Internasional

24 April dalam Sejarah: Snuppy, Anjing Kloning Pertama Dilahirkan di Korsel

Share the knowledge

Snuppy, kanan, dengan bapak genetisnya, Tai (gambar dari: https://www.sciencenews.org/blog/science-ticker/dog-clone-genome-nearly-identical-donor-dna)

Snuppy, kanan, dengan bapak genetisnya, Tai (gambar dari: https://www.sciencenews.org/blog/science-ticker/dog-clone-genome-nearly-identical-donor-dna)

Pada tanggal ini tahun 2005, anjing hasil kloning pertama, Snuppy, lahir di Korea Selatan. Anjing jantan dari jenis Afghan ini merupakan hasil penelitian Seoul National University (SNU). Pada 2005, Time memasukannya ke dalam Invention of the Year. Namun Snuppy dilaporkan telah mati.

Sekolah Tinggi Kedokteran Hewan SNU, seperti dikutip dari laman Useoul.edu, mengumumkan pada 13 Maret 2016, bahwa Snuppy mati setelah merayakan ulang tahunnya yang ke 10. Snuppy, yang merupakan kependekan dari “SNU” dan “puppy”, adalah hasil penelitian di universitas itu yang dipimpin oleh Hwang Woo Suk, mantan profesor bioteknologi SNU.

Diperlukan riset dua tahun dan delapan bulan yang dimulai pada Agustus 2002 hingga Snuppy lahir. Teknik kloning sel somatik yang digunakan untuk membuat Snuppy mirip dengan Dolly, domba hasil kloning, yang lahir pada 1996.

Postcomended   Studi: Otak Monyet yang Suka "Minum" Tumbuh Lambat

Satu  tim yang terdiri dari 45 ilmuwan mengambil sepotong jaringan dari telinga anjing Afghanistan yang berusia tiga tahun, lalu memanipulasinya menjadi 1.095 embrio yang ditanamkan ke sebanyak 123 ibu pengganti. Upaya tersebut menghasilkan tiga kehamilan.

Namun dari tiga kehamilan itu, satu berakhir dengan keguguran dan yang lainnya mati karena pneumonia tak lama setelah kelahirannya. Alhasil, Snuppy adalah satu-satunya anjing cloning yang berhasil bertahan hidup secara normal.

Sebelum Snuppy lahir, para ilmuwan di seluruh dunia telah berhasil mengkloning hewan lain seperti kucing, babi, kuda, dan domba, dengan Dolly menjadi mamalia hasil kloning pertama. Namun, anjing dianggap sangat sulit untuk dikloning karena anjing betina hanya berovulasi dua kali setahun dan sel-sel telur anjing tidak matang pada saat ovulasi.

Postcomended   21 Januari dalam Sejarah: Bahasa Eyak Punah Seiring Meninggalnya Penutur Terakhir

Tim peneliti Hwang mampu mengatasi kesulitan ini dengan menentukan periode dan lokasi sel telur yang tepat ketika mereka matang di dalam tubuh, serta merancang metode untuk mematangkan embrio anjing di luar ovarium.

Penciptaan Snuppy disambut banyak pujian di kalangan akademisi. Majalan Time memasukkannya ke dalam salah satu “Penemuan Paling Menakjubkan 2005” dengan pertimbangan bahwa anjing memiliki banyak penyakit yang sama dengan manusia. Dengan begitu, kloning anjing yang sukses seperti yang didemonstrasikan melalui Snuppy diharapkan dapat menjadi model untuk menyembuhkan penyakit manusia seperti diabetes dan Parkinson.

Selain itu, umur Snuppy yang relatif panjang membuktikan bahwa hewan hasil kloning pun dapat hidup sama lamanya dengan anjing normal. Menurut laman Useoul.edu, Snuppy sudah memiliki keturunan berupa 10 anak anjing melalui prosedur inseminasi buatan dengan anjing betina kloning lainnya, sehingga menunjukkan bahwa hewan kloning memiliki fungsi reproduksi normal.***


Share the knowledge
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

To Top