Loading...
Internasional

26 April dalam Sejarah: Nazi Mendirikan Gestapo, Agen Rahasia Brutal “Pemasok” Kamp Konsentrasi

Share the knowledge

Heinrich Himmler sedang menginspeksi pasukan Gestapo (gambar dari: https://www.ljmu.ac.uk/about-us/news/articles/2015/10/8/research-reveals-secrets-of-gestapo)

Heinrich Himmler sedang menginspeksi pasukan Gestapo (gambar dari: https://www.ljmu.ac.uk/about-us/news/articles/2015/10/8/research-reveals-secrets-of-gestapo)

Pada tanggal ini tahun 1933, Nazi membentuk Gestapo dengan Hermann Goring ditunjuk sebagai kepalanya. Wewenangnya disebut untuk melindungi keamanan dan ketertiban umum, namun praktiknya mereka mengumpulkan “rang-orang yang tak diinginkan untuk dideportasi ke kamp-kamp konsentrasi. 

Geheime Staatspolizei, atau disingkat Gestapo –yang terjemahan harfiahnya adalah polisi rahasia negara– merupakan pasukan khusus Nazi di bawah SS (Schutzstaffel, “skuadron perlindungan”). Dalam praktiknya, Gestapo memata-matai warga Jerman menggunakan metode interogasi untuk mengidentifikasi lawan politik dan para pembangkangnya.

Mereka yang dianggap tidak sejalan dengan Nazi akan dikirim ke “penjara swasta” dan kemudian ke kamp konsentrasi. Mereka disebut bertanggung jawab atas pengumpulan orang-orang Yahudi di seluruh Eropa untuk deportasi ke kamp-kamp pemusnahan.

Sejarahwan Richard Evans menulis, dikutip dari laman Facinghistory.org, Gestapo menjadi simbol teror Nazi yang dikenal dengan teknik interogasi brutal: “Sejak awal Reich Ketiga, interogasi oleh polisi dan Gestapo sering mengakibatkan para tahanan dikembalikan ke sel-sel penjara. Mereka dipukuli hingga memar bahkan terluka parah.”

Organisasi paramiliter ini diberi otoritas melakukan “penangkapan pencegahan” tanpa harus melalui prosedur pengadilan, setelah pada 10 Februari 1936, Nazi Reichstag mengeluarkan Hukum Gestapo, yang isinya antara lain menyebutkan: “Baik instruksi maupun urusan Gestapo tidak akan terbuka untuk ditinjau oleh pengadilan administratif.”

Akibatnya, seperti dilansir laman Britannica, ribuan kaum kiri, intelektual, Yahudi, serikat buruh, ulama politik, dan homoseksual, menghilang begitu saja setelah ditangkap Gestapo yang mengirimnya ke kamp-kamp konsentrasi. Bagian politik Gestapo bahkan dapat langsungmemerintahkan tahanan untuk dibunuh, disiksa, atau dibebaskan.

Postcomended   Pyongyang Sebut Siswa Australia yang Dibebaskan adalah Mata-mata

Anggota Gestapo dimasukkan dalam Einsatzgruppen (“kelompok penyebaran”), yang merupakan pasukan kematian keliling yang menguntit pasukan reguler Jerman ke setiap negara selama penaklukan Eropa, termasuk Polandia dan Rusia, untuk membunuh atau menangkap orang-orang Yahudi dan “yang tidak diinginkan” lainnya.

Agen Gestapo ini membentuk mekanisme teror yang sama di setiap negara yang diduduki seperti mengadu domba tetangga dengan tetangga.

Mereka yang tak diinginkan Nazi, oleh Biro B4 Gestapo pimpinan Adolf Eichmann, lalu mengorganisasi deportasi jutaan orang Yahudi dari negara-negara pendudukan itu ke kamp-kamp pemusnahan di Polandia dengan metode “pertanyaan Yahudi”.

Eichmann, seorang organisator yang energik dan efisien, akan menjaga kereta berjalan tepat waktu dari seluruh Eropa ke kamp kematian Nazi yang terletak di Polandia.

Postcomended   12 September dalam Sejarah: 23 Orang Tewas dalam Insiden Tanjung Priok

Meskipun secara organisas Gestapo tidak besar untuk ukuran penguasaan wilayah hingga Rusia, namun para pegawai dan agennya yang total hanya berjumlah 40 ribu, dianggap berhasil mengguritakan misinya bagai sistem pemasaran berjenjang.

Ini memungkinkan karena. seperti dikutip dari Historyplace.com, setiap agen Gestapo beroperasi di pusat jaringan besar mata-mata dan informan. Sistem ini membuat siapa saja di sekitarnya bisa menjadi musuh bagi siapapun, karena identitas informan tidak terbuka. Dia bisa seorang tukang pengantar susu, wanita tua di seberang jalan, rekan kerja yang pendiam, bahkan anak sekolah.

Akibatnya, ketakutan merebak luas. Kebanyakan orang menjadi sadar perlunya sensor diri dan umumnya menutup mulut secara politis, kecuali mereka memiliki sesuatu yang positif untuk dikatakan.

Siapa pun yang cukup bodoh untuk mengatakan sesuatu yang berisiko atau menceritakan lelucon anti-Nazi di tengah kawan campuran, mungkin akan disusul dengan ketukan di pintu rumah pada tengah malam.

Mengenai Herman Goring, awalnya dia bersaing dengan Nazi ambisius lainnya, Heinrich Himmler, untuk mendapatkan dukungan sang Fuhrer, Adolf Hitler, tentang siapa yang akan memimpin Gestapo.

Pada 20 April 1934, menurut laman Historyplace, setelah banyak pertikaian Goring memutuskan menyerahkan Gestapo kepada Himmler dan rekannya, Reinhard Heydrich, yang mengambil alih sebagai ketua Gestapo dua hari kemudian.

Postcomended   Demonstran Hong Kong Serukan Boikot "Mulan", Pemerannya Dituding Warga AS Naturalisasi

Goring rupanya lebih tertarik untuk sesuatu yang dianggapnya lebih besar daripada “sekadar” sebagai polisi. Penerima medali Pour le Mérite yang bergengsi ini menganggap dirinya lebih layak sebagai pemimpin militer. Dia ingin mengambil alih Angkatan Udara Jerman, seiring rencana Hitler membangun militer Nazi.***

 

Loading...


Share the knowledge
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Loading...
To Top