26 Juni dalam Sejarah: Snouck Hurgronje, Orientalis yang Memanipulasi Islam, Meninggal

26 Juni dalam Sejarah: Snouck Hurgronje, Orientalis yang Memanipulasi Islam, Meninggal

Internasional Nasional
Share the knowledge

Pada tanggal ini tahun 1936, Snouck Hurgronje, meninggal. Orientalis Belanda ini “rela” masuk Islam hanya supaya bisa masuk Mekah dan mempelajari Islam untuk strategi penjajahan di Nusantara. Dia sempat menikahi dua wanita Sunda, salah satunya –yang adalah anak dari Kalipah Apo– masih berumur 13 tahun.

Pakar dunia Arab dan Islam pada masanya ini, sekaligus pejabat di pemerintahan kolonialis Belanda, meninggal di Leiden, dalam usia 79 tahun. Seorang pengamat masalah geopolitik, ekonomi, dan Islam, Andreas De Vries, menulis satu artikel tentang Hurgronje di laman Eurasiareview, dan memberinya judul “Christiaan Snouck Hurgronje: History of Orientalist Manipulation of Islam”.

Dilansir laman Britannica, ketika menjadi dosen di Universitas Leiden (1880–1889), Hurgronje mengunjungi jazirah Arab (1884–1985), dan masuk ke Mekkah (seperti kita ketahui, hanya Muslim yang boleh masuk kota ini).

Kunjungannya itu menghasilkan karya klasiknya “Mekka” dalam dua volume (1888-1989). Isinya merekonstruksi sejarah kota suci itu dan menyoroti asal-usul Islam, tradisi dan praktik awal, serta komunitas Islam pertama.

Jilid kedua, diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris sebagai “Mekka in the Latter Part of the 19th Century” (1931), memuat banyak rincian kehidupan sehari-hari dalam budaya Islam dan berurusan dengan koloni Muslim Indonesia di Mekah.

Dari tahun 1890 hingga 1906, Hurgronje adalah profesor bahasa Arab di Batavia, Jawa, dan –sebagai penasihat pemerintah– ia mulai mengembangkan kebijakan kolonial Belanda terhadap Islam yang berlaku sampai berakhirnya kekuasaan Belanda di Indonesia pada 1942.

Postcomended   Arab Saudi akan Bangun Kota Canggih NEOM

Meskipun ia toleran terhadap kehidupan beragama Islam, kebijakannya sebagai pejabat kolonial adalah untuk menekan agitasi politik Islam. Di laman Eurasiareview, De Vries menulis: “Dalam sebuah surat kepada Goldziher pada tahun 1886, satu tahun setelah perjalanannya ke Mekkah, Snouck mengatakan: “Saya tidak pernah keberatan dengan unsur agama dari institut ini (Islam). Hanya (saja) pengaruhnya pada politik, menurut saya, patut disesali (deplorable). Dan sebagai orang Belanda, saya merasa perlu untuk memperingatkan hal ini.”

Menurut Snouck, masih dalam tulisan De Vries, masalah mendasar Islam adalah fakta bahwa Muslim percaya pada kebutuhan akan Kesatuan Negara, dengan sebuah Khalifah yang mengatur atas semuanya sesuai dengan hukum Syariah.

Hurgronje menjadi penasihat kolonial hingga 1933. Pada 1906 dia kembali ke Belanda, menjadi professor pada lembaga-lembaga Arab dan Islam di Universitas Leiden sampai kematiannya. Dia banyak menulis tentang sejumlah topik Islam.

Menurut De Vries, meskipun sudah meninggal selama lebih dari setengah abad, Hurgronje tetap menjadi tokoh yang sangat kontroversial baik di dunia barat dan dunia Muslim. Pada masanya pun, sebut De Vries, dia adalah orientalis yang terkenal di dunia, yang telah melakukan perjalanan ke Mekkah dan mempelajari dan mendokumentasikan kehidupan Muslim di sana.

Postcomended   Raja Obat Bius Meksiko Dihukum Seumur Hidup, El Chapo: Ini Siksaan Hebat!

Selama bertahun-tahun ia hidup dan bekerja di kalangan umat Islam di Indonesia, tulis De Vries, membuatnya menjadi ahli dalam tradisi, Bahasa, dan agama berbagai suku di Indonesia. Kepada orang-orang dan pemerintah di barat, dia selalu menampilkan dirinya sebagai seorang ilmuwan. Dan sebagai seorang ilmuwan dia menyarankan berbagai pemerintah Barat pada “urusan Muslim”.

Pada saat yang sama dia menampilkan dirinya sebagai seorang Muslim yang tulus –bukan sebagai seorang ilmuwan– kepada orang-orang di dunia Muslim yang ia tinggali dan pelajari. Di antara mereka ia pergi dengan nama “Abdul Ghaffaar”. Sebagai seorang sarjana Islam ia bahkan menasihati orang-orang Muslim dalam urusan agama dan politik.

Hurgronje semasa hidupnya di Nusantara disebut pernah dua kali menikahi perempuan Sunda. Dikutip dari laman Wikitree, dari istri pertamanya bernama Sangkana, satu-satunya anak Penghulu Besar Ciamis. Raden Haji Muhammad Ta’ib, dia memiliki empat anak bernama  Ibrahim, Aminah, Salmah Emah, dan Oemar.

Postcomended   3 Juni dalam Sejarah: Lagu “Bohemian Rhapsody” Menapaki Kejayaan

Istri keduanya adalah Siti Sadijah, anak penghulu Bandung, Haji Muhammad Soe’eb, yang dikenal dengan nama Kalipah Apo. Snouck kala itu sudah 41 tahun dan Sadijah baru 13 tahun saat menikah pada 1898. Keduanya memiliki anak yang diberi nama  Joesoef.

Dikatakan De Vries, karena ia memainkan peran ganda sepanjang hidupnya, hari ini, baik di dunia Barat maupun Muslim, dia dijunjung tinggi oleh sebagian orang sekaligus diragukan oleh orang lain.(***/britannica/eurasiareview)


Share the knowledge

Leave a Reply