Internasional

19 Oktober dalam Sejarah: Obat Tuberkulosis Ditemukan, Diwarnai Kontroversi Penemunya

Schatz dan Waksman (Koleksi Khusus dan Arsip Universitas, Perpustakaan Universitas Rutgers)

Schatz dan Waksman (Koleksi Khusus dan Arsip Universitas, Perpustakaan Universitas Rutgers)

Pada tanggal ini tahun 1987, dua kereta api diesel di saling bertabrakan di Bintaro akibat kesimpangsiuran koordinasi antara petugas stasiun dan masinis. Sebanyak 156 orang tewas mengenaskan. Tanggal ini juga menjadi saksi tercerahkannya dunia pengobatan ketika obat tuberkulosis berhasil ditemukan untuk pertamakalinya. Nobel pun dianugrahkan, namun hanya untuk seorang mentor atas penemuan ini.

Pada tanggal ini, seorang siswa lulusan biokimia menemukan streptomisin, antibiotik sintetis yang digunakan untuk mengobati tuberkulosis (TB) dan penyakit menular lainnya. Kredit tunggal untuk penemuan ini awalnya hanya ditujukan untuk Selman Waksman –pengelola laboratorium di Universitas Rutgers tempat penelitian dilakukan– yang menerima Hadiah Nobel pada 1952.

Namun seperti dilaporkan The Guardian yang dilansir laman The Wired, penemu utama streptomisin adalah  Albert Schatz, seorang mahasiswa pascasarjana 23 tahun di bawah mentor Waksman, yang benar-benar berhasil mengisolasi antibiotik tersebut setelah beberapa bulan kerja keras.

Postcomended   30 September dalam Sejarah: Nazi Bantai Ribuan Orang di Babi Yar

Schatz yang merasa diremehkan dan dibuang pada 1950 menggugat mantan mentornya itu serta universitas, dan memenangkan penyelesaian di luar pengadilan.

Kunci yang membuka streptomisin adalah keberhasilan Schatz dalam mengisolasi dua strain actinomycetes aktif. Keduanya dapat secara efektif menghentikan pertumbuhan strain bakteri yang keras kepala yang terbukti tahan terhadap penisilin, obat ajaib lainnya yang juga belum lama ditemukan kala itu.

Schatz menggambarkan saat-saat dia menyadari telah mengisolasi streptomisin. Pada 19 Oktober 1943, sekitar pukul 2 siang, Schatz menyadari telah menemukan antibiotik baru. Dia menamakannya streptomisin.

“Saya menyegel tabung tes dengan memanaskan ujung terbuka dan memutar gelas yang lunak dan panas. Saya pertama kali memberikannya (mencobakan obat itu) kepada ibu saya, tetapi sekarang di Smithsonian Institution. Saya merasa gembira, dan sangat lelah, tetapi saya tidak tahu apakah antibiotik baru ini akan efektif dalam mengobati orang.”

Postcomended   12 Oktober dalam Sejarah: Columbus Berpikir Telah Sampai di Asia Timur, Ternyata...

Dulu, streptomisin terbukti merupakan cara paling efektif menyerang tuberkulosis, penyakit menular mematikan yang sering fatal dan masih meluas pada saat itu.

Namun Waksman, yang pernah mendeskripsikan Schatz sebagai muridnya yang paling berbakat, justru yang menerima penghargaan penuh atas penemuan itu, dengan penghargaan puncak Nobel Kedokteran padan 1952. Ini terjadi setelah Waksman berhasil meminta pemuda itu untuk menandatangani hak-hak istimewanya kepada (Universitas) Rutgers.

Schatz mengatakan dia setuju pada saat itu karena dia percaya bahwa streptomisin harus tersedia, cepat dan murah. Pada 1990, di usianya yang sudah menginjak 70-an, Schatz akhirnya menerima kredit resmi sebagai penemu streptomisin –meskipun Nobel untuk temuannya itu dikreditkan untuk sang mentor– hingga meninggalnya pada 2005.

Dikutip dari Wikipedia, Schatz, yang memiliki nama lengkap Albert Israel Schatz, adalah seorang ahli mikrobiologi dan pendidik sains Amerika. Schatz lulus dari Universitas Rutgers pada 1942 dengan gelar sarjana dalam bidang mikrobiologi tanah, dan menerima gelar doktornya dari Rutgers pada tahun 1945.***

Postcomended   5 September dalam Sejarah: Olimpiade Munich Nyaris Dibatalkan Akibat Aksi "Black September"

 

Share the knowledge
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

To Top