Internasional

18 Juni dalam Sejarah: Filsuf Produk Awal Abad ke-20, Jurgen Habermas, Injak Usia 90

Share the knowledge

Jurgen Habermas (gambar dari: https://www.youtube.com/watch?v=YyVajaBRfoI)

Jurgen Habermas (gambar dari: https://www.youtube.com/watch?v=YyVajaBRfoI)

Tak banyak pemikir kelahiran awal abad ke-20 yang masih hidup. Salah satu yang masih aktif memberi kontribusi pemikirannya hingga hari ini adalah Jurgen Habermas. Tahun ini, 2019, filsuf kelahiran Dusseldorf ini menginjak usia 90. 

Di usianya dimana banyak manusia mulai tak sanggup berpikir jernih,  salah satu pemikir Jerman paling berpengaruh di dunia ini masih selalu siap untuk terlibat dalam debat sosial besar. Dia bahkan menjadi satu dari sedikit intelektual publik Jerman yang secara teratur mengambil sikap terhadap isu-isu politik.

Belakangan ini, dia misalnya masih aktif berkampanye di Berlin menjelang pemilihan baru-baru ini di Uni Eropa (UE) untuk melawan nasionalisme sempit, Deutsche Wele (DW) melaporkan.

Seperti para penulis dan intelektual Jerman Barat pasca-perang lainnya, termasuk Martin Walser, Günter Grass, dan Siegfried Lenz, Habermas pernah tumbuh dalam bayang-bayang Sosialisme Nasional. Pengalaman ini meninggalkan bekas pada pekerjaan hidupnya.

Habermas lahir pada 1929. Dia memperoleh gelar doktor dalam bidang filsafat di Bonn pada 1954, dengan disertasi tentang filsuf Jerman Friedrich Wilhelm Joseph Schelling (1775-1854). Pada 1964, dia mengambil alih posisi Max Horkheimer (1895-1973) sebagai profesor filsafat dan sosiologi di Universitas Johann Wolfgang Goethe (Universitas Frankfurt).

Setelah 10 tahun sebagai direktur Institut Max Planck di Starnberg (1971–81), dia kembali ke Frankfurt, tempat ia pensiun pada 1994. Setelah itu, dia memberi kuliah di seluruh dunia; mengajar di Universitas Northwestern (Evanston, Illinois), Universitas New York, dll.

Postcomended   Ketika Pilot Pesawat Tempur Berakrobat di Antara Balon-balon Udara

Demokrasi Ruang Publik

Tesis pasca-doktoralnya dari tahun 1961, “Strukturwandel der Öffentlichkeit” (diterbitkan dalam Bahasa Inggris pada 1989 sebagai “Transformasi Struktural Ruang Publik”) hingga hari ini masih dianggap merupakan karya inovatif.

Di dalamnya dia mengeksplorasi gagasan “ruang publik” sebagai kategori historis. Dia juga melihat konsep “opini publik” yang ia gambarkan muncul pada abad ke-17 di Inggris; kemudian mulai menyebar sebagai gagasan di Prancis abad ke-18.

Dalam tesisnya tersebut, seperti dilansir laman Britannica, Habermas menunjukkan bagaimana kafe atau forum kelompok sastra Eropa modern mengandung sumber daya untuk mendemokrasikan ruang publik.

Dalam kuliah pengukuhannya tahun 1965 di Universitas Frankfurt, “Erkenntnis und Interesse” (1965; “Pengetahuan dan Kepentingan Manusia”), dan dalam buku dengan judul yang sama yang diterbitkan tiga tahun kemudian, Habermas mengemukakan fondasi teori versi normatif sosial kritis, teori sosial Marxis yang dikembangkan Horkheimer, Adorno, dan anggota lain dari Institut Frankfurt sejak 1920-an dan seterusnya.

Postcomended   Ditanya Masa Depan Amazon, Jawaban Jeff Bezos Pesimistis

Dalam pemikirannya tentang dasar-dasar teori sosial kritis awal, Habermas berusaha menyatukan tradisi filosofis Karl Marx dan idealisme Jerman dengan psikoanalisis Sigmund Freud dan pragmatisme ahli logika dan logika Amerika Charles Sanders Peirce.

Laman Britannica menulis, sebagai seorang pemikir sosial dan politik yang sangat berpengaruh, Habermas umumnya diidentifikasi dengan teori sosial kritis yang dikembangkan dari 1920-an oleh Institute for Social Research di Frankfurt, Jerman, juga dikenal sebagai Sekolah Frankfurt.

Dia termasuk generasi kedua dari Institut Frankfurt, mengikuti generasi pertama dan tokoh-tokoh pendiri seperti Max Horkheimer, Theodor Adorno, dan Herbert Marcuse. Habermas menonjol –termasuk di kalangan akademisi luar– untuk kontribusinya yang berpengaruh terhadap kritik sosial dan debat publik.

Risalah dan esai-nya yang tak terhitung jumlahnya telah membentuk visi komprehensif masyarakat modern dan kemungkinan kebebasan di dalamnya. Karyanya sangat memengaruhi banyak disiplin ilmu, termasuk studi komunikasi, studi budaya, teori moral, hukum, linguistik, teori sastra, filsafat, ilmu politik, studi agama, teologi, sosiologi, dan teori demokrasi.

Postcomended   Miliarder Sydney Penderita Kanker Ingin Mati Tanpa Meninggalkan Apapun

September ini, dikutip DW, pendukung demokratisasi Eropa ini masih akan menerbitkan buku berjudul “Auch eine Geschichte der Philosophie” (Juga Sejarah Filsafat); suatu karya dua volume setebal 1.700 halaman.  Menurut penerbitnya, isi buku ini tidak hanya mencakup perkembangan filsafat sejak zaman dulu, tetapi juga mencerminkan peran yang dimainkannya di masyarakat. ***


Share the knowledge
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

To Top