oleh pemerintah Cina, namun disangkal Cina dengan memublikasikan video yang menunjukkan dia baik-baik saja (gambar dari: https://www.youtube.com/watch?v=GVCMmRH9uwM)

Media pemerintah Cina merilis video yang menunjukkan seorang musisi Uighur yang mengaku baik-baik saja. Sebelumnya, dia –yang diduga ditahan akibat lirik lagunya membawa pesan terorisme– dilaporkan telah dibunuh. Warga Uighur mencurigai keaslian video itu.

 

Video itu, bertanggal 10 Februari, menampilkan seorang pria yang disebut sebagai Abdurehim Heyit yang menyatakan diri bahwa dia dalam “kesehatan yang baik”. Sebelumnya, Turki meminta Cina menutup kamp-kamp menyusul laporan kematian Heyit, dan isu bahwa ada hingga satu juta warga Uighur ditahan di kamp-kamp tersebut.

Beberapa warga Uighur mempertanyakan keaslian video tersebut. Nury Turkel, ketua Proyek Hak Asasi Manusia Uighur yang berpusat di Amerika Serikat (AS), mengatakan kepada BBC bahwa beberapa aspek dari video itu “mencurigakan”.

Video ini dirilis oleh layanan berbahasa Turki dari China Radio International, yang menegaskan bahwa kritik Turki terhadap Cina itu tidak berdasar. Dalam video itu, Heyit mengatakan dia dalam proses penyelidikan karena diduga melanggar hukum nasional.

Postcomended   12 Oktober dalam Sejarah: Dua Bom Meledak di Dua Klub Malam di Kuta Bali

Kementerian luar negeri Turki mengatakan bahwa warga Uighur yang ditahan menjadi sasaran “penyiksaan” di “kamp-kamp konsentrasi”. Juru bicara kementerian luar negeri Turki, Hami Aksoy, mengatakan, laporan kematian Heyit semakin memperkuat reaksi publik Turki terhadap pelanggaran hak asasi manusia yang serius di Xinjiang.

“Diperkenalkannya kembali kamp-kamp konsentrasi di abad ke-21 dan kebijakan asimilasi sistematis pemerintah Cina terhadap Turki Uighur merupakan hal yang sangat memalukan bagi kemanusiaan,” kata Aksoy.

Dia meminta Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, mengambil langkah-langkah efektif mengakhiri tragedi kemanusiaan ini. Cina menggambarkan komentar itu “sangat tidak dapat diterima”.

Sejauh ini hanya sedikit negara mayoritas Muslim yang bergabung dalam kecaman internasional terhadap tuduhan tersebut. Para analis mengatakan, banyak negara Muslim yang takut pada pembalasan politik dan ekonomi dari Cina.

Namun Turkel mengakui rilis video menunjukkan bahwa pemerintah Cina menanggapi tekanan publik. “Pemerintah Cina menanggapi Turki karena pengaruhnya di dunia Muslim,” katanya, seraya menambahkan bahwa Guterres “sangat pendiam” mengenai masalah penahanan di Xinjiang ini.

“Bola ada di pengadilan pemerintah Cina. Mereka menahan Heyit. Mereka menahan 10% dari populasi Uighur. Mereka berusaha memberi tahu dunia bahwa tidak ada pelecehan dan ini hanya disebut (oleh mereka sebagai) pusat pelatihan kejuruan. Ini adalah tanggung jawab mereka untuk membuktikan videonya otentik,” cecar Turkel.

Postcomended   Rahasia Teknologi Layar Fleksibel Samsung Diduga Dijual ke Perusahaan Cina

Turkel mengatakan, pemerintah Cina mampu membuat video karena “keunggulan teknologi yang dimilikinya”. “Dengan teknologi saat ini, dimungkinkan untuk membuat presentasi video. Ini tidak sulit,” katanya.

Amnesty International mengatakan sangat prihatin atas laporan kematian Heyit, musisi terkenal yang memainkan Dutar, instrumen dua senar yang terkenal sulit dikuasai. Pada suatu waktu, dia dihormati di seluruh Cina. Dia belajar musik di Beijing dan kemudian tampil bersama kelompok seni nasional.

Alasan Penahanan Heyit

Penahanan Heyit dilaporkan akibat satu lagu yang dia bawakan yang berjudul “Ayah”. Lirik lagu ini berasal dari puisi Uighur yang menyerukan generasi muda untuk menghormati pengorbanan orang-orang sebelum mereka. Tiga kata dalam lirik lagu tersebut, “martir perang”, rupanya membuat pemerintah Cina menyimpulkan bahwa Heyit membawa pesan terorisme.

Kehidupan orang-orang Uighur, minoritas Muslim yang bermukim di wilayah Xinjiang; barat laut Cina, telah diawasi ketat oleh otoritas Cina. Mereka merupakan 45% dari populasi di Xinjiang. Dalam beberapa tahun terakhir ini, sejumlah besar warga Uighur telah melarikan diri ke Turki dari Cina.

Banyak perbedaan mendasar etnis ini dengan umumnya etnis Cina. Bahasa mereka misalnya lebih mendekati Turki. Secara budaya, mereka melihat diri mereka lebih dekat dengan negara-negara Asia Tengah.

Postcomended   Setelah Teriak "Saya Bukan Penjahat Perang!" Komandan Perang Bosnia Tenggak Racun dan Tewas

Dalam beberapa dekade terakhir, sejumlah besar orang dari etnis Han (mayoritas etnis Cina) telah bermigrasi ke Xinjiang. Hal ini menyebabkan orang-orang Uighur merasa budaya dan mata pencaharian mereka terancam.
Xinjiang secara resmi ditetapkan sebagai wilayah otonom di Cina, seperti Tibet di selatannya.***

 


Share the knowledge
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

To Top