Internasional

3 Juli dalam Sejarah: Tembak Jatuh Pesawat Komersial Iran Air, AS Tak Pernah Mau Minta Maaf

USS Vincennes

Pada tanggal ini, 1920, “Technische Hoogeschool te Bandoeng” (THS) didirikan sebagai cikal bakal Institut Teknologi Bandung (ITB). Pada tanggal ini juga, 1946, sejarah mencatat, karena tak puas dengan gaya pemerintahan yang masih bersahabat terhadap Belanda, sejumlah tokoh di bawah Tan Malaka meminta Kabinet Sjahrir dibubarkan –merupakan upaya kudeta pertama terhadap pemerintahan Republik Indonesia. Di tanggal sama, 1988, kapal perang AS salah mengidentifikasi kapal sipil Iran dan menembaknya jatuh.Sebanyak 290 warga sipil dari enam negara termasuk 66 anak-anak dan 38 orang non-Iran, tewas setelah pesawat Iran Air berkode penerbangan IR655 yang ditumpanginya mereka, ditembak jatuh oleh USS Vincennes di Bandar Abbas, Dubai, 3 Juli 1988.

Pada pagi hari bencana itu, 3 Juli, kapten dan awak Penerbangan IR655 berada di lapangan terbang Bandar Abbas di Iran selatan, mempersiapkan leg kedua penerbangan rutin mereka sejauh 150 mil di atas Teluk Persia menuju Dubai. Penerbangan 655 adalah penerbangan komersial yang dioperasikan oleh Iran Air yang terbang dengan rute Tehran-Bandar Abbas-Dubai.

Pesawat Airbus A300B2 ini meninggalkan Bandar Abbas pada 10.17 pagi, 27 menit setelah waktu keberangkatan yang dijadwalkan 09.50.

Pada saat yang sama, kapal penjelajah patroli Angkatan Laut AS, USS Vincennes, yang dilengkapi dengan sistem tempur AEGIS, berada di dekat Selat Hormuz, ketika pesawat komersial yang diterbangkan Kapten Mohsen Rezaian, akan lewat juga di wilayah tersebut.

USS Vincennes ditempatkan di Teluk Persia selama perang Iran-Irak. Kehadiran AS dimaksudkan untuk mengawal tanker minyak Kuwait yang terdaftar di bawah bendera AS; seraya membatasi aktivitas laut Iran sebagai bagian dari aksi embargo AS terhadap Iran waktu itu. Vincennes berada di bawah komando Komandan William C. Rogers III pada saat kejadian.

Seperti kebanyakan pesawat modern, pesawat Iran dilengkapi transponder identifikasi pesawat terbang; suatu bentuk modern dari sistem “identifikasi, teman atau musuh” (IFF) yang digunakan selama Perang Dunia II. Ketika diinterogasi oleh sinyal radar dari musuh potensial, transponder akan mengeluarkan sinyal respon spesifik (squawks).

Postcomended   Suara yang Diduga Baghdadi: Mengaku Kalah namun Terus Semangati Pengikutnya

Setelah lepas landas dari landas pacu 21, Penerbangan 655 diarahkan oleh menara Bandar Abbas untuk menghidupkan transpondernya dan melanjutkan ke Teluk Persia. Penerbangan itu ditugaskan secara rutin ke koridor udara komersial Amber 59, lajur dua puluh mil di jalur langsung ke bandara Dubai.

Karena jaraknya yang pendek, lajur penerbangan menjadi sederhana, yakni memanjat ke ketinggian 14.000 kaki, melayang untuk waktu singkat, kemudian turun secara bertahap ke Dubai.

Dengan alasan karena terlambat lepas landas, di radar Vincennes sinyal itu muncul pukul 10.17. Pada pukul 10:19, Vincennes mulai mengeluarkan peringatan pada frekuensi Angkatan Udara Militer.

Menurut akun pemerintah AS, Vincennes diakui keliru mengidentifikasi pesawat Iran sebagai pesawat tempur pejuang militer Iran. Para petugas mengidentifikasi profil penerbangan yang diterbangkan oleh A300B2 mirip Tomcat Angkatan Udara Iran F-14A selama serangan berlangsung.

Menurut laporan yang sama, Vincennes mencoba lebih dari satu kali untuk menghubungi Penerbangan IR655, tetapi tidak ada responn. Laporan resmi ICAO menyatakan, Vincennes berupaya menghubungi IR655 namun malah mengirim ke frekuensi yang salah, yakni kepada “Iran F-14” yang tidak ada.

F-14 Iran di Bandar Abbas telah diatur untuk berderit (squawks) dalam “Mode II,” mode yang akan mengidentifikasi ke kapal AS bahwa pesawat tersebut adalah militer dan milik Iran. Sedangkan sebagai penerbangan komersial, IR655 diinstruksikan berderit mode III; yang mengidentifikasi sinyal lalu lintas sipil. Nomor kode transmisi yang unik, 6760 dalam kasus ini, ditugaskan membedakan penerbangan khusus ini dari yang lain.

Postcomended   13 Juli dalam Sejarah: Pemerintahan Darurat Republik Indonesia yang Dipimpin Sjafruddin Prawiranegara Berakhir

Selama tiga menit berikutnya, Vincennes keliru membaca semua sinyal tersebut: salah mengidentifikasi Airbus 320 sebagai kemungkinan Iran F-14, salah melaporkan mendengar IFF berderit di mode II, dan salah melaporkan pesawat (seperti) turun ke arah kapal, padahal sesuai rencana penerbangan biasanya, IR655 sebenarnya sedang menanjak.

Pada pukul 10.24 pagi, Kapten Rogers, Komandan Armada Vincennes memerintahkan menembakkan dua rudal anti-pesawat SM-2ER kepada pesawat yang dia duga jet tempur F-14.
Sontak pesawat Airbus Iran Air dicegat oleh satu atau dua rudal di ketinggian 13.500 kaki. Beberapa detik kemudian, penerbangan IR 655 itu meledak dan jatuh ke Teluk Persia

Karena “kotak hitam” pesawat Airbus Iran Air hilang di perairan Teluk Persia, profil penerbangan tetap menjadi misteri: apakah awak Iran Air mengabaikan sinyal Vincenne, atau tidak.

Pemerintah AS mengeluarkan catatan penyesalan atas hilangnya nyawa manusia, namun hingga saat ini tidak pernah mengakui kesalahannya atau tanggung jawab apa pun, bahkan juga tidak mengeluarkan penyataan minta maaf. AS malah terus menimpakan kesalahannya bahwa ini sebagai akibat dari tindakan permusuhan Iran.

Orang-orang dari Vincennes semuanya bahkan diberi pita aksi tempur. Komandan Lustig, koordinator peperangan udara, bahkan memenangkan Medali Terpuji angkatan laut untuk “pencapaian heroik”: “kemampuannya mempertahankan ketenangan dan keyakinannya di bawah api” yang telah memungkinkannya “dengan cepat dan tepat menyelesaikan prosedur tembak”.

Postcomended   30 Juni dalam Sejarah: Tiga Kosmonot Soyuz-11 Pulang Tanpa Nyawa

Menurut artikel 23 April 1990 yang dicetak di The Washington Post, “Legion of Merit” diberikan kepada Kapten Rogers dan Letnan Komandan Lustig untuk penampilan mereka di Teluk Persia pada 3 Juli 1988. Kutipan tidak menyebutkan jatuhnya penerbangan Iran Air sama sekali.

Insiden ini terus membayangi hubungan AS-Iran selama bertahun-tahun. Menyusul ledakan Pan Am Flight 103 enam bulan kemudian, pemerintah Inggris dan Amerika awalnya menyalahkan PFLP-GC, sebuah kelompok militan Palestina yang didukung Suriah, dengan asumsi bantuan dari Iran sebagai balasan atas Penerbangan Udara Iran 655. Karena tidak terbukti, kesalahan kemudian bergeser ke Libya.

Wakil Presiden George H. W. Bush (yang kemudian menjadi Presiden Amerika Serikat) sebulan kemudian menyatakan, “Aku tidak akan pernah meminta maaf untuk Amerika Serikat, aku tidak peduli apa faktanya.”(***/newsweek)

Share the knowledge
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

To Top