Internasional

26 April dalam Sejarah: Pilot Ukraina Menangis Saat Mengenang Terbang di Atas Chernobyl

History Conflicts The Chernobyl Disaster - History Conflicts History Conflicts The Chernobyl Disaster

History Conflicts The Chernobyl Disaster – History Conflicts History Conflicts The Chernobyl Disaster

Tanggal 26 April mencatat sejumlah peristiwa bersejarah dan menarik. Di tanggal ini 85 tahun silam, pasukan polisi rahasia Nazi Jerman, Gestapo, didirikan. Dari negeri sendiri, demi “kejar setoran” peringatan setengah abad Konferensi Asia Afrika, dibangunlah Jalan Tol Cipularang, yang baru dibuka untuk umum pada tanggal ini 2005. Namun kejadian paling tidak bisa dilupakan dunia adalah meledaknya reaktor nuklir milik Uni Soviet di Ukraina, Chernobyl, pada 1986. Ledakannya menghempaskan awan radioaktif yang mematikan ke angkasa. Untuk mengenang peristiwa ini Margaryta Chornokondratenko dari Reuters, mewawancarai seorang pilot militer yang terbang di atas Chernobyl usai bencana terjadi.

Mykola Volkozub, pilot militer Ukraina, nyaris tidak bisa bergerak ditindih beratnya rompi penangkal radiasi saat ia bersiap untuk penerbangan pertamanya di atas reaktor Chernobyl setelah bencana nuklir terburuk di dunia itu pada 1986.

Mengingat insiden itu masih membawa air mata ke mata Volkozub, yang selamat dari risiko keracunan radiasi untuk hidup sampai usia 86 tahun. Saat ini, dia bahkan menjadi pengawas pilot uji untuk Antonov, produsen pesawat yang dikelola negara.

Postcomended   Studi: Ganja Bisa Kurangi Resep Obat Candu Opioid

Waktu itu, Volkozub dikerahkan dalam tim dua pilot, yang membawa seorang insinyur dan ilmuwan, untuk menerbangkan helikopter MI-8 di atas reaktor untuk mengukur suhu dan komposisi gas di dalamnya.

Bencana Chernobyl disebabkan oleh uji keamanan yang gagal di reaktor keempat dari pabrik atom Uni Soviet itu, yang mengirim awan nuklir ke sebagian besar Eropa. Musibah ini menewaskan puluhan orang seketika, dan memaksa puluhan ribu orang lainnya mengungsi. Korban tewas terakhir yang diduga terkena penyakit terkait radiasi, seperti kanker, menjadi perdebatan.

Volkozub menyebut bencana ini sebagai “tragedi berskala planet”. Dia ingat menyetujui terbang dalam misi tersebut, meskipun mengetahui hidupnya dalam risiko.

“Untuk beberapa alasan, saya pikir saya akan merasa (lebih) buruk jika sesuatu terjadi pada orang lain di sana dan saya tidak ada di sana. Itu sebabnya saya langsung mengambil keputusan (setuju) seperti itu,” katanya kepada Reuters di hangar pabrik Antonov, di mana dia telah bekerja selama 23 tahun.

Postcomended   Kembali ke Negerinya Sejak Ditembak Taliban, Malala Hujan Pujian Sekaligus Sinisme

Volkozub dianugerahi medali “Pahlawan Ukraina” atas upayanya ini. Setelah melakukan tiga penerbangan yang berlangsung selama 19 menit 40 detik total, Volkozub pun terpapar radiasi dosis tinggi, yang intensitasnya menyebabkan sejumlah alat pengukur kualitas udara (dosimeter) menjadi rusak ketika ia mencoba untuk mengukur paparannya.

Helikopter itu juga terkena radiasi dan harus dikubur di satu tempat (situs) yang diberi nama “kuburan peralatan yang dinonaktifkan”; sesuatu yang dia kenang dengan air mata di matanya.

“Saya mendarat di sana, dekat (situs). Dan ketika saya meninggalkan tempat itu, saya merasa sangat menyesal atas helikopter itu. Bagi saya itu tidak mengecewakan saya, tetapi saya harus membuangnya,” katanya.

Postcomended   Menpar Menilai Media Value Asian Games 2018 Sangat Penting

Tepat setelah penerbangan ketiganya pada 10 Mei 1986, Volkozub dikirim ke Moskow untuk tes medis. Dia ingat bagaimana perawat di sana, yang takut terkontaminasi, mendorong makanan ke arahnya dengan bantuan tongkat panjang untuk menghindari interaksi fisik dengannya.(***/reuters)

Share the knowledge
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

To Top