31 Juli dalam Sejarah: Warga Alabama Bakar Produk-produk Terkait The Beatles

31 Juli dalam Sejarah: Warga Alabama Bakar Produk-produk Terkait The Beatles

Internasional
Share the knowledge

Pada tanggal ini, 1966, warga Alabama yang marah kepada John Lennon karena pernyataannya di satu majalah bahwa The Beatles lebih populer daripada Yesus, membakar produk-produk terkait grup band Inggris ini. Kemarahan dipicu siaran dua disc-jockey (DJ) di satu radio lokal.

Kedua DJ di stasiun radio WAQY itu, Tommy Charles dan Doug Layton, mengaku telah membaca tulisan di DateBook, dan menjadi marah oleh pernyataan Lennon, dan melakukan gerakan memboikot musik Beatles dari saluran udara mereka, laman The Pop History Dig melaporkan.

Stasiun radio yang terdapat di kota Birmingham, negara bagian Alabama ini, menyatakan tidak akan lagi memutar rekaman musik The Beatles; kelompok musik Inggris yang menjadi kaya sebagai idola generasi muda saat itu. Para DJ tersebut mendorong pendengarnya untuk membuang atau membakar rekaman band.

Mereka menyerukan kampanye “Beatles Burn-In” yang akan dilakukan di sekitar waktu tur Beatles terfekat yang akan diadakan di Memphis, Tennessee. Dalam foto yang beredar di media keesokan harinya, kedua DJ ini pun merobek dan merusak album rekaman Beatles dan materi lainnya.

Mereka disebut sebagai yang memulai kampanye “Ban the Beatles”, yang kemudian menyebar ke stasiun radio lain dan aksi protes. Charles khususnya menganggap pernyataan Lennon sebagai “tidak masuk akal dan tidak sopan”. “Sesuatu harus dilakukan untuk menunjukkan kepada mereka bahwa mereka tidak dapat seenaknya melakukan hal-hal semacam ini,” seru Charles.

Charles kemudian mulai membuat pengumuman siaran langsung di radionya yang mengudara setiap jam; mendesak para pendengar WAQY untuk menyerahkan catatan, gambar, majalah, dan cinderamata Beatles mereka untuk membuat “api unggun” Beatles. Stasiun radio lain akan segera menyusul.

Postcomended   Benturan Budaya Disebut Penyebab Ketegangan Hubungan Meghan Markle dengan Kate Middleton

“Siapa pun yang membuat pernyataan tidak sopan seperti itu tidak memiliki tempat di stasiun kami,” kata George Nelson dari radio WRNB di New Bern, North Carolina, yang dikutip dalam Raleigh’s News and Observer 5 Agustus 1966, saat mengumumkan larangan stasiunnya.

Bob Latham dari stasiun WTYC di Rock Hill, South Carolina melaporkan jajak pendapat telepon dari 177 pendukung pelarangan Beatles di stasiunnya, berbanding dengan hanya 10 yang menginginkan musik Beatles tetap lanjut. Stasiun lain yang menggunakan jajak pendapat untuk memutuskan larangan Beatles adalah WORG of Orangeburg, South Carolina, yang menemukan 144 mendukung dan 2 menentang.

Sentimen anti-Beatles pun tumbuh dari sana. Dalam semalam, tampaknya, penggemar Beatles remaja di negara-negara bagian seperti Georgia dan Mississippi memecahkan rekor dengan melemparkan perlengkapan Beatles mereka ke api unggun.

Surat kabar di seluruh negeri segera menyambar berita ini. Pada 4 Agustus 1966, agen berita United Press International, menerbitkan tulisan tentang boikot produk-produk The Beatles, yang isunya kemudian berkembang ke kota-kota lain.

Postcomended   2019 Singapura akan Diramaikan Taksi-taksi Tanpa Pengemudi

Di New Jersey, Camden menulis menggunakan judul: “DJs Ban The Beatles for Lennon Remarks”. News and Observer dari Raleigh, North Carolina, menggunakan tajuk yang lebih deskriptif: “Stations Ban ‘Sacrilegious’ Beatles”. The Republic di Columbus, Indiana, memasang headline: “Christianity Will Go, Says Prophet Lennon; Beatles ‘More Popular Than Jesus’?”

Awalnya hanya Gurauan Lennon

Juru bicara Capitol Records, yang mendistribusikan rekaman Beatles di AS, telah mengeluarkan pernyataan yang menjelaskan bahwa ucapan Lennon dikutip di luar konteks dan telah disalahartikan. “Lennon (hanya) sedang ‘berspekulasi’ pada topik-topik agama Kristen dan rock`n roll,” kata juru bicara itu.

Dia menambahkan bahwa Lennon hanya bermaksud mewacanakan perbandingan terluas. “Dia benar-benar tak bermaksud untuk tidak sopan,” katanya. Meskipun demikian, boikot radio-radio atas Beatles berlanjut.

Awalnya, pada Maret 1966, The London Evening Standard menerbitkan wawancara dengan Lennon yang menjadi bagian abadi dari warisan The Beatles. “Kami lebih populer daripada Yesus sekarang,” kata Lennon kepada jurnalis musik rock, Maureen Cleave. “Saya tidak tahu mana yang akan lebih dulu; rock‘ n ‘roll atau Kristen?”

Laman Slate menyebutkan, semula  tidak ada yang memperhatikan pernyataan Lennon ini. Tetapi ketika versi ringkas tulisan itu diterbitkan di majalah remaja Amerika yang progresif, DateBook, pada Juli, tulisan itu mendadak meledak bak awan jamur.

Postcomended   Facebook Tangguhkan 200 Aplikasi Mencurigakan #FacebookDown

Selain para DJ menolak memainkan lagu-lagu The Beatles, dimana-mana terjadi “api unggun” rekaman grup band asal Liverpool ini, Ku Klux Klan turut ramai memrotes, para pendeta berkhotbah melawan mereka, dan tur kacau The Beatles ternyata menjadi yang terakhir di AS.***


Share the knowledge

Leave a Reply