Internasional

21 Januari dalam Sejarah: Bahasa Eyak Punah Seiring Meninggalnya Penutur Terakhir

Share the knowledge

 

https://www.youtube.com/watch?v=DGA1JD7lF7I

Marie Smith Jones, penutur terakhir Bahasa Eyak. Bahasa ini pubah seiring meninggalnya Jones pada 2008 (gambar dari: YouTube)

Hari ini, 10 tahun silam, menjadi saksi bagaimana suatu bahasa punah. Marie Smith Jones, seorang kepala suku Indian Eyak di Alaska, meninggal pada tanggal ini tahun 2008 di usia 89. Jones adalah penutur terakhir bahasa Eyak.

Bahasa salah satu suku asli benua Amerika ini dipelajari oleh Jones dari orang tuanya selagi masih gadis kecil. Setelah kematian kakak perempuannya pada 1990-an, Jones berjuang mempertahankan agar bahasa itu tetap hidup dengan bantuan ahli Bahasa, Michael Krauss.

Krauss, guru besar Universitas Alaska, mulai bekerja sama dengan Jones pada 1962. “Dia sangat sendirian sebagai pembicara terakhir Eyak selama 15 tahun terakhir,” kata Krauss, seperti dilaporkan laman BBC.

Postcomended   Jet Mitsubishi Mulai Pede Bersaing di Tengah Dominasi Boeing dan Airbus

Menurut Krauss, Jones paham posisi uniknya sebagai penutur terakhir, dan apa artinya menjadi yang terakhir dari jenisnya. Dia mengerti apa yang sedang dipertaruhkan dan signifikansinya atas bahasa asli Alaska yang akan punah.

Jones, tulis BBC, adalah seorang pejuang hak dan konservasi masyarakat adat. Dia meninggal di rumahnya di Anchorage, ibukota negara bagian Alaska, Amerika Serikat (AS).

Eyak, cabang dari bahasa Na-Dené, adalah –seperti banyak bahasa asli– dituturkan hanya di daerah kecil yang lokal. Dalam hal ini, Bahasa Eyak ditemukan di pusat Alaska selatan, yang berpusat di dekat mulut Sungai Copper.

Selama hidupnya, Jones aktif membantu Universitas Alaska menyusun kamus Eyak, sehingga memungkinkan generasi masa depan memiliki kesempatan untuk menghidupkannya kembali. Saat ini, hampir 20 bahasa asli Alaska lainnya berisiko menghilang.

Postcomended   Presiden Rusia Peringatkan Kembalinya ISIS: 700 Orang Telah Disandera

BBC dalam laporannya menyebutkan, Jones digambarkan oleh keluarganya sebagai seorang wanita perokok kecil yang sangat mandiri. “Sejauh yang kami ketahui, dia adalah Eyak totok terakhir yang masih hidup,” putri Jones, Bernice Galloway, mengatakan kepada kantor berita Associated Press.

“Dia adalah wanita yang menghadapi kesulitan luar biasa dalam hidupnya dan mengatasinya. Dia sekuat yang kau bias,” tambah Galloway. Dia percaya dengan penuh semangat dalam melestarikan bahasa Eyak dan ingin catatan tertulisnya disimpan untuk generasi mendatang.

Tanah leluhur Eyak membentang di sepanjang hampir 500 km (300 mil) dari Teluk Alaska. Dengan suaminya, seorang pria kulit putih asal Oregon yang berprofesi sebagai nelayan, Jones memiliki sembilan anak, tujuh di antaranya masih hidup.

Sayangnya, tidak satu pun dari mereka yang belajar Bahasa Eyak. Menurut putrinya, itu karena mereka tumbuh pada masa ketika berbicara bahasa lain dianggap salah kecuali bahasa Inggris.***


Share the knowledge
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

To Top