21 Februari dalam Sejarah: Malcolm X Dibunuh Rival Muslimnya

Internasional
Share the knowledge

 

Malcolm X (gambar dari: https://www.youtube.com/watch?v=7oVW3HfzXkg)
Malcolm X (gambar dari: https://www.youtube.com/watch?v=7oVW3HfzXkg)

Pada tanggal ini, 1965, tokoh muda Muslim Afro-Amerika, Malcolm X, dibunuh oleh Black Muslim. Malcolm dibunuh saat berpidato di acara yang digelar Organisasi Persatuan Afro-Amerika, di Audubon Ballroom, di Washington Heights, New York City, di usianya yang ke-40.

 

Malcolm ditembak oleh salah seorang anggota Nation of Islam yang anggotanya seringkali dijuluki sebagai Black Muslim. Pembunuhan ini terjadi satu minggu setelah rumahnya dibom.

Tembakan itu membuat Malcolm X mundur, jatuh dari dua kursi, dan mendarat di atas panggung. Polisi mengatakan setidaknya 16 peluru menabraknya.

Dilansir laman History, Terlahir sebagai Malcolm Little di Omaha, Nebraska, Amerika Serikat (AS) pada 1925, Malcolm adalah putra James Earl Little, seorang pengkhotbah Baptis yang menganjurkan cita-cita nasionalis kulit hitam Marcus Garvey.

Ancaman dari kelompok Ku Klux Klan, memaksa keluarga Little untuk pindah ke Lansing, Michigan, namun ini tak membuat ancaman berhenti, terlebih ayahnya terus menyampaikan khutbah kontroversial.

Hingga akhirnya pada 1931, ayah Malcolm dibunuh secara brutal oleh supremasi kulit putih Black Legion. Otoritas Michigan menolak menuntut mereka yang bertanggung jawab.

Pada 1937, Malcolm diambil dari keluarganya oleh pekerja sosial kesejahteraan. Pada saat mencapai usia sekolah menengah, dia putus sekolah dan pindah ke Boston, membuatnya makin terlibat dalam kegiatan kriminal.

Postcomended   24 Juni dalam Sejarah: Kaum Intelektual Thailand Paksa Monarki Absolut Berakhir

Mengenal Islam dari Calon Musuhnya

Pada 1946, pada usia 21, Malcolm dikirim ke penjara dengan tuduhan pencurian. Di sanalah dia menjumpai ajaran Elijah Muhammad, pemimpin Nation of Islam, yang anggotanya dikenal sebagai Black Muslim. Nation of Islam menganjurkan nasionalisme kulit hitam dan separatisme rasial dan mengutuk orang Amerika keturunan Eropa sebagai “setan”.

Ajaran Elijah memiliki efek yang kuat pada Malcolm, yang masuk ke dalam program pendidikan mandiri yang intens. Malcolm mengambil nama belakang “X” untuk melambangkan identitas Afrika-nya yang “dicuri”.

Setelah enam tahun dipenjara, Malcolm dibebaskan, lalu diangkat sebagai menteri Nation of Islam yang loyal dan efektif di Harlem, New York. Berbeda dengan para pemimpin hak-hak sipil seperti Martin Luther King Jr., Malcolm X menganjurkan pembelaan diri dan pembebasan orang Afrika-Amerika dengan segala cara yang diperlukan.

Malcolm menjadi seorang orator yang berapi-api, yang dikagumi oleh komunitas Afrika-Amerika di New York dan sekitarnya. Pada awal 1960-an, dia mulai mengembangkan filosofi yang lebih lantang daripada filsafat Elijah Muhammad, yang dia rasa tidak cukup mendukung gerakan hak-hak sipil.

Pada akhir 1963, saran Malcolm bahwa pembunuhan Presiden John F. Kennedy adalah soal “ayam yang pulang ke rumah untuk bertengger” memberi Elijah Muhammad –yang percaya bahwa Malcolm telah menjadi terlalu kuat– alasan yang nyaman untuk menangguhkannya dari Nation of Islam.

Postcomended   Ada Ancaman Pembunuhan Ahok di Balik Pemblokiran Telegram

Berziarah ke Mekkah

Beberapa bulan kemudian, Malcolm secara resmi meninggalkan organisasi dan berziarah ke Mekkah, di mana dia melihat tak ada perselisihan rasial di antara Muslim yang berkumpul di sana.

Dipenuhi dengan pencerahan, Malcolm kembali ke Amerika sebagai El-Hajj Malik El-Shabazz dan pada Juni 1964 mendirikan Organisasi Persatuan Afro-Amerika, yang menganjurkan identitas hitam dan berpendapat bahwa rasisme –dan bukannya ras kulit putih– adalah musuh terbesar Afrika-Amerika yang sebenarnya.

Gerakan baru Malcolm terus mendapatkan pengikut, dan filsafatnya yang lebih moderat menjadi semakin berpengaruh dalam gerakan hak-hak sipil, terutama di antara para pemimpin Komite Koordinasi Mahasiswa Anti-Kekerasan.

Naiknya popularitas Malcolm bisa jadi dianggap pengkhianatan hingga akhirnya Black Muslim dari Nation of Islam –yang cenderung lebih radikal– menembaknya hingga tewas saat dia akan mulai berbicara di acara rapat umum organisasinya di New York City.

Penembakan oleh sesama Muslim ini menjadikan cita-cita Muslim hitam Amerika untuk menghilangkan prasangka rasialistis terkait warna kulit khusunya kulit hitam, kehilangan arah.

Malcolm pernah berpidato di gereja: “Mari kita ingat kita tidak dianiaya karena kita adalah orang Baptis. Kami tidak dianiaya karena kami adalah Methodis. Kami tidak dianiaya karena kami adalah Muslim. Kami tidak dianiaya karena kami adalah orang Katolik. Kami dilecehkan karena kami adalah orang kulit hitam di Amerika.”

Postcomended   Apple Kenalkan 13 Emoji Baru Untuk Penyandang Disabilitas

Dilansir Washington Post, polisi menangkap tiga anggota Nation of Islam sehubungan dengan pembunuhan itu. Thomas Hagan, yang kemudian diidentifikasi sebagai Talmadge Hayer, yang pada saat itu berusia 22 tahun, bersaksi di persidangan dan mendengar pembebasan bersyarat dua pria lainnya yang ditangkap, Muhammad Abdul Aziz dan Khalil Islam.

Aziz menerima pembebasan bersyarat pada 1985, dan Islam dibebaskan dua tahun kemudian. Hagan dibebaskan pada 2010.***

 

 


Share the knowledge

Leave a Reply

Specify Instagram App ID and Instagram App Secret in Super Socializer > Social Login section in admin panel for Instagram Login to work