Buy me a coffeeBuy me a coffee
Internasional

2 September dalam Sejarah: Api Melumat London, Raja Charles Menyaksikan dengan Pedih

Share the knowledge

 

Great Fire of London (gambar dari: https://www.youtube.com/watch?v=b7vXcYmKFDQ)

Dalam gambar yang melukiskan peristiwa Great Fire of London ini, tampak warga berusaha menyelamatkan diri dengan menggunakan perahu di Sungai Thames (gambar dari: https://www.youtube.com/watch?v=b7vXcYmKFDQ)

Pada tanggal ini, Minggu, 1666, terjadi kebakaran terburuk dalam sejarah London yang dikenal dengan nama Great Fire of London. Sebagian besar kota London hancur, termasuk bangunan sipil, Katedral St Paul, 87 gereja, dan sekitar 13 ribu rumah.

Kebakaran dimulai secara tidak sengaja di toko roti Pudding Lane dekat London Bridge, laman Britannica melaporkan. Angin timur yang kencang mendorong kobaran api yang mengamuk sepanjang Senin dan sebagian Selasa. Pada Rabu, api mengendur dan padam keesokan harinya. Namun Kamis malam, api kembali berkobar.

Buku Harian Samuel Pepys, mengisahkan detail menarik dari peristiwa ini. Dikisahkan buku hariannya bahwa untuk menguasai api, sejumlah rumah diledakkan serentak menggunakan serbuk mesiu, dengan harapan akan ada ruang agar api berhenti menyebar dari rumah ke rumah.

Diceritakan juga bahwa sungai Thames dipenuhi kapal-kapal yang dipadati orang-orang yang membawa barang-barang mereka sebanyak yang bisa mereka selamatkan. Beberapa orang melarikan diri ke perbukitan Hampstead dan Highgate, sementara Moorfields adalah tempat perlindungan utama bagi warga London yang tidak memiliki rumah.

Pepys yang adalah seorang Panitera Angkatan Laut Kerajaan yang mengamati pergerakan api dan kemudian menuliskannya dalam buku hariannya, menceritakan bahwa warga London terpaksa mengungsi dari rumah setelah mereka sempat mengubur barang-barang berharga yang tidak dapat mereka bawa.

Postcomended   28, 29, 30 Agustus dalam Sejarah: Referendum Bikin Timor Timur Lepas dari Indonesia

Pepys sendiri, seperti dikutip laman london-fire.gov.uk, mengubur keju dan anggurnya yang mahal, dan membawa barang-barang lainnya ke Bethnal Green. Pepys juga mencatat, Raja Inggris, Charles II, menyaksikan bagaimana kebakaran melumat London dengan hati remuk, dan bahkan turut terjun membantu memadamkan api.

Dalam beberapa hari setelah kebakaran, tiga rencana berbeda diajukan kepada raja untuk membangun kembali kota, yakni oleh Christopher Wren, John Evelyn, dan Robert Hooke; namun tak satu pun dari tiga rencana untuk mengatur jalanan London diadopsi. Akibatnya, jalur lama hampir dipertahankan.

Postcomended   16 April dalam Sejarah: Albert Hofmann Temukan Efek Psikedelik pada Obat LSD

London pada 1666 tidak dirancang untuk terhindar dari bencana kebakaran. Bangunan-bangunan terbuat dari kayu, tertutup zat yang mudah terbakar yang disebut pitch, beratap ilalang, dan dikemas rapat tanpa memperhatikan perencanaan.

Rumah satu dengan lainnya dibangun hampir bersentuhan di beberapa tempat.  Rumah-rumah di kota itu penuh dengan gudang dipadati barang yang mudah terbakar termasuk minyak dan lemak, serta pekarangan yang dipenuhi jerami kering.

Sekitar 350.000 orang tinggal di London sebelum kebakaran besar itu; London adalah salah satu kota terbesar di Eropa. Pada awalnya, hanya sedikit yang khawatir karena kebakaran merupakan kejadian yang biasa terjadi pada saat itu.

Namun, api bergerak cepat menyusuri Pudding Lane, lalu turun menuju ke arah Sungai Thames. Ketika sampai di Sungai Thames, api menabrak gudang-gudang di yang dipenuhi barang-barang  mudah terbakar itu.

Setelah musim panas yang panjang, kota ini mengalami kekeringan. Air langka dan rumah-rumah kayu telah mengering, membuat mereka pun lebih mudah terbakar; suatu formula sempurna untuk terjadinya bencana kebakaran besar. Api mulai bisa dikendalikan pada 5 September 1666.

Postcomended   10 September dalam Sejarah: Habis Dipenggal, Mike Menolak Mati Hingga 18 Bulan

Setelah kebakaran berhenti dan banyak mayat bergelimpangan, penyakit menyebar dengan mudah. Ditambah musim dingin yang keras setelah kebakaran, membuat banyak warga London yang meninggal. Untuk membangun kembali London kala itu, total biaya yang dikeluarkan mencapai 10 juta poundsterling (sekitar Rp 170 miliar dengan kurs rupiah saat ini).***


Share the knowledge
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply


Buy me a coffeeBuy me a coffee
Buy me a coffeeBuy me a coffee
To Top