Internasional

27 Mei dalam Sejarah: Bangalore Diserbu Busa Beracun

Busa Beracun Bartahun-tahun Banjiri Jalanan di Bangalore, Kok Bisa ... KEPONEWS Busa Beracun Bartahun-tahun Banjiri Jalanan di Bangalore, Kok Bisa?

Busa Beracun Bartahun-tahun Banjiri Jalanan di Bangalore, Kok Bisa … KEPONEWS Busa Beracun Bartahun-tahun Banjiri Jalanan di Bangalore, Kok Bisa?

Pada 1995, tanggal ini mencatat peristiwa ketika Christopher “Superman” Reeve, jatuh dari kudanya dan mengalami kelumpuhan permanen dari leher ke bawah. Tanggal ini, 1999, juga mencatat, Pengadilan Pidana Internasional untuk bekas Yugoslavia, mendakwa Slobodan Milosevic dan empat lainnya untuk kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan yang dilakukan di Kosovo. Tahun 2017 di tanggal sama, jalanan Bangalore diserbu busa putih; busa beracun dari Danau Varthur.

Di kota Bangalore, India selatan, ketika suhu April bisa mencapai 39 derajat Celcius, hujan lebat adalah sesuatu yang harus dirayakan. Namun pada 27 Mei 2017, hujan telah menghasilkan fenomena lain yang kurang menyenangkan: busa beracun.

Busa putih yang mekar, yang membawa berbagai masalah kesehatan bagi penduduk, ditambah baunya yang menyengat, meluap dari Danau Varthur, yang terletak di dekat persimpangan kota Whitfield Road yang sibuk.

Danau Varthur adalah danau terbesar kedua di Bangalore. Sebelum menjadi ibukota teknologi India, kota ini dikenal sebagai “kota danau”.

Postcomended   Viagra Bisa Pulihkan Penglihatan Seseorang

Saking mengganggunya, warga sampai mendirikan pagar kawat pelindung di sekitar tepian danau dan sungai-sungai di sekitarnya, namun tak banyak berguna terutama saat angin bertiup, membawa busa masuk melalui atas pagar dan ke jalanan.

“Buih di danau jelas menunjukkan ada kesalahan manajemen. Ada aliran limbah industri ke danau yang tidak diolah,” kata TV Ramachandra, koordinator Kelompok Penelitian Energi dan Lahan Basah, di Indian Institute of Science di Bangalore.

“Ketika kotoran masuk ke dalam air, nutrisi dalam bentuk nitrogen dan fosfor masuk juga. Nitrogen diambil oleh tanaman di dalam air, sementara fosfor terperangkap dalam sedimen. Ketika curah hujan dan kecepatan angin tinggi, fosfor yang terperangkap dalam endapan dilepaskan, sehingga menciptakan busa,” ujar Ramachandra.

Menurut Ramachandra, busa beracun dapat menyebabkan masalah pernapasan dan kulit, serta implikasi kesehatan yang lebih serius.

“Air bawah tanah juga telah terkontaminasi. Studi kami menunjukkan air tanah memiliki tingkat nitrat yang tinggi, yang merupakan karsinogen (penyebab penyakit seperti kanker),” katanya.

Postcomended   Rugikan Negara Setengah Triliun, Mantan Guru Besar Harvard Ini Akhirnya Ditahan

Ramachandra juga menyebutkan logam berat dalam air telah mencemari sayuran yang ditanam di hilir danau. “Kami telah melihat kandungan logam yang lebih tinggi dalam bahan makanan yang masuk ke kota,” ujarnya.

Ajaibnya dari pencemaran ini, busa bukan satu-satunya zat yang mengalir keluar dari danau kota. Danau Bellandur, danau terbesar di kota ini, menjadi berita utama pada Februari 2017 ketika danau ini meletus menjadi api.

“Danau ini dipenuhi tanaman yang mulai mengering. Orang-orang membuang limbah ke atasnya. Dan ketika mereka (warga) membakar sampah plastik dan lain-lain, bakteri tanaman kering juga terbakar,” jelas Ramachandra, yang telah mempelajari danau di kota ini sejak 1997. Ia yakin api menyebar dengan cepat karena ada jejak minyak di dalam air.

“Kami melihat warna api itu oranye dan kuning, dan ketika kami menganalisis sampel, kami menemukan ada tingkat hidrokarbon yang tinggi yang bisa ditemukan dalam produk minyak bumi.”

Segera setelah kebakaran itu, Green Tribunal Nasional India, pengadilan khusus yang didukung pemerintah yang dibuat untuk menangani masalah lingkungan, melarang pembuangan limbah kota di dan sekitar Danau Bellandur.

Postcomended   “Babi Terjelek di Dunia” Masih Eksis di Pulau Jawa

Penduduk setempat yang frustrasi dengan kurangnya peraturan lingkungan, mencurahkan perasaannya melalui media sosial. Menteri Pengembangan Bengaluru, KJ George, dilaporkan melakukan dengar pendapat dengan warga untuk menawarkan solusi.

Namun Ramachandra ragu. “Tidak ada ketulusan. Jika tak ada tekanan dari lembaga peradilan, semuanya tidak berjalan.”(***/onthisday/CNN)

Share the knowledge
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

To Top