Internasional

17 Mei dalam Sejarah: Pembakaran Memoar Lord Byron, Kejahatan Terbesar dalam Sejarah Sastra

Pada tanggal ini tahun 1944, sekutu melakukan serangan udara di Surabaya. Jauh sebelumnya, yakni 1900, terjadi insiden tiga desa dalam radius 100 mil dari Peking, Cina, dibakar dalam Perang Boxer, 60 orang Kristen Cina terbunuh. Mundur ke tahun 1824, sebuah kisah yang disebut “kejahatan terbesar dalam sejarah sastra”, terjadi: pembakaran memoir Lord Byron oleh mantan penerbitnya, John Murray, yang didukung enam teman Byron.

Pada 1811, seorang pencari bakat sastra luar biasa, John Murray II (1778-1843), yang juga pemilik penerbit Inggris paling terkenal, mulai menerbitkan karya-karya Lord Byron (1788-1824). Ini dilakukan setelah memindahlan perusahaan warisan ayahnya itu dari Edinburgh ke Albemarle Street pada 1812.

Murray dan Byron bertemu untuk pertama kalinya di ruang tamu lantai atas kantor tersebut; sebuah ruangan yang nantinya akan menjadi “tuan rumah” salah satu insiden paling terkenal dalam sejarah sastra Inggris yang hilang: “kejahatan terbesar dalam sejarah sastra”.

Byron merupakan salah satu tamu di kegiatan minum teh sore rutinnya di rumah itu, yang dikenal sebagai “Teman-teman pukul Empat”. Murray memastikan rumah ini menjadi titik pertemuan untuk nama terbesar dan tercerdas di dalam sastra London.

Postcomended   Imigran Mali Penyelamat Anak Kecil Dihadiahi Kewarganegaraan Prancis

Hingga akhirnya Murray menerbitkan puisi epik Byron, “Childe Harold’s Pilgrimage”, yang menjadi sensasi instan: terjual habis hanya dalam waktu lima hari dan mengubah bocah 24 tahun ini menjadi superstar di usia itu.

Dalam kata-kata Byron sendiri, “Saya bangun pada suatu pagi dan mendapati diri saya terkenal.” Meskipun kehidupannya berakhir tragis, sepanjang hidupnya dan selama berabad-abad sesudahnya, ia dianggap sebagai penyair terbesar yang pernah dikenal dunia.

Byron memang mendadak terkenal, namun tahun-tahun yang berlalu belum begitu menguntungkannya. Apalagi namanya kemudian dikaitkan dengan tuduhan yang dibisikkan ke seluruh masyarakat tentang pergaulan seksual, hubungan dengan wanita yang sudah menikah, anak-anak yang tidak sah, homoseksualitas, sodomi dan bahkan incest; dan bisikan-bisikan itu semakin keras.

Pada tahun 1816, Byron meninggalkan Inggris selamanya, menghabiskan delapan tahun terakhir hidupnya yang singkat di pengasingan di luar negeri. Dia meninggal di Yunani pada 1824, di usia 37, karena terserang demam saat memimpin pasukan tentara melawan Kekaisaran Ottoman dalam Perang Kemerdekaan Yunani.

Setelah tubuhnya dikirim kembali ke Inggris (dengan desas-desus merebak bahwa hatinya telah dihilangkan dan dimakamkan di Yunani), ia ditolak dikuburkan di Westminster Abbey, dengan alasan “moralitas yang dipertanyakan”. Salah satu penyair terbesar Inggris ini, bahkan tidak diberi peringatan di biara sampai 1969.

Postcomended   Anak Bungsu Jauh Lebih Sukses Dari Anak Sulung? Benarkah Demikian?

Selama pengasingannya pada tahun 1822, Byron menunjuk penyair Irlandia Thomas Moore (1779-1852) sebagai eksekutor sastranya, dan menyerahkan sebuah manuskrip memoar pribadinya yang ingin diterbitkan di kemudian hari.

Tetapi dengan Byron mati, dan publik berteriak-teriak untuk apa pun yang membawa namanya (terutama reputasi buruk Byron tersebut), Murray membuat keputusan. Setelah memoar Byron disajikan dalam dua jilid oleh Moore, dia memutuskan dia harus bertindak: memoar Byron harus dihancurkan.

Pada 17 Mei 1824, sebulan setelah kematian Byron, Murray dengan persetujuan lima orang teman Byron dan para eksekutor wasiatnya (dan dengan satu-satunya penentang yakni Moore), memisahkan halaman-halaman memoar tersebut dan membakarnya di perapian di ruang tamu lantai atas di 50 Albemarle Street.

Apa pun yang ditulis Byron, Murray yakin memoar-memoar itu begitu memalukan sehingga selamanya akan merusak reputasi Byron, dan mungkin karya Byron yang pernah dipublikasikannya sendiri.

Postcomended   Berkepala Oranye-Kuning, Ngengat Ini Diberi Nama Neopalpa donaltrumpi

Moore, yang pada tahun 1832 menulis biografi Byron, dikecam keras karena membiarkan memoar-memoar itu dihancurkan. Sampai akhir hayatnya, dia tidak pernah membocorkan isi memoar tersebut. Namun memoar itu kini justru menjadi karya sastra paling terkenal yang tidak pernah dibaca siapa pun.(***/onthisday/darkestlondon)

Share the knowledge
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

To Top