Lifestyle

17 Juli dalam Sejarah: “Hari Emoji Dunia” Ditetapkan Berdasarkan Tanggal Peluncuran Aplikasi Apple

Share the knowledge

World Emoji Day 2019 (gambar dari: https://www.youtube.com/watch?v=n8yCbo9lHpk)

World Emoji Day 2019 (gambar dari: https://www.youtube.com/watch?v=n8yCbo9lHpk)

Pada tanggal ini tahun 2002, Apple meluncurkan aplikasi kalender iCal untuk Mac. Berdasarkan itu, hari ini kemudian ditetapkan sebagai Hari Emoji Dunia, meskipun sebagian lebih merasa ini sebagai Hari Emoji Apple. Penetapannya sebagai Hari Emosi Dunia baru dilakukan pada 2014.

Emoji, atau pernah juga dikenal dengan nama emoticon, telah menguasai dunia sejak “mereka” masih berada di ranah SMS di ponsel. Ketika platform jejaring sosial mengambil alih, pelaku teknologi merasa perlu menjadikannya sebagai hari resmi sendiri.

Dikutip dari laman The Sun, setelah rilis iOS6 Apple, keyboard emoji telah merevolusi teknologi short message service (SMS). Penetapan 17 Juli sebagai Hari Emoji Dunia ditegaskan pada 2014 oleh Jeremy Burge dari Emojipedia, setahun setelah kata “emoji” secara resmi ditambahkan ke Kamus Oxford. Burge memilih 17 Juli karena ini adalah tanggal yang ditampilkan di Kalender Emoji pada keyboard Apple.

Postcomended   Hutan Tropis Hampir Seluas Inggris Hilang pada 2018, Indonesia Dinilai Berhasil Menekan

Emoji adalah ikon digital kecil yang digunakan untuk mewakili ide dan/atau emosi melalui sarana elektronik. Emoji pertama kali dibuat oleh Shigetaka Kurita pada 1999 sebagai bagian dari tim yang bekerja pada platform Internet seluler di Jepang, NTT DoCoMo, di mana dia ditugaskan mendistribusikan 175 emoji piksel pertama.

“Saya kebetulan sampai pada ide itu. Jika saya tidak melakukannya, orang lain akan melakukannya,” kata Shigetaka Kurita, dilansir laman The Star. 

Tantangan Kurita –yang sekarang adalah anggota dewan di Dwango Co., perusahaan teknologi Tokyo– layanan internet seluler “i-mode” milik NTT DoCoMo saat itu membatasi pesan hingga 250 karakter, dan menyerukan penggunaan tulisan simbol semacam steno.

Kurita mengatakan, menambahkan emoji tersenyum dapat melembutkan suatu kalimat yang tampak keras. Misalnya, satu pesan yang mengatakan, “Apa yang kamu lakukan sekarang?”, bisa jadi terasa mengancam atau usil. Namun dengan menambahkan emoji wajah tersenyum, akan melembutkan nada kalimat tersebut.

Postcomended   Kairo TerindikasiBantu Beijing Menahan Orang Uighur yang Berada di Mesir

Kurita waktu itu mengumpulkan gambar-gambar umum termasuk tanda-tanda umum, simbol cuaca, zodiak dan gambar-gambar gaya komik seperti bola lampu atau bom detak. Dengan garis-garis sederhana, dia membuat lima emoji wajah: bahagia, marah, sedih, terkejut, dan bingung. Hati dan wajah yang tersenyum masih menjadi favoritnya.

Beberapa visual melampaui budaya. Setetes keringat mengalir di pipi –bagi budaya Jepang– berarti jengkel atau cemas. Yang lain bingung: Camcorder salah dibaca oleh banyak orang sebagai ikan.

Adalah para pemain Barat, Apple dan Google, yang menjadikan emoji sebagai fenomena global. Jason Snell, seorang teknisi jurnalis dan podcaster, mengatakan, bias jadi karena popularitas iPhone, gaya seni Apple untuk emoji-nya juga menjadi sangat berpengaruh.

“Sampai-sampai ketika kebanyakan orang berpikir tentang citra emoji, mereka berpikir Apple akan mengambilnya,” kata Snell. Menanggapi itu, Kurita mengangkat bahu.

Postcomended   Presiden Rusia Peringatkan Kembalinya ISIS: 700 Orang Telah Disandera

Kurita tidak merasakan keterlibatan dengan emoji hari ini. “Mereka” telah berevolusi melampaui set aslinya. Kurita tidak menerima royalti dan tak banyak dikenal di Jepang di luar lingkaran teknologi.***

 


Share the knowledge
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

To Top