Ilustrasi serangan pasukan Kerajaan Mataram ke Batavia, namun gagal merebutnya dari VOC (sumber: Montanus, A. "Oud en nieuw Oost-Indien", hal. 358 via Wikipedia)

Ilustrasi serangan pasukan Kerajaan Mataram ke Batavia, namun gagal merebutnya dari VOC (sumber: Montanus, A. “Oud en nieuw Oost-Indien”, hal. 358 via Wikipedia)

Pada tanggal ini  tahun 1935, seorang manusia jujur dilahirkan ke dunia: Baharuddin Lopa. Pada 3 Juli 2001, Lopa meninggal dunia saat sedang berada di Riyadh. Pemerintah Arab Saudi sempat melemparkan kecurigaan bahwa Lopa diracun. Sebagai Jaksa Agung, Lopa saat itu sedang mengusut kasus korupsi Sjamsul Nursalim, Prajogo Pangestu, dan Marimutu Sinivasan yang melibatkan banyak pejabat negara. Abad XIX tepatnya 1883 mewariskan cerita Gunung Krakatau Meletus dengan kekuatan 1.300 megaton, menimbulkan tsunami besar, dan membunuh 40.000. Tahun 1628, Sultan Agung dari Mataram, menyerang Belanda di Batavia, namun mengalami kegagalan.

Di bawah Sultan Agung yang berkuasa pada 1613, Kerajaan Mataram mampu memperluas wilayahnya yang mencakup sebagian besar wilayah Jawa. Setelah merebut beberapa kota pelabuhan di utara Jawa, terutama Surabaya dan Madura, Sultan Agung keranjingan memperluas daerah kekuasaannya, maka dia juga berusaha merebut Batavia yang saat itu dikuasai kongsi dagang Belanda (VOC).

Mataram adalah kerajaan besar di Jawa yang eksis sejak akhir abad ke-16 hingga abad ke-18; era ketika Belanda berkuasa di Indonesia. Laman Britannica menulis, Mataram awalnya adalah bawahan Kerajaan Pajang, tetapi menjadi kuat di bawah Senapati (kemudian dikenal sebagai Adiwijoyo).

Postcomended   Parlemen Rusia Desak Sanksi pada Latvia yang Wajibkan Bahasa Latvia di Sekolah

Bagai memelihara anak singa, Senapati berhasil mengalahkan kerajaan “atasannya” itu, dan menjadi raja pertama Mataram. Sejak itu, Senapati berusaha menyatukan Jawa bagian timur dan tengah, namun banyak mengalami kegagalan, salah satunya Kerajaan Blambangan yang tetap independen.

Hasrat menguasai banyak wilayah ini seolah menurun pada sang cucu, Sultan Agung. Setelah Surabaya dan Madura ditaklukan, dia berusaha merebut Batavia (dan Banten) dari tangan VOC. Pada 27 Agustus 1628, Sultan Agung meluncurkan serangan ke Batavia, namun mengalami kegagalan. Bahkan dia mencoba mengulang serangan setahun kemudian, namun kembali gagal.

Setelah kegagalan ini, ekspansi Mataram berhenti dan tidak lagi menjadi ancaman bagi Belanda di Batavia dan Banten. Perang tersebut malah mengakibatkan beberapa kehancuran, terutama di pantai utara Jawa.

Dikutip dari laman ipfs.io, pertarungan, penyakit, kelaparan, dan gangguan pertanian menimbulkan banyak kematian di kalangan warga yang jumlahnya diperkirakan cukup besar. Surabaya tidak lagi menjadi pelabuhan penting dan kehilangan dominasinya atas Jawa timur.

Postcomended   Lama Tidur yang Baik untuk Jantung Menurut Penelitian

Kerusakan kota-kota pesisir ini berkontribusi pada menurunnya perdagangan di Jawa. Belanda melalui VOC yang menginginkan suasana stabil untuk melangengkan pengerukan sumber daya alam Nusatnara, mencoba mencari wilayah lain yang lebih stabil yang akhirnya memunculkan Kesultanan Makassar di Sulawesi sebagai pusat utama perdagangan rempah-rempah di Nusantara.

Selama upaya ekspansi Mataram, Sultan Agung meninggalkan warisan yang melekat hingga sekarang. Dia pernah misalnya pernah memindahkan penduduk Jawa Tengah ke Karawang, Jawa Barat, yang berpenduduk sedikit, serta mendorong terjadinya perdagangan antar pulau.

Dia juga berperan dalam proses asimilasi Islam dalam tradisi Hindu-Jawa dan memperkenalkan kalender baru pada 1633 berdasarkan praktik Islam dan Jawa. Seni selama pemerintahan Sultan Agung adalah campuran unsur-unsur Islam dan Hindu-Jawa.

Mataram mulai menurun setelah kematian Sultan Agung (1645). Bahkan pada pertengahan abad ke-18, sejumlah wilayah yang dikuasainya berhasil diambil VOC. Alih-alih solid, dengan dicampuri politik devide et impera (memecah belah) VOC, suksesi di Mataram menyebabkan perpecahan.

Pada 1755, Mataram dibagi dua dengan alasan supaya tidak saling bertikai. Bahkan dua tahun kemudian dengan campur tangah VOC (yang memang diminta) Mataram dibagi-bagi lagi menjadi tiga wilayah.

Postcomended   Aduh Ga Tahan! Si Cantik Kuat ini Ternyata juga Ikut Asian Games 2018

Surabaya dan daerah-daerah taklukan Mataram lainnya di pantai timur laut Jawa, hanya tetap berada di tangan Mataram sampai diserahkan ke VOC setelah Perang Jawa 1741-1743. Bagaimanapun, periode penguasaan oleh Mataram adalah periode formasi budaya Jawa seperti dalam hal etiket Jawa, seni, bahasa dan hirarki social, yang masih terasa hingga kini.***

 

 

 

 

 

 

Share the knowledge