Hari ini, tepat 48 tahun yang lalu, Soekarno meninggal dunia di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto di usia 69. Sebagai seorang mantan presiden yang juga pendiri negeri ini, kematin Bung Karno, julukan akrabnya, sungguh tragis. Dia meninggal sebagai tahanan politik Orde Baru, dan diperlakukan tidak layak sejak dilengserkan Suharto pada 1965.

Dilansir New York Times, Sukarno meninggal sekitar 10 jam setelah istri keempatnya, Ratna Sari Dewi, terbang dari Paris untuk melihatnya untuk pertama kalinya sejak Bung Karno ditempatkan di bawah tahanan rumah sejak 1967. Ratna membawa anak perempuan 3 tahun, Kartika, yang belum pernah dilihat Bung Karno sebelumnya.

Sebuah komunike tiga kalimat, tulis New York Times, mengatakan, Bung Karno mengalami koma pada 03.50 dan meninggal pada pukul 07.00. Bung Karno disebut meninggal karena menderita tekanan darah tinggi dan penyakit ginjal.

Dikutip dari laman Merdeka, sejak 1967, Soekarno diisolasi oleh Soeharto sebagai tahanan rumah, tepatnya ditahan di Wisma Yaso. Rumah yang berada di Jalan Gatot Subroto Jakarta ini merupakan rumahnya dengan istrinya yang berdarah Jepang, Naoko Nemoto alias Ratna Sari Dewi.

Tak Punya Uang untuk Beli Rambutan

Oleh rezim Soeharto, Bung Karno tidak boleh tampil di depan umum atau berbicara kepada wartawan. Ada kisah seusai Soeharto diangkat menjadi pejabat presiden RI pada Maret 1967, ketika kehidupan Bung Karno mulai dibatasi.

Dikutip dari laman Republika, Bung Karno tak boleh masuk Jakarta dan hanya boleh berada di Bogor. Saat itu Bung Karno tinggal di Paviliun Istana Bogor. Suatu ketika, Bung Karno berkeliling kota Bogor dengan menumpangi VW Combi, dia ingin membeli rambutan.

Postcomended   Beredar Tulisan Dokter Reisa Brotoasmoro Telah Mencoba Narkoba Digital, dan Mengaku “Fly”

Dia meminta ajudannya, Putu Sugiarti, untuk membeli seikat, namun Bung Karno mengaku tidak memiliki uang. Akhirnya, Putu seperti dituturkan di buku “Hari-Hari Terakhir Sukarno” karya Peter Kasenda, membeli dengan uangnya.

“Bang antarkan ini ke bapak yang di mobil itu, yang kepalanya botak,” kata Putu kepada pedagang rambutan. Sadar pria di dalam mobil adalah Bung Karno, pedagang rambutan itu histeris dan memberitahu semua yang ada di situ. Suasana menjadi geger. Besoknya, Putu dimarahi komandan.

Lama-kelamaan, isolasi terhadap Bung Karno semakin ketat, hingga keluarga pun dilarang menemui Soekarno. Begitu takutnya rezim Soeharto pada pengaruh Bung Karno, layanan televisi pun dicabut dari Wisma Yaso, sehingga terputuslah hubungan Soekarno dengan dunia luar. Soekarno dikabarkan menjadi linglung, depresi, dan menjadi sering berbicara sendiri.

Seorang yang sejak masa mudahnya begitu menikmati berada di tengah-tengah ribuan rakyatnya, berpidato dengan berapi-api di tengah rakyat yang juga memujanya, lalu secara sistematis diasingkan dari mereka.

Tak heran bisa dalam sepi sendiri, hanya ditemani seorang pelayan, kesehatannya terus memburuk. Penyakit ginjalnya seolah-olah dengan sengaja dibuat semakin parah.

Tersadar Saat Bung Hatta Menjenguk
Untunglah di saat-saat terakhirnya, Bung Karno masih sempat bertemu dengan sahabat seperjuangannya, Bung Hatta. Mereka berpisah karena beda pendapat, namun secara pribadi mereka tetap bersahabat erat.

Postcomended   Giliran malaysia Tuding Kemungkinan Adanya Anti-Persaingan atas Merger Grab-Uber

Dua hari sebelum Sukarno wafat, Muhammad Hatta alias Bung Hatta mendapat kabar dari Mas Agung, Dirut PT Gunung Agung, bahwa kondisi kesehatan Sukarno kian gawat.

Seperti juga anak-anaknya, Bung Hatta pun dipersulit untuk bertemu Bung Karno. Sebelum membesuk ke RSPAD, Bung Hatta harus meminta izin kepada Soeharto melalui Sekretaris Militer, Jenderal Tjokropanolo.

Sesampainya di RSPAD, Bung Karno sedang tertidur. Menurut kesaksian sekretaris pribadi Bung Hatta, I Wangsa Widjaja, Bung Hatta sangat sedih melihat sosok sahabatnya itu.

Namun entah kenapa tak lama kemudian Bung Karno tersadar dan berseru, ”Ooh Hatta, kau ada di sini.” Bung Hatta membalas ucapan Bung Karno, “Ya, bagaimana keadaanmu, No?”

Menurut Wangsa, Bung Hatta tidak mampu mengendalikan perasaannya. Air matanya tumpah. Itulah pertemuan terakhir dua proklamator RI yang puluhan tahun berjuang keluar masuk penjara, diasingkan ke berbagai tempat, untuk mencapai kemerdekaan, namun diperlakukan secara tak layak oleh rezim Orde Baru.

Bung Karno pernah menyatakan bahwa dia ingin dimakamkan di dekat Prasasti Batu Tulis Bogor, namun Orde Baru yang menyadari pengaruh Bung Karno yang bersar terhadap rakyat, malah mencari tempat yang jauh dari Jakarta, yakni di Blitar, di samping makam ibundanya. Sebelum dibawa ke Blitar, jenazah Bung Karno disemayamkan kembali rumah tahannanya, Wisma Yaso.

Di hari meninggalnya, ribuan rakyat, di antaranya banyak yang menangis, memadati jalan-jalan untuk memberi penghormatan terakhir pada Si Penyambung Lidah Rakyat ini.

Postcomended   Diduga Kesurupan, Korban Obat PCC Sempat Dibawa ke Dukun

Mengenai Bung Karno, New York Times menulis, dia adakah seoorang negarawan dengan bakat dramatis. Soekarno adalah advokat pertama dan paling vokal mengartikulasikan pentingnya negara-negara dunia ketiga untuk tidak memihak salah satu dari dua blok dunia, dengan menyelenggarakan Konferensi Asia Afrika pada 1955 di Bandung.

Bung Karno adalah seorang pembicara kuat, yang sempat memegang kekuasaan hampir mutlak di Indonesia selama 20 tahun. Dia lolos dari lima upaya pembunuhan tetapi digulingkan dari kekuasaan oleh tentara setelah kudeta Komunis yang gagal pada 1965 di mana diperkirakan 100 ribu orang tewas. (***/merdeka/republika/newyorktimes)

Share the knowledge