30 September dalam Sejarah: Kartun Nabi Muhammad di “Jyllands-Posten” Memicu Kemarahan Muslim

Internasional
Share the knowledge

 

Bendera Denmark dibakar dalam unjuk rasa memprotes surat kabar negeri itu, Jyllands-Posten yang telah memuat kartun yang ofensif terkait Nabi Muhammad. (gambar dari: Ilyas Dean/Splash News/Newscom, via reason.com)
Bendera Denmark dibakar dalam unjuk rasa memprotes surat kabar negeri itu, Jyllands-Posten yang telah memuat kartun yang ofensif terkait Nabi Muhammad. (gambar dari: Ilyas Dean/Splash News/Newscom, via reason.com)

Pada tanggal ini, 2005, Muslim di seluruh dunia bereaksi keras atas pemuatan kartun Nabi Muhammad oleh Jyllands-Posten. Protes awalnya hanya di Denmark, namun dengan cepat menyebar ke seluruh dunia. Para demonstran membakar bendera Denmark. Boikot produk Denmark akhirnya meluluhkan harian itu untuk meminta maaf.

Bahkan boikot atas produk Denmark berhasil menyebabkan penurunan ekspor negeri itu. Protes terjadi di seluruh Timur Tengah dan negara-negara mayoritas Muslim seperti di Indonesia dan Malaysia.

Muslim Syiah Pakistan, dilaporkan Reuters, membakar bendera Denmark dan Amerika Serikat (AS) selama rapat umum di Karachi, empat bulan kemudian tepatnya 10 Februari 2006, meskipun Perdana Menteri Denmark akhirnya bersedia minta maaf pada Januari 2006.

Beberapa bulan seusai peristiwa itu, sejumlah jurnalis barat, terutama di AS dan Inggris, pada kenyataannya juga terbukti tidak nyaman dengan gagasan “apa pun dapat dilakukan atas nama kebebasan berekspresi”.

Namun press barat seperti tidak belajar dari kasus Jylland-Posten ketika kartun yang mengolok-olok Nabi Muhammad kembali membuat marah sekelompok yang mengatasnamakan Muslim, dan membunuh awak media Charlie Hebdo dengan menggeruduk kantor redaksi media Prancis ini pada 2015 silam.

Postcomended   Gletser yang Paling Cepat Menyusut, Tumbuh Lagi, Kabar Baik atau Buruk?

Jyllands-Posten pada tanggal ini menerbitkan 12 kartun yang mengolok-olok sosok Nabi Muhammad. Laman The Guardian menyebutkan, mereka menyebabkan pelanggaran mendalam dengan dua alasan: selain Islam melarang penggambaran Nabi Muhammad, ke-12 kartun itu pun dianggap sangat ofensif.

Bagimana tidak, dari ke-12 kartun tersebut, satu gambar melukiskan Muhammad mengenakan sorban berbentuk seperti bom dengan sumbu yang terbakar. Gambar lainnya, Muhammad digambarkan sebagai nomad yang memegang pisau yang diapit oleh dua wanita yang mengenakan cadar dan berpakaian serba hitam.

Protes awalnya terbatas hanya di Denmark, meskipun ada demonstrasi di Karachi, Pakistan, dan sejumlah Muslim lainnya mengirim email kemarahan ke kedutaan Denmark.

The Guardian melaporkan, Perdana Menteri Denmark saat itu, Anders Fogh Rasmussen, yang pertama kali dipilih setelah mengeksploitasi kebencian terhadap pencari suaka, awalnya salah menilai suasana hati dengan menolak bertemu dengan duta besar dari 11 negara Islam.

Di tengah meningkatnya protes, Rasmussen akhirnya membahas masalah ini di tahun baru, ketika dia mengutuk upaya “untuk menjelek-jelekkan kelompok orang berdasarkan agama atau latar belakang etnis mereka”. Dia menyebutkan contoh “beberapa sikap ofensif yang tidak dapat diterima”, tetapi dia berhenti menyebutkan nama Jyllands-Posten sebagai contoh, sehingga gagal memuaskan banyak Muslim yang mengutuk kartun itu.

Postcomended   Siaran Langsung Pembantaian Christchurch Gunakan Aplikasi Penggemar Olahraga Ekstrem

Pemimpin redaksi Jyllands-Posten, Carsten Juste, dalam sebuah pernyataan panjang, mengakui bahwa ke-12 kartun itu telah menyebabkan “kesalahpahaman yang serius”. Juste mengatakan: “Ke-12 kartun itu tidak dimaksudkan untuk menyinggung, juga tidak bertentangan dengan hukum Denmark, tetapi mereka telah menyinggung banyak umat Islam, yang karenanya kami mohon maaf.”

Juste berbicara beberapa jam setelah warga Skandinavia diperingatkan agar tidak bepergian ke Gaza dan Tepi Barat setelah Brigade Martir al-Aqsa menuntut agar semua warga Swedia dan Denmark meninggalkan wilayah itu. Satu kelompok militan Irak bergabung dalam protes ketika menyerukan serangan terhadap target Denmark dan Norwegia setelah sebuah surat kabar Norwegia (turut) menayangkan kartun itu.

Bisnis Denmark mengalami ketakutan setelah para pemimpin agama di Arab Saudi, yang pekan lalu memanggil duta besarnya untuk Kopenhagen, menyerukan boikot barang-barang Denmark. Grup perusahaan susu Arla Foods melaporkan bahwa dua stafnya di Arab Saudi telah dipukuli oleh pelanggan yang marah.

Ini mendorong direktur eksekutif Arla, Peder Tuborgh, menekan pemerintah Denmark untuk mengambil tindakan. Tuborgh mengatakan: “Saya mendesak pemerintah untuk melakukan dialog positif dengan jutaan Muslim yang merasa mereka telah tersinggung oleh Denmark.”

Postcomended   Kurang 9.000 Langkah Sehari Dapat Memperlambat Alzheimer

Di tengah suasana inilah, Jyllands-Posten akhirnya mengakui telah melakukan kesalahan, dan menerbitkan permintaan maaf di situs webnya.***


Share the knowledge

Leave a Reply