Internasional

29 Mei dalam Sejarah: Penguasa Rezim Brutal Panama Meninggal Dunia

Pada tanggal ini, 1987, Michael Jackson mencoba membeli kerangka “manusia gajah” Joseph Merrick. The King of Pop ini terobsesi padanya dengan menghabiskan berjam-jam duduk sendirian di samping kerangkanya di Royal London Hospital. Tanggal ini juga mencatat, Presiden AS Barrack Obama, mulai “mengobrak-abrik” Suriah dengan menyetujui pelatihan militer terhadap pemberontak Suriah untuk memerangi rezim Bashar al-Assad. Sementara itu tahun lalu, mantan diktator Panama yang dijuluki “Si Muka Nanas” dan juga dikenal sebagai “CIA Man”, meninggal dunia.

Manuel Noriega, mantan diktator Panama yang rejimnya ditandai dengan penindasan brutal, dan terlibat dalam kolusi dengan CIA dengan membentuk “narcokleptokrasi pertama di belahan Bumi”, meninggal di usia 83.

Kematian diktator yang dikenal sebagai “CIA Man in Panama” ini, diumumkan oleh Presiden Panama, Juan Carlos Varela, melalui Twitter. “Kematian Manuel A Noriega menutup satu bab dalam sejarah kami; putrinya dan keluarga mereka layak menguburnya dengan damai,” cuit Varela, sehari setelah tanggal kematiannya.

Sebelum meninggal, Noriega mengalami koma sejak menjalani operasi otak, Maret 2017. Seorang pejabat pemerintah mengatakan, Noriega meninggal sekitar pukul 11 malam setelah kondisinya tiba-tiba memburuk.

Postcomended   Terungkap: 50 Juta Akun Facebook Disalahgunakan Cambridge Analytica #FacebookDown

Noriega memerintah Panama dari tahun 1983-1989. Noriega adalah salah seorang pemimpin yang mengikuti pola kepentingan geopolitik Amerika Serikat (AS): dinaikkan menjadi pimpinan negara, namun kemudian dijatuhkan juga; pola sama yang dilakukan AS terhadap Saddam Husein atau Suharto.

Sebelum menjadi Presiden Panama, Noriega pada 1970-an secara senyap menjadi informan badan intel AS, CIA. Saat itu, AS menjadikan Panama sebagai basis mata-mata untuk negara-negara rivalnya di Amerika tengah, seperti El Salvador dan Nikaragua.

Setelah Presiden Panama sebelumnya, Omar Torrijos, tewas dalam kecelakaan udara misterius pada 1981, Noriega naik menjadi kepala angkatan bersenjata dan penguasa de facto Panama. Dia dianggap sebagai aset berharga CIA, membantu AS merebut narkoba di laut dan melacak pencucian uang di bank-bank Panama, dan melaporkan kegiatan gerilya dan teroris.

Noriega misalnya berkolusi dengan gembong narkoba terkenal Kolombia, Pablo Escobar. Lama-kelamaan, Noriega menjadi racun bagi AS hingga kemudian AS melalui perintah Presiden George HW Bush, memutuskan menginvasi Panama pada 1989 dan menggulingkan rezim represifnya, mengakhiri karir penyelundupan kokainnya ke AS dan pencucian uang di bank-bank Panama.

Postcomended   Menpar Menilai Media Value Asian Games 2018 Sangat Penting

Noriega ditangkap dan dibawa ke Miami. Selama operasi invasi tersebut, 23 personil militer AS tewas dan 320 orang terluka. Pentagon memperkirakan 200 warga sipil Panama dan 314 tentara tewas.

Laporan subkomite Senat AS mengatakan, dengan sepengetahuan para pejabat AS, Noriega membentuk “narcokleptocracy pertama di belahan Bumi”. Subkomite ini juga menggambarkan Noriega sebagai contoh terbaik dalam kebijakan luar negeri AS tentang bagaimana seorang pemimpin asing (yang dinaikkan oleh AS) merugikan kepentingan AS sendiri.

Seperti halnya tokoh-tokoh Amerika Latin yang otoriter pada paruh kedua abad ke-20, Noriega dilatih di sekolah Amerika yang terkenal buruk. Lulusan sekolah ini termasuk mantan kepala mata-mata Peru Vladimiro Montesinos dan mantan diktator Argentina Leopoldo Galtieri.

Awal kehancurannya terjadi pada 1988 ketika juri agung federal di kota-kota Florida di Miami dan Tampa, AS, mendakwa Noriega atas tuduhan perdagangan narkoba, meskipun mungkin bukan itu kesalahan utama Noriega terhadap AS. (***/diolah dari theguardian dan dailytelegraph)

Share the knowledge
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

To Top