23 Juli dalam Sejarah: Gamal Abdel Nasser Pimpin “Perwira Bebas” Gulingkan Raja Farouk

23 Juli dalam Sejarah: Gamal Abdel Nasser Pimpin “Perwira Bebas” Gulingkan Raja Farouk

Internasional
Share the knowledge

Pada tanggal ini, 1952, Gamal Abdel Nasser memimpin 89 “Perwira Bebas” dalam kudeta militer yang menggulingkan rezim Raja Farouk, sang “Pencuri dari Kairo”. Bersama Bung Karno, Nasser adalah tokoh yang dikenal sebagai pemegang peran kunci terbentuknya Gerakan Non Blok (GNB).

Salah satu alasan Nasser menggulingkan Raja Farouk (anak dari Raja Fuad I) bukan sesuatu yang bakal sulit ditentang. Farouk dikenal sebagai pencopet handal bahkan turut mencuri dari rakyat biasa yang membuatnya dijuluki “Pencuri dari Kairo”.

Usai Raja Farouk dilengserkan, Nasser tidak memaksakan dirinya sebagai pengganti penguasa terguling. Dewan Komando Revolusioner yang dipimpinnya, segera membentuk pemerintahan baru dan mengangkat Mayor Jenderal Muhammad Naguib sebagai pemimpin boneka.

Kesal dengan situasi negara yang tak membaik, pada 1954, Nasser muncul dari balik layar, menyingkirkan Naguib dari kekuasaan, dan akhirnya menyatakan dirinya sendiri sebagai perdana menteri Mesir.

Selama dua tahun berikutnya, Nasser memerintah sebagai pemimpin yang efektif dan populer dan mengumumkan konstitusi baru yang menjadikan Mesir sebagai negara Arab sosialis; sesuatu yang secara sadar dilakukan padahal tidak selaras dengan sistem komunis dan kapitalis-kapitalis yang lazim diterapkan di era Perang Dingin kala itu.

Pada pemilu 23 Juni 1956, Nasser adalah satu-satunya kandidat presiden dalam pemungutan suara. Namun 99,95 persen rakyat Mesir menandai surat suara mereka untuk memilih dia sebagai presiden pertama Republik Mesir. Dalam pemungutan suara yang sama, konstitusi baru Nasser, di mana Mesir menjadi negara sosialis satu partai dengan Islam sebagai agama resmi, disetujui oleh 99,8 persen pemilih.

Postcomended   Ini Dia Daftar Kampus Pencetak CEO di Amerika

Dilansir laman History, Nasser lahir di Alexandria pada 1918. Sebagai seorang pemuda, dia berpartisipasi dalam demonstrasi menentang pemerintahan Inggris di Mesir. Setelah sekolah menengah, dia belajar di sebuah perguruan tinggi hukum selama beberapa bulan dan kemudian memasuki Akademi Militer Kerajaan. Pada 1938, dia lulus sebagai letnan dua.

Ketika bertugas di Sudan selama Perang Dunia II, dia pada 1949 membantu mendirikan organisasi revolusioner rahasianbernama Perwira Bebas, suatu kelompok klandestin yang anggotanya berusaha menggulingkan keluarga kerajaan Mesir dan menggulingkan Inggris. Salah seorang anggotanya adalah Anwar Sadat yang kelak menggantikan Nasser.

Satu bulan setelah pemilu, Nasser menghadapi krisis besar ketika Amerika Serikat (AS) dan Inggris membalikkan keputusan mereka untuk membiayai bendungan di Sungai Nil (bendungan Aswan) mengingat perjanjian senjata Mesir dengan Uni Soviet.

Sebagai tanggapan, Nasser segera menasionalisasi Terusan Suez milik Inggris dan Prancis, dengan akan menjadikan jalan tol sebagai pembayar proyek bendungan tersebut. Akhir Oktober 1956, Israel, Inggris, dan Prancis menyerang Mesir dalam operasi bersama.

Terusan Suez diduduki, tetapi tekanan Soviet dan AS memaksa Israel, Inggris, dan Prancis untuk mundur, dan Terusan Suez dikuasai Mesir pada 1957. Peristiwa ini sangat meningkatkan prestise Nasser di dunia Arab, dan pada tahun 1958 dia mengawasi penyatuan Mesir dan Suriah sebagai Republik Persatuan Arab, di mana dia menjadi presiden.

Postcomended   7 Februari dalam Sejarah: Ungkap Skandal Militer Prancis, Novelis Emile Zola Diseret ke Pengadilan

Dalam artikelnya, laman History menyebutkan, Nasser bermimpi membawa semua dunia Arab ke Republik Arab Bersatu, tetapi pada 1961 Suriah menarik diri dari entitas setelah kudeta militer, meninggalkan Mesir sendiri. Dari 1962 hingga 1967, Mesir melakukan intervensi dalam perang saudara di Yaman atas nama anti-royalis.

Nasser Diberi Mosi Percaya

Pada 1967, meningkatnya ketegangan Arab-Israel membuat Mesir mengerahkan pasukannya dan menuntut penarikan pasukan penjaga perdamaian AS dari Semenanjung Sinai, Mesir. Mesir dan lima negara Arab lainnya bersiap untuk serangan terpadu terhadap Israel, tetapi Israel mencegah serangan itu, memulai Perang Enam Hari dengan penghancuran angkatan udara Mesir pada 5 Juni 1967.

Mesir dan para pejuang Arab lainnya dikalahkan, dan pasukan Israel merebut semua Sinai hingga menyeberangi Terusan Suez. Akibat bencana militer ini, Nasser ingin mengundurkan diri, tetapi warga Mesir yang berdemonstrasi serta Majelis Nasional Mesir memberi “mosi percaya”, dan membujuk Nasser tetap menjabat.

Setelah Perang Enam Hari, Nasser menerima bantuan militer dan ekonomi Soviet yang lebih besar, mengompromikan status Mesir sebagai negara non blok Bersama Yugoslavia dengan Josip Broz Tito-nya, India dengan Jawaharlal Nehru-nya, dan Indonesia dengan Sukano-nya.

Pada Juli 1970, Bendungan Aswan selesai dibangun dengan bantuan Soviet yang memberikan dorongan besar bagi perekonomian Mesir. Dua bulan kemudian, Nasser meninggal karena serangan jantung di Kairo. Dia digantikan oleh Anwar Sadat, sesama Perwira Bebas.

Postcomended   Indonesia Belajar Minum Kopi Tanpa Ampas (3)

Terlepas dari kekalahan militernya, Nasser adalah pemimpin popular yang secara konsisten selama 18 tahun berkuasa. Kebijakan ekonomi dan reformasi pertanahannya meningkatkan kualitas hidup bagi banyak orang Mesir. Wanita diberi banyak hak selama masa jabatannya.

Kepemimpinannya mengakhiri kekuasaan 2.300 tahun oleh orang asing di Mesir, dan kebijakan independennya membuatnya dihormati tidak hanya di Mesir tetapi di seluruh dunia.***


Share the knowledge

Leave a Reply