http://lostislamichistory.com/wp-content/uploads/2013/04/2009-05-10_1947-UN-Partition-Plan-For-Palestine.png

Hari ini, 1947, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), dengan alasan ingin mengakhiri konflik Arab-Yahudi, menyetujui rencana pembagian wilayah untuk Palestina, dan meninggalkan kawasan tersebut dengan mayoritas Yahudi. Oposisi Arab yang kuat, tak berkutik.

PBB bagaimanapun berada di bawah kendali negara-negara blok Barat yang cenderung mendukung Israel. Tak heran jika PBB memilih membelah Palestina dan membentuk negara Yahudi yang independen.

Upaya orang-orang Arab Palestina yang berusaha membendung imigrasi Yahudi, tak membuahkan hasil.

Diawali pada 1929, ketika orang-orang Arab dan Yahudi secara terbuka bertempur di Palestina. Inggris kala itu berusaha membatasi imigrasi Yahudi sebagai sarana untuk memuaskan orang-orang Arab.

Akibat peristiwa holocaust dan genosida di Eropa, banyak orang Yahudi secara ilegal memasuki Palestina selama Perang Dunia II. Kelompok-kelompok Yahudi radikal menggunakan cara-cara teroristis untuk melawan pasukan Inggris di Palestina, yang menurut mereka telah mengkhianati Zionis.

Pada akhir Perang Dunia II, pada tahun 1945, Amerika Serikat (AS) mengambil alih penyebab Zionis. Inggris, yang tidak dapat menemukan solusi praktis, merujuk masalah tersebut kepada PBB, yang pada tanggal 29 November 1947, memilih untuk membagi Palestina.

Postcomended   Pemimpin ISIS Dikabarkan Masih Hidup!

Hasilnya, Orang-orang Yahudi memiliki lebih dari separuh wilayah Palestina, padahal jumlahnya hanya kurang dari setengah jumlah penduduk Palestina. Proses pengusiran warga Palestina ini berlangsung terus hingga sekarang, dengan perluasan perumahan warga Yahudi.

Orang-orang Arab Palestina, yang dibantu oleh sukarelawan dari negara-negara lain, melawan pasukan Zionis. Namun orang-orang Yahudi berhasil merebut sepenuhnya bagian mereka dari Palestina dan bahkan juga meluas ke wilayah Arab.

Pada 14 Mei 1948, Inggris mengundurkan diri dengan berakhirnya mandatnya di wilayah Palestina, menyusul kemudian proklamasi negara Israel oleh Ketua Badan Yahudi, David Ben-Gurion.

Hanya berselang sehari setelah David Ben Gurion dkk mendeklarasikan berdirinya negara Israel, koalisi Arab yang terdiri dari Mesir, Suriah, Irak, Lebanon, Jordania, dan Arab Saudi mendeklarasikan perang dan menginvasi wilayah Yahudi. Pada 15 Mei 1948 pecahlah perang Arab-Israel pertama.

Pasukan Arab dengan jumlah pasukan lebih banyak dan persenjataan lebih baik, awalnya dengan mudah menduduki wilayah-wilayah yang ditempati orang Yahudi seperti Galilea dan Haifa. Namun, kordinasi yang buruk antar pasukan Arab di saat-saat akhir, menyebabkan Lebanon menarik mundur pasukannya.

Postcomended   28 Oktober dalam Sejarah: Pejabat Kolonial Belanda Sempat Meremehkan Sumpah Pemuda

Menghadapi serbuan pasukan koalisi Arab, warga Israel bersatu membentuk Pasukan Pertahanan Israel (IDF) yang beranggotakan gabungan kelompok milisi.

Ajaibnya, IDF dengan persenjataan seadanya berhasil mengerahkan lebih banyak pasukan ketimbang koalisi Arab. Pada awal 1949, Israel memiliki 115.000 tentara sedangkan koalisi Arab hanya sekitar 55.000 personel saja.

Setelah bertempur selama sembilan bulan, pada 1949, pembawa misi gencatan senjata PBB meninggalkan Israel untuk mengendalikan daerah-daerah yang ditaklukkan secara permanen.

Akibatnya, ratusan ribu orang Arab Palestina terpaksa pergi dari Israel selama perang, dengan Israel berhasil menguasai 78 persen wilayah Mandat Palestina dan meninggalkan negara tersebut dengan mayoritas orang Yahudi.(***/history/kompas)

Postcomended   Konvensi Minamata Mulai Berlaku: Negara Peratifikasi Harus Awasi Ketat Pemakaian Merkuri

 

Share the knowledge