Muhammad Ali meng-KO George Foreman

Hari ini 43 tahun lalu, orang Indonesia mendadak banyak yang bangun subuh-subuh. Bukan ke mesjid, melainkan berada di depan televisi untuk menonton “Rumble in the Jungle”, pertandingan tinju antara 
Muhammad Ali dengan George Foreman. Ali yang kala itu 32 tahun, merobohkan George Foreman yang masih berusia 25, pada ronde ke-8. Konon, pertandingan yang digelar di satu negara termiskin di dunia ini, berhasil melanggengkan kekuasaan sang diktator Zaire hingga 32 tahun.

Tak ada yang menyangka Ali yang sudah setua itu bisa men-KO Foreman yang muda dan terkenal memiliki pukulan kuat. Setidaknya, Foreman pernah meng-KO Ken Norton dan Joe Frazier yang pernah meng-KO Ali.
Namun pertandingan yang dipromotori Don King ini, terkenal dengan pertandingan stratejik Ali. Ali tahu kelemahan Foreman adalah ketika dia dikuasai kemarahannya.
Maka, sebelum bertanding Ali sesumbar hal-hal yang membuat Foreman mendidih; “kemampuan” yang membuat Ali dijuluki “Si mulut besar”.
Menyadari kelemahannya dibanding Foreman, Ali juga lebih banyak bertahan di tali ring. Strategi yang kemudian disebut “rope a dope” ini bertujuan menguras tenaga Foreman.
Strategi ini –selain dengan dukungan sekitar 50 ribu penonton yang menyesaki Stade du 20 Mai, di ibukota Zaire, Kinshasa tersebut– tampaknya berhasil
Pada akhir ronde 8, Ali mendadak meninggalkan tali ring dan melancarkan berbagai pukulan. Foreman terhuyung.
Sebelum benar-benar KO, Ali sempat bertanya pada Foreman, “Segini aja George?” Foreman menjawab lunglai, “Ya sampai di sini saja.”
Seraya mengingat tahun-tahun keemasannya yang hilang akibat dihukum tak bertanding karena menolak wajib militer ke Vietnam,
Ali bersiap menjotoskan pukulan terakhirnya untuk membuat Foreman pingsan; sebuah kelaziamn di dunia tinju bertarung sampai lawan minimal pingsan, namun Ali melewatkan kesempatan itu.
Dalam film dokumenter “Facing Ali”, Foreman menyebut pukulan Ali yang tak dipukulkannya itu adalah pukulan terbaik, di saat Foreman sendiri terpancing untuk sesumbar dan mengeluarkan pernyataan, “ingin membuat anak-anak Ali tak memiliki ayah lagi”.
Pertarungan yang diprakarsai diktator Zaire, Presiden Mobutu Sese Seko ini, konon berhasil melanggengkan kekuasaannya hingga 1997 sejak 1965, kendatipun muncul anekdot bahwa jika saat itu presiden Zaire diganti Ali, semua rakyat Zaire akan setuju. (***dari berbagai sumber)

Share the knowledge