http://informazone.com/wp-content/uploads/2017/09/facebook.com_.jpg

Hari ini, 89 tahun yang lalu, pemuda Indonesia dari berbagai daerah mengikrarkan Sumpah Pemuda yang tersohor itu, dalam Kongres Pemuda II pada 27-28 Oktober 1928. Menanggapi kongres tersebut beserta capaiannya, pemerintah kolonial Belanda sok cool, bahkan meremehkan.

Pejabat kolonial untuk urusan negara jajahan, Van Der Plass, terkekeh demi mengetahui para peserta kongres yang kemudian mengikrarkan Bahasa Indonesia sebagai “bahasa persatuan”, lebih banyak menggunakan bahasa Belanda dan bahasa daerah selama kongres berlangsung.

Tidak tahu dia, bahwa seusai Kongres Pemuda ke-2 itu, hasrat berontak para pemuda Indonesia kepada penjajah, terbakar.

Dari Berdikarionline, Soegondo Djojopoespito, pimpinan sidang, memang berusaha menggunakan bahasa Indonesia, namun belepotan. Siti Sundari, salah seorang pembicara, bahkan menggunakan bahasa Belanda sepanjang kongres.

Namun dua bulan kemudian, seperti ditulis Dr Keith Foulcher, pengajar jurusan Indonesia di Universitas Sydney, Australia, Siti Sundari mulai menggunakan bahasa Indonesia.

Postcomended   27 November dalam Sejarah: Jawaharlal Nehru Serukan Amerika dan Soviet Hentikan Perang Dingin

Perkiraan Van Der Plass pun meleset. Kongres berhasil menjadi api pencetus  persatuan nasional bangsa Indonesia untuk melawan kolonialisme.

Malam, 28 Oktober 1928, di dalam gedung Indonesische Clubgebouw, Jakarta, yang penuh sesak, ribuan pemuda yang menamakan diri Jong Java, Jong Ambon, Jong Celebes, Jong Batak, Jong Sumatranen Bond, Jong Islamieten Bond, Sekar Roekoen, PPPI, Pemuda Kaum Betawi, dll, mendengar pidato penutupan Kongres seraya mendengar lantunan “Indonesia Raya” dari biola WR. Soepratman.

Adalah Muhammad Yamin, kala itu berusia 25, yang menuliskan rumusan Sumpah Pemuda pada secarik kertas. Rumusan ini kemudian dibacakan Soegondo:

Kami, putera dan puteri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, Tanah Indonesia
Kami, putera dan puteri Indonesia, mengaku berbangsa yang satu, Bangsa Indonesia
Kami, putera dan puteri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, Bahasa Indonesia

Kesepakatan memproklamasikan bahasa Indonesia adalah kelanjutan dari gagasan yang muncul di Kongres Pemuda I pada 1926. Boleh jadi hal tersebut tercetus karena terlalu beragamnya bahasa yang digunakan para pemuda yang hadir, mulai bahasa Belanda, Inggris, hingga bahasa daerah masing-masing.

Postcomended   28, 29, 30 Agustus: Referendum Bikin Timor Timur Lepas dari Indonesia

Waktu itu, Mohammad Yamin yang masih berusia 23, mengusulkan bahasa Melayu sebagai bahasa persatuan. Namun peserta Kongres, Tabrani Soerjowitjitro, memprotesnya. Dia mengusulkan nama “bahasa Indonesia”.

Peserta kongres lalu sepakat penetapan bahasa persatuan akan diputuskan di kongres II. Van Der Plass tampaknya salah menduga. Keragaman bahasa yang digunakan para pemuda di dalam kongres lah yang justru memunculkan ide pentingnya ada bahasa pemersatu antar para “jong” tersebut.***

Postcomended   14 November dalam Sejarah: Novel Moby Dick Pertamakali Terbit di Amerika, Sempat Sepi Pembaca

Share the knowledge