21 Juli dalam Sejarah: Perang Diponegoro Membuat Penjajah Diambang Kebangkrutan

21 Juli dalam Sejarah: Perang Diponegoro Membuat Penjajah Diambang Kebangkrutan

Nasional
Share the knowledge

Pada tanggal ini, 1825, Pangeran Diponegoro mendeklarasikan perang terhadap penjajah Belanda; mengawali apa yang dikenal bangsa ini sebagai Perang Diponegoro atau Perang Jawa II (1825-1830). Perang ini disebut paling dahsyat yang pernah terjadi yang menewaskan 200 ribu orang.

Perang ini terjadi sehari setelah pasukan Belanda-Jawa di bawah komando dua bupati senior Mataram, gagal menangkap Diponegoro dan membakar kediamannya. Diponegoro berserta pengikutnya berhasil melarikan diri ke Gua Selarong di mana mereka membangun posko.

Belanda berkepentingan menangkap Diponegoro karena dia menjadi tokoh utama dalam perlawanan atas ketidakadilan ekonomi yang menimpa rakyat yang diwarnai kongkalikong antara warga Eropa dan Cina, bahkan juga anggota keluarga kerajaan yang berkhianat.

Singkat cerita, pada 1824, Diponegoro mengadakan pertemuan rahasia di rumahnya di Tegalrejo memutuskan untuk meluncurkan perjuangan melawan kolonial Belanda. Untuk kepentingan itu, dia membatalkan pembayaran pajak lokal untuk memungkinkan petani di Tegalrejo untuk membeli senjata dan persediaan makanan.

Postcomended   Komisi Persaingan Usaha Singapura Mencurigai Modus Uber

Sebagai putra selir Sultan Yogyakarta Hamengku Buwono (HB) II, Diponegoro kurang dikenal. Namun namanya menjadi menggaung ke seluruh kerajaan setelah dia menjadi komandan pasukan Jawa dalam perang yang disebut paling dahsyat pada masa kolonial Belanda ini.

Dengan didukung lingkaran dalam dan rakyat jelata, Diponegoro membuat pemerintah kolonial Belanda (Hindia Belanda), kewalahan. Pemerintah Hindia Belanda dipaksa menghabiskan segala sumber dayanya untuk meredam perlawanan rakyat di bawah komando Diponegoro hingga nyaris bangkrut.

Uletnya perlawanan pasukan Diponegoro membuat Belanda berstrategi dengan menyebarkan mata-mata dan provokator di desa-desa, antara lian dengan berusaha mempengaruhi anggota keluarga pasukan untuk berhenti berperang.

Sepanjang perang lima tahun itu, Diponegoro seringkali memanfaatkan alam sebagai perlawanan. Karenanya serangan besar mereka selalu dilakukan pada musim hujan. Penyakit tropis seperti malaria dan disentri yang subur di musim hujan adalah musuh paling melemahkan pasukan pemerintah penjajahan. Karenanya, Gubernur Hindia Belanda selalu berusaha membuat gencatan senjata saat musim hujan.

Postcomended   Bakal Ada Gayus-Gayus Lainnya Lagi yang Tertangkap (3)

Pada puncak perang, Belanda terpaksa harus mengerahkan lebih dari 23 ribu tantara; sesuatu yang belum pernah terjadi untuk menekuk wilayah yang relatif kecil seperti Jawa Tengah dan sebagian Jawa Timur. Dari sudut militer, pasukan colonial melibatkan berbagai taktik yang belum pernah dilakukan sebelumnya.

Semua metode yang dikenal dalam perang modern, dikerahkan, baik itu dengan perang terbuka maupun perang gerilya, sambil mempraktikkan psywar (perang psikis); provokasi, adu domba, memata-matai satu sama lain untuk mendapatkan informasi tentang kekuatan dan kelemahan pasukan Diponegoro.

Pada 1827, Belanda menambah taktik menggunakan sistem benteng, yaitu membangun serangkaian banteng. Pada  1829, Kyai Modjo, pemimpin spiritual para pejuang, ditangkap, menyusul kemudian Diponegoro dan orang andalan Diponegoro, Sentot Alibasah, menyerah kepada Belanda.

Pada 28 Maret 1830, Jenderal De Kock berhasil menekuk pasukan Diponegoro di Magelang. Penangkapan Diponegoro dilakukan dengan strategi licik, mengundang untuk negosiasi damai, namun entah kenapa Diponegoro percaya sehingga dengan mudah De Kock menangkapnya dengan mudah. Diponegoro diasingkan ke Manado, lalu ke Makassar hingga meninggal pada 8 Januari 1855.(***/dariberbagaisumber)


Share the knowledge

Leave a Reply