(Twitter)

Pada tanggal ini, 1858, Baron Lionel de Rothschild menjadi orang Yahudi pertama yang terpilih di Parlemen Inggris. Pada 1945, Fisikawan Raemer Schreiber dan Letnan Kolonel Peer de Silva meninggalkan Lapangan Udara Tentara Kirtland untuk mengangkut inti plutonium untuk Fat Man (bom yang menghancurkan Nagasaki) ke pulau Tinian di mana bom tersebut dirakit. Sementara itu di tahun-tahun awal setelah Muslim ditinggal meninggal Nabi Muhammad saw, terjadi perang Shiffin, perang saudara Muslim pertama.

Dua puluh lima tahun sejak Nabi Muhammad saw meninggal, tepatnya 26 Juli 657, terjadi perang saudara pertama di antara Muslim, yang melibatkan menantu Nabi, Ali bin Abu Talib, Perang yang dikenal dengan nama Perang Siffin ini dipicu kematian Khalifah Utsman bin Affan yang dibunuh pemberontak Mesir pada 656.

Perang Shiffin berlangsung tiga hari, dimulai pada 26-28 Juli 657. Perang ini melibatkan pasukan Muawiyah I yang dipimpin Muawiyah I dan Amr ibnu al-Aas, yang didukung sekitar 120.000 orang, dengan pasukan Ali bin Abi Thalib yang dipimpin Ali sendiri dan Malik ibnu Ashter, dengan didukung 90.000 orang.

Dikisahkan, setelah pembunuhan Khalifah Utsman bin Affan, kekhalifahan Muslim diserahkan kepada sepupu dan menantu Nabi Muhammad, Ali ibn Abi Thalib. Tak lama setelah naik ke kekhalifahan, Ali mulai mengonsolidasikan cengkeramannya atas kekalifahan.

Postcomended   23 November dalam Sejarah: Pink Floyd Rilis "The Wall", Freddie Mercury Umumkan Idap AIDS

Di antara mereka yang menentangnya adalah Gubernur Suriah, Muawiyah I; kerabat Utsman yang terbunuh. Muawiyah menolak mengakui Ali sebagai khalifah karena ketidakmampuannya membawa kasus pembunuhan Utsman ke pengadilan.

Dalam upaya untuk menghindari pertumpahan darah, Ali mengirim seorang utusan bernama Jarir, ke Suriah untuk mencari solusi damai. Jarir lalu melaporkan hasil pertemuannya: Muawiyah akan tunduk jika para pembunuh Utsman ditangkap.

Dengan baju bernoda darah milik Utsman yang tergantung di masjid Damaskus, pasukan besar Muawiyah berbaris keluar untuk menemui Ali, berjanji untuk tidak tidur sampai para pembunuh ditemukan. Namun Ali tak melakukan yang diminta pasukan Muawiyah sehingga suasana memanas.

Dalam perencanaan pertama untuk menyerang Suriah dari utara, Ali memilih bergerak langsung melintasi gurun Mesopotamia. Saat menyeberangi Sungai Eufrat di Riqqa, pasukannya bergerak di sepanjang tepiannya ke Suriah dan pertama kali melihat pasukan lawannya berada di dekat dataran Siffin.

Setelah terjadi pertempuran kecil atas hak Ali mengambil air dari sungai, kedua belah pihak mengejar upaya terakhir dalam negosiasi karena keduanya ingin menghindari pertempuran besar. Setelah 110 hari pembicaraan, mereka masih menemui jalan buntu, hingga pada 26 Juli 657, Ali dan jendralnya, Malik ibn Ashter, memulai serangan besar-besaran terhadap garis batas Muawiyah.

Postcomended   5 September dalam Sejarah: Olimpiade Munich Nyaris Dibatalkan Alibat Aksi "Black September"

Ali secara pribadi memimpin pasukannya, sementara Muawiyah lebih memilih membiarkan jenderalnya, Amr ibnu al-Aas, memimpin pertempuran, sementara dia sendiri menyaksikan dari sebuah pavilion.

Pada satu titik, Amr ibnu al-Aas menghancurkan bagian dari garis musuh dan hampir menerobos cukup jauh untuk membunuh Ali. Pasukan Malik ibnu Ashter membalas dengan serangan besar-besaran, yang hampir memaksa Muawiyah melarikan diri dari lapangan dalam keadaan jumlah pengawal pribadinya berkurang.

Pertempuran berlanjut selama tiga hari dengan tidak ada pihak yang mendapatkan keuntungan, meskipun pasukan Ali menimbulkan lebih banyak korban. Khawatir akan kalah, Muawiyah menawarkan untuk menyelesaikan perbedaan mereka melalui arbitrase.

Tiga hari pertempuran menimbulkan korban jiwa di kubu Muawiyah sekitar 45.000 orang, dan di kubu Ali bin Abi Thalib 25.000 orang. Di medan perang, para arbiter memutuskan bahwa kedua pemimpin itu dalam posisi sama, lalu kedua pihak mundur ke Damaskus dan Kufa.

Postcomended   23 Agustus dalam Sejarah: Inggris Rebut Hongkong, Tandai Kian Beratnya Perang Candu

Ketika para arbiter bertemu lagi pada Februari 658, tidak ada resolusi yang dicapai. Pada 661, setelah Ali terbunuh, Muawiyah naik ke kekhalifahan, menyatukan kembali kekhalifahan Muslim. Dinobatkan di Yerusalem, Muawiyah mendirikan kekhalifahan Umayyah, dan mulai bekerja untuk memperluas negara. Sukses dalam upaya ini, ia memerintah sampai kematiannya pada 680.(***/kennedyhickman/thoughtco)

Share the knowledge