http://c1.thejournal.ie/media/2015/01/indonesia-plane-60-752×501.jpg

Hari ini, 2014, AirAsia QZ8501 jatuh ke Laut Jawa di lepas pantai Kalimantan sesaat setelah lepas landas. Ke-162 penumpangnya termasuk awak pesawat, tewas. Pesawat jenis Airbus A320-200 ini, lepas landas dari Bandara Ir H Djuanda, Surabaya, menunju Singapura. Baru 40 menit terbang, pesawat hilang kontak.

Penyidik, yang pada awalnya mengindikasikan bahwa cuaca buruk yang mungkin menjadi penyebab kecelakaan, menemukan bahwa ada komponen yang tidak berfungsi serta terdapat unsur human error yakni tindakan awak kapal yang berkontribusi sebagai penyebab kecelakaan.

Beberapa hari kemudian bangkai dan mayat ditemukan mengambang sekitar 16km (10 mil) dari koordinat terakhir pesawat yang tercatat. Sebanyak 106 mayat berhasil ditemukan, sisanya masih belum diketahui.

Komunikasi terakhir, pesawat lepas landas dari Surabaya pukul 05:35 waktu setempat pada hari Minggu 28 Desember (22:35 GMT Sabtu). Setelah hampir setengah jalan menuju penerbangan berdurasi dua jam ke Singapura, kapal menghilang dari radar.

Pilot menghubungi kontrol lalu lintas udara (air traffic control/ATC) pada pukul 06:12 waktu setempat untuk meminta izin mendaki hingga 38.000 kaki (11.000 m) dari 32.000 kaki, untuk menghindari awan badai besar.

Komunikasi ini merupakan kontak terakhir ATC dengan pesawat tersebut. Pesawat itu menghilang dari layar radar tak lama kemudian, tanpa mengeluarkan sinyal bahaya.

Mengapa Penerbangan QZ8501 jatuh? Sebuah laporan oleh badan cuaca Indonesia pada awalnya mengatakan bahwa cuaca buruk adalah “faktor terbesar” dalam kecelakaan itu.

Namun sebuah laporan resmi oleh petugas transportasi yang dikeluarkan pada Desember 2015 menemukan bahwa kesalahan dalam sistem kontrol kemudi pesawat, bersamaan dengan tindakan awak kapal, menyebabkan kecelakaan tersebut.

Sebuah retakan di modul elektronik kecil menyebabkan sistem mengirim peringatan ulang kepada pilot. Pilot menanggapi dengan mengatur ulang sistem. Hal ini menyebabkan autopilot melepaskan diri yang menyebabkan pesawat berguling ke kiri. Para pilot berjuang memperbaiki pesawat yang macet dan jatuh.

Laporan tersebut mengungkapkan bahwa kru pemeliharaan sebelumnya telag mengetahui masalah tersebut, bahkan sudah terjadi 23 kali pada 2014. Mengatur ulang sistem telah menjadi salah satu dari beberapa metode yang digunakan untuk mengatasinya.

Pada hari kecelakaan tersebut, AirAsia tidak memiliki izin terbang untuk rute Surabaya-Singapura. Maskapai ini hanya memiliki jadwal menerbangi rute tersebut pada empat hari lain dalam seminggu.***

 

Share the knowledge