Internasional

30 Juni dalam Sejarah: Pakta Pertahanan Asia Tenggara, SEATO, Dibubarkan

Share the knowledge

Logo SEATO (gambar dari: https://www.youtube.com/watch?v=P2s1ijRFY2E)

Logo SEATO (gambar dari: https://www.youtube.com/watch?v=P2s1ijRFY2E)

Didirikan dengan maksud menangkal pengaruh komunisme di kawasan, negara-negara di Asia Tenggara membentuk South East Asia Treaty Organisation (SEATO). Namun dalam perjalanannya, tidak ditemukan alasan untuk mempertahankan SEATO, sehingga dibubarkan 30 Juni 1977.

Saat didirikan, keorganisasian yang berawal dari Perjanjian Pertahanan Kolektif Asia Tenggara, atau Pakta Manila, ini, ingin menahan penyebaran komunisme di wilayah tersebut. Sebagai ekspresi dari kelembagaan Pakta Manila, didirikanlah SEATO pada 8 September 1954.

Namun hanya dua negara yang benar-benar berada di Asia Tenggara yang menandatanganinya, yakni Thailand dan Filipina. Enam lainnya berada di luar kawasan, bahkan merupakan anggota Pakta Pertahanan Atlantik Utara, NATO, seperti Amerika Serikat (AS), Inggris, dan Prancis.

Tiga lainnya tampaknya berkepentingan dengan keamanan Asia Tenggara yakni Australia, Selandia Baru, dan Pakistan. Namun negara-negara selain AS, Inggris, dan Prancis, yang ada di SEATO ini, diketahui sebagai negara-negara pro Barat.

Postcomended   Kabar Buruk untuk Pembenci Kecoak: Serangga Ini Bakal Makin Kebal Insektisida

Di sisi lain, seperti diketahui, negara-negara Asia Afrika yang tidak ingin berada dalam tarik-menarik kepentingan dunia, akhirnya mendirikan negara-negara non-blok yang dikenal dengan sebutan Gerakan Non-Blok (GNB). Pertemuan pertama negara-negara GNB terjadi di Beograd, ibukota Yugoslavia, pada September 1961.

Pertemuan itu dihadiri 25 anggota, masing-masing 11 dari Asia dan Afrika termasuk Indonesia dan India yang menjadi pelopor GNB, bersama dengan Yugoslavia, Kuba dan Siprus. Tujuan tertulis yang ditetapkan saat GNB didirikan adalah melawan kolonialisme, imperialisme, dan neo-kolonialisme.

Sementara itu negara-negara blok Timur yang umumnya berada di Eropa Timur, mendirikan Pakta Warsawa pada Mei 1955 dengan tujuan mengorganisasikan diri terhadap kemungkinan ancaman aliansi NATO.

Dikutip dari laman NZ History, SEATO didirikan pada tahun yang sama ketika Presiden AS kala itu, Dwight Eisenhower, menyampaikan pidato “Domino Theory” yang terkenal, dimana dia menyatakan keprihatinannya tentang pertumbuhan pengaruh komunis di Indocina dan wilayah yang lebih luas. AS mendesak sekutu-sekutunya di wilayah itu untuk menentang komunis.

Postcomended   Boeing 747 Bangkit dari Kematian

Selandia Baru sudah merasakan dampak Perang Dingin dan konflik bersenjata terkait situasi itu. Dalam Perang Korea, yang meletus pada 1950, Selandia Baru menunjukkan komitmennya terhadap PBB dan keamanan kolektif, dan upaya AS untuk menahan penyebaran komunisme. Dalam menandatangani perjanjian keamanan seperti ANZUS (1951) dan Pakta Manila, Selandia Baru menerapkan kebijakan keamanan berbasis aliansi.

Kombinasi kekuatan luar dan negara-negara pro-Barat di kawasan tersebut sampai batas tertentu merupakan upaya untuk membangun versi Aliansi NATO di Asia Tenggara. Tetapi tidak seperti NATO, SEATO tidak memiliki komando bersama atau pasukan yang berdiri.

Serangan tidak secara otomatis dilihat sebagai serangan pada semua. Setiap anggota dapat secara efektif melakukan blok aksi SEATO bersama. Dengan Prancis dan Inggris yang ingin mundur, SEATO sebagai organisasi keamanan kolektif, diragukan.

Ketika perang pecah lagi di Indocina, SEATO tidak dapat mencapai konsensus tentang intervensi. AS gagal mencoba menjadikan Perang Vietnam sebagai masalah pertahanan kolektif untuk alasan mempertahankan SEATO. Sementara pemerintah AS, Australia, dan Selandia Baru membenarkan keterlibatan mereka di Vietnam, beberapa anggota lain menentang. SEATO dibubarkan pada Juni 1977.***


Share the knowledge
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

To Top