Internasional

21 Desember dalam Sejarah: Duo Curie Temukan Radium, Sumbangan Besar Abad ke-19 pada Dunia Kesehatan

Share the knowledge

Pada 1896, fisikawan Henri Becquerel sedang mempelajari uranium ketika ia menemukan jenis radiasi baru yang dapat menembus logam. Penelitiannya mendapat perhatian Marie Sklodowska,  yang mulai mempelajari sinar uranium ini.

Sebelumnya, Marie telah melakukan berbagai riset fisika dengan dosennya, seorang professor fisika di Universitas Sorbonne, Paris, Prancis, Pierre Curie, yang kemudian menjadi suaminya. Dilansir Wired, pernikahan mereka adalah kolaborasi profesional yang sukses.

Mereka kemudian mempelajari uraninit, yang kemudian dikenal sebagai pitchblende, mineral dan bijih uranium yang kaya. Pasangan ini mengeluarkan uranium dan dibiarkan dengan bahan radioaktif yang mereka tentukan menjadi dua elemen baru, radium dan polonium.

Dikutip laman EDN.com, mereka pertama kali menemukan polonium –nama yang diambil dari nama tanah air Marie, Polandia– pada bulan Juli 1898. Dalam mendokumentasikan pekerjaannya, mereka menulis, “Kami dengan demikian percaya bahwa substansi yang kami ambil dari pitchblende mengandung logam yang tidak pernah diketahui sebelumnya, mirip dengan bismuth dalam sifat analitiknya. Substansi itu sekitar 300 kali lebih kuat daripada uranium.”

Postcomended   29 Agustus dalam Sejarah: Gottlieb Daimler Patenkan Sepeda Bermesin Pertama

Dalam makalah ini, pasangan ini juga menggunakan istilah radioaktivitas untuk pertama kalinya. Hingga akhirnya pada 21 Desember 1898, pasangan ini menemukan senyawa radioaktif yang mirip dengan senyawa barium yang menjadi unsur baru. Mereka menamakannya radium.

Diberi nama radium karena senyawa ini memancarkan energi dalam sinarnya. Mereka mengukur intensitas radium sekitar 3.000 kali uranium.

Penemuan radium memungkinkan praktik radioterapi dan pengobatan nuklir, yang merevolusi pengobatan kanker dan penyakit lainnya. Pada awal 1899, dilaporkan bahwa tumor ganas kulit disembuhkan oleh aplikasi sumber radioaktif.

Namun pasangan Curie ini tidak segera menyadari efek merugikan dari radiasi sehingga penelitian-penelitian yang dilakukannya mulai menggerogoti kesehatan mereka. Penggunaan radium dalam kehidupan sehari-hari, termasuk penggunaannya dalam cat yang bercahaya untuk membuat jam tangan yang akan bersinar dalam gelap, mengarah pada penemuan keracunan radiasi.

Pada 1903, Marie dan Pierre Curie berbagi Hadiah Nobel dalam Fisika dengan Becquerel untuk “layanan luar biasa yang mereka berikan melalui penelitian bersama mereka tentang fenomena radiasi”. Namun tiga tahun kemudian Pierre meninggalkan Marie sendiri ketika dia terbunuh dalam kecelakaan di jalanan Paris pada 1906.

Postcomended   7 Oktober dalam Sejarah: Tahanan Yahudi di Auschwitz Memberontak Ingin Ledakkan Kamar Gas

Dilansir Wired, Marie melanjutkan pekerjaan mereka, mengambil alih posisi suaminya sebagai profesor fisika umum di Fakultas Ilmu Pengetahuan, kemudian menjadi direktur Curie Laboratory Radium Institute di Universitas Paris pada 1914. Kesetiaan Marie pada dunia sains melahirkan Nobel kedua baginya, kali ini di bidang kimia.

Dia menghabiskan sisa hidupnya dalam sains, sebagian besar mempromosikan sifat penyembuhan radium. Pada 1929, lima tahun sebelum kematiannya, Curie mendirikan laboratorium radiasi di kota asalnya, Warsawa.

Marie meninggal pada 1934 dalam usia 66, di sebuah sanatorium di Sancellemoz (Haute-Savoie). Dia meninggal akibat penyakit anemia aplastic, suatu kondisi di mana sumsum tulang belakang tidak bisa meproduksi sel-sel darah baru. Diduga hal ini disebabkan terlalu sering terpapar oleh zat radioaktif.

Postcomended   2 Oktober dalam Sejarah: Organisasi Rahasia Katolik Roma, Opus Dei, Didirikan

Tradisi sebagai peraih Nobel “diturunkan” Marie ke salah satu putrinya Irene yang juga menerima hadiah Nobel, juga bekerja sama dengan suaminya yang ilmuwan.***

 


Share the knowledge
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

To Top