26 Juli dalam Sejarah: Plutonium untuk Merakit Bom Nagasaki Diangkut ke Pulau Tinian

26 Juli dalam Sejarah: Plutonium untuk Merakit Bom Nagasaki Diangkut ke Pulau Tinian

Internasional
Share the knowledge

Pada tanggal ini tahun 1945, petaka Nagasaki sudah menapaki jalurnya, ketika Fisikawan Raemer Schreiber dan Letnan Kolonel Peer de Silva meninggalkan Lapangan Udara Kirtland untuk mengangkut inti plutonium untuk merakit Fat Man, bom yang menghancurkan Nagasaki.

Inti plutonium tersebut, yang dijuluki “Rufus”, diangkut ke pulau Tinian, tempat di mana bom tersebut dirakit. Dikutip dari tulisan berdasarkan buku harian Schraeber berjudul “The harrowing story of the Nagasaki bombing mission” yang ditulis Ellen Bradbury dan Sandra Blakeslee di laman The Bulletine, dengan inti plutonium itu di pangkuannya Schreiber pergi menuju Albuquerque tempat dia akan menaiki pesawat C-54 yang kosong.

Untuk diketahui, Bradburry –menurut laman The Bulletine— adalah tetangga Frederick L. Ashworth, pensiunan angakatan laut AS (Navy) yang bertanggung jawab atas pengujian akhir dan perakitan komponen bom atom “Fat Man”. Dia juga yang mengawasi bom tersebut ketika berada di pesawat yang kemudian dijatuhkan dari langit Nagasaki.

Dia tahu, inti plutonium yang ukurannya kira-kira hanya sebesar jeruk Bali; suatu elemen radioaktif yang baru diproduksi yang lebih stabil daripada kebanyakan isotop uranium dan lebih kuat, tidak bisa meledak tanpa detonator.

Postcomended   Kendaraan Korban yang Masih Teronggok di TKP Menghantui Warga Christchurch

Seperti dijelaskan dalam buku hariannya, Schreiber duduk di kursi kayu keras yang diikat di dalam pesawat besar yang membawanya hingga Tinian. Seperti semua orang yang mengerjakan Bom, dia kelelahan. Jadi dia tidur sambil duduk; memegang kotak bom di pangkuannya, seraya sesekali menuju kokpit ketika pesawat mengalami turbulensi.

Schreiber mendarat di Tinian pada 28 Juli. Terletak di kepulauan Marianas, di sisi lain dari International Date Line, pulau itu panas dan lembab; hujan turun hampir terus-menerus. Tidak ada yang berpikir tentang di mana harus meletakkan inti plutonium tersebut. Para ilmuwan Los Alamos yang sudah berada di Tinian lebih dulu, akhirnya menempatkannya di belakang pondok Quonset tempat mereka tidur.

Pada bulan Februari, Ashworth memilih Tinian karena itu adalah salah satu pulau yang dibebaskan pertama yang memiliki landasan yang cukup panjang untuk lepas landas pesawat pembawa Fat Man, B-29, yang penuh muatan. Tinian juga cukup dekat dengan daratan Jepang sehingga pesawat dapat melakukan perjalanan pulang pergi.

Pesawat B-29 terkenal tak bisa diandalkan, namun untuk misi pemboman Nagasaki, pesawat ini disebut telah dimodifikasi dan ditingkatkan, yang tercermin dalam sebutan resmi pesawat: “Silverplate”. Dalam kondisi cuaca yang menimbulkan kesedihan, para kru berbicara tentang kemungkinan Jepang menyerah (berharap tak perlu menjatuhkan Fat Man di Nagasaki).

Postcomended   Demi Keselamatan Anak-anak, Inggris Bakal Hapus Tombol "Like" di Medsos

Kolonel Paul W. Tibbets, yang telah mengemudikan pesawat yang membawa “Little Boy” ke Hiroshima, adalah salah satu dari orang-orang yang terlibat dalam memutuskan kapan akan menjatuhkan bom kedua, yang dijadwalkan pada 11 Agustus.

Cuaca buruk termasuk munculnya topan, menyebabkan tanggal misi dipindahkan pada 9 Agustus.  Target utamanya pada awalnya adalah Kokura, tempat salah satu pabrik amunisi terbesar di Jepang. Nagasaki sebenarnya hanya target cadangan.

Menurut William J. Broad, reporter sains untuk New York Times, Fat Man menjadi dasar dominasi AS di era nuklir. Desainnya menjadi model untuk semua bom atom yang mengikutinya, termasuk hal-hal yang ingin dicapai Korea Utara dan semua kekuatan atom baru hari ini.

Menggunakan plutonium, Fat Man menghasilkan ledakan yang jauh lebih besar: kekuatan ledakannya mencapai 22 kiloton TNT. Bandingkan dengan Little Boy yang “hanya” 12,5 kiloton.

Pada 9 Agustus, sekitar pukul 03.47 waktu setempat di pulau Tinian, sebuah pesawat Super-B-29 yang sangat besar melaju di landasan pacu bandara tropis tersebut, mengangkut 13 orang dan “Fat Man”; senjata yang saat itu merupakan yang paling merusak di dunia. Sang “Pria Gendut” pun dijatuhkan pada pukul 11.04 dari atas langit Nagasaki.***


Share the knowledge

Leave a Reply