Amukan Merapi 2010 menghancurkan desa-desa radius 10 km (https://wallpaperalea.files.wordpress.com/2010/10/6.jpg)

Hari ini tujuh tahun lalu, Gunung Merapi (2.814 meter) meletus dahsyat. Ratusan jiwa termasuk sang kuncen Merapi, Mbah Maridjan, tewas. Jenazahnya baru ditemukan relawan sehari kemudian.

Gunung yang terletak di empat wilayah administrasi ini, yakni Sleman, Magelang, Boyolali, dan Klaten, ini, tidak pernah benar-benar tidur. Puncaknya senantiasa berasap dan seringkali menaburkan abu ke kota-kota tersebut.

Sebelum meletus pada 2010, gempa-gempa dan letusan freatik sudah tercacat sejak 2006. Letusan cukup besar sebelumnya terjadi pada 1961.

Letusan Merapi pada 26 Oktober 2010 tersebut, disertai turunnya awan panas yang mematikan, yang oleh warga setempat dikenal dengan nama wedhus gembel. Wedhus gembel inilah yang diduga menewaskan Mbah Maridjan.

Tim SAR menemukan jasad pembantu setia Sultan HB IX ini di dapur dalam posisi sujud. Di sekitar rumah Mbah Maridjan ditemukan juga 16 orang yang tewas.

Pada 3 dan 5 November, terjadi letusan yang lebih dahsyat. Awan panas meluncur hingga 15 kilometer melalui Kali Gendol. Material yang dimuntahkan mencapai 150 juta meter kubik.

Pada letusan kedua ini dua relawan yang masuk ke dalam bunker, ditemukan tewas terperangkap material vulkanik panas yang menimbun mereka.

Postcomended   5 November dalam Sejarah: Parker Bersaudara Mengeluarkan Permainan Monopoli

Dilansir situs Kompas, berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana pada 30 November 2010, tercatat sebanyak 61.154 orang mengungsi, 341 orang tewas, dan 368 orang harus rawat inap.

Awan panas dan material jatuhan menyebabkan 3.307 bangunan rusak. Nilai kerugian disebut mencapai Rp 4,23 triliun.

Letusan Merapi paling dahsyat yang tercatat dalam sejarah modern terjadi pada 15-20 April 1872. Letusan mematikan karena disertai awan panas dan material jatuhan itu berlangsung 120 jam tanpa jeda, memusnahkan permukiman yang berada di ketinggian di atas 1.000 meter.

Periatiwa ini dicatat oleh Kemmerling (1921) dan Hartmann (1934), yang dirujuk B Voight dkk (2000) dalam penelitian berjudul Historical Eruptions of Merapi Volcano, Central Java, Indonesia, 1768-1998.

Hartman menulis, suara letusannya seperti suara meriam yang terdengar sampai Karawang dan Priangan di barat serta ke timur hingga Madura (Jawa Timur) dan Pulau Bawean.

Karena dianggap penting, Merapi menjadu satu dari 16 gunung api dunia yang termasuk dalam proyek Gunung Api Dekade Ini; “a Decade Volcanoes.(***detikcom/kompas)

MELACAK MITOS MERAPI 26 Oktober 2010, tepat 6 tahun yang lalu, bencana besar menyeruak di sela-sela ketenangan warga Kota Yogyakarta, khususnya bagi sebagian besar yang tinggal di sekitar lereng gunung Merapi, salah satu gunung paling aktif di dunia. Kala itu, bencana erupsi Gunung Merapi menyembulkan cerita horor dan ketakutan yang berlangsung selama satu bulan lebih. Tanda-tanda Merapi menunjukkan peningkatan aktivitasnya dimulai sejak akhir Oktober 2010. Erupsi berlanjut hingga memasuki bulan November. Erupsi terbesar terjadi di ujung bulan Oktober, ditandai dengan meluncurnya jutaan kubik aliran Piroklastik ke puluhan Dusun yang terletak persis di bawah lereng Merapi. JANGAN GANGGU JALANKU ! Redi Merapi, menawi bade mbangun sampun damel margi piyambak ( Gunung Merapi, jikalau erupsi sudah membuat jalan sendiri ) Mbah Marijan Kalimat itu jelas sekali diucapkan embah panutan masyarakat lereng merapi, tapi tidak mudah untuk memahami apa maunya dan arti sebenarnya. Bagi orang yang tidak memahami jalan pikirannya, dengan simple akan mengatakan, irasional masak gunung kok bisa buat jalan sendiri. Nah, bagi orang yang meyakini dunia mistik akan berkesimpulan bahwa si embah sudah dapat "dhawuh" dari penguasa Merapi. —————————————————————— MELACAK MITOS MERAPI Peka Membaca Bencana Kritis Terhadap Kearifan Lokal Penulis : Ibnu Subiyanto (mantan Bupati Sleman Yogyakarta) Limited Edition Dicetak terbatas 500 exp Area distribusi hanya di toko buku P. Jawa HARGA : Rp. 88.000 50 pemesan pertama mendapat diskon 25% Info pemesanan : TELP/SMS/WA : 0853-1880-8011 —————————————————————— #buku #merapi #gunungmerapi #bencanamerapi #letusanmerapi #merapimeletus #korbanmerapi #bukutentangmerapi #vulkano #vulkanologi #wedusgembel #yogyakarta #merapiyogyakarta #tiaramedia #bukuvulkanologi #bukumerapi #mengenangletusanmerapi

A post shared by TIARA MEDIA BOOKSTORE (@tiaramedia) on

Share the knowledge